Tampilkan postingan dengan label sedikit cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedikit cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2017

Lelaki yang Kuat dan Gagah Berani



Anakku, Kaka, waktu ibu menulis ini, esoknya kamu berusia genap 3 bulan. Kelak, ketika sudah bisa membaca, sudah mengerti bagaimana bayi bisa muncul dan terlahir, ibu akan membiarkanmu membaca cerita ini. Cerita tentang kamu. Cerita tentang bagaimana kamu hadir dan mewarnai hidup bapak dan ibu.

Nak, sebenarnya, kalau boleh jujur, bapak dan ibu tidak pernah menyangka akan memilikimu secepat ini. Khususnya ibu. Hehe. Dulu, ketika masih SMA, ibu berniat menikah di usia 28. Ibu juga tak punya bayangan akan memiliki anak. Sebab setahu ibu, berkat cerita omamu, melahirkan itu sakit sekali. Memiliki anak itu menyusahkan sekali. Selepas SMA pun, ibu merasa dunia dan bumi sudah cukup padat, semrawut, dan gila untuk ditambahi lagi populasinya. Sepertinya cukuplah sudah biar ibu dan bapak dan semua orang di sini saja sekarang yang semrawut dan merasakan kegilaan ini. Tapi ternyata jalan ceritanya berbeda. Lagi-lagi ibu cuman bisa mesem dan mbatin, Gaya banget lu Yop dulu, sok idealis.

Nyatanya, ketika ibu bertemu bapakmu dan jatuh cinta, ibu ingin cepat-cepat menikahi beliau. Hehe. Jangankan umur 28, kuliah saja belum lulus. Masih bau kencur, labil, dan embuh. Tenang Nak, pada saatnya nanti kamu akan merasakan perasaan macam ini. Agak gak logis, impulsif, tapi asyik. Jadi kamu bisa memahami posisi dan kondisi ibu waktu itu. Meski pasti sedikit berbeda, karena kamu laki-laki.

Benar saja Nak, setelah ibu dan bapak pacaran cukup lama, 5 tahun waktu itu, akhirnya kami menikah. Seperti yang ibu bilang di paragraf kedua tadi, semoga kamu masih ingat, sejujurnya kamu muncul di luar rencana, Sayang. Bukan tidak diharapkan lho ya, cuman di luar rencana. Tidak diharapkan dan di luar rencana itu sangat berbeda, jadi jangan salah paham ya. Sebagai wanita yang suka anak kecil, kadang ibu ingiiiiiin sekalii langsung bet bet bet punya anak. Tapi kan punya anak tidak segampang itu. Jadi ibu kan tidak semudah itu. Apalagi ibu masih suka haha hehe, main ke sana kemari, masih pengen mengembangkan potensi. Maaf ya, Ka, kalau alasan yang terakhir ini terdengar agak sok yes. Tapi memang begitulah adanya. Mental ibu jujur saja waktu itu masih mental krupuk, yang dicemplungin ke kuah bakso. Ting plekenyik.

Program untuk menunda memilikimu akhirnya jebol, Nak. Metode penanggalan untuk menunda kehamilan, apalagi buat tipe orang yang suka teledor macam ibu sangat tidak dianjurkan. Belajarlah dari pengalaman ibu dan bapak ya. Hehe. Akhirnya ibu positif hamil. Perasaan ibu waktu tahu akan punya kamu itu agak random. Ya sedih, ya takut, ya seneng, ya excited. Kayaknya bapakmu sih sama aja. Coba nanti kroscek sendiri ke bapak. Ibu merasa masa muda ibu sudah benar-benar usai. Oiya, ibu lupa ngasi tahu ya, waktu ibu hamil kamu, ibu berusia 26 tahun. Sebenernya gak muda-muda banget sih, tapi buat ibu itu masih kecepetan. Please jangan tersinggung lho ya, Sayang. Mengertilah.. Tapi kemudian ibu ikhlas Nak. Ibu bersyukur dan senang sekali akan memilikimu. Ibu, yang suka sekali anak kecil ini akhirnya akan punya sendiri. Rasa penasaran bagaimana rasanya punya anak, atau nanti kalau punya anak akan mirip siapa, akhirnya akan terjawab sudah. Lagi pula bapakmu kan emang sudah wayahnya punya anak. Maaf ya, Pak. Sudah diperhalus kok bahasanya. Hehe.

Awal hamil kamu? Sebentar Nak, sabar Sayang. Akan ibu ceritakan.

Lagi-lagi ibu bersyukur karena awal hamil kamu ibu gak merasakan susah yang teramat sangat. Mual iya, lemes, pusing, dan mood swing. Muntah sekali dua kali saja. Itu pun cuman di trimester awal. Dari situ ibu yakin bahwa ibu mengandung janin yang kelak mirip bapaknya. Sebab semasa hamil bapak, simbahmu sama ngebo-nya seperti ibu. Beda dengan oma yang selama hamil 3 anak (ibu, pakdhe, dan tantemu) banyak banget keluhannya.

Setelah 3 bulan hamil kamu, akhirnya ibu dan bapak pergi ke dokter kandungan yang sudah kami sepakati. Lho, kenapa baru ke dokter setelah usia kandungannya 3 bulan, Bu? Nanti ibu ceritakan langsung saja ke kamu, ya. Soalnya alasannya sedikit personal, malu kalau dibaca orang banyak. Di momen itulah ibu dan bapak pertama kalinya melihatmu, Sayang. Kamu yang bentuknya belum jelas, tapi sudah bisa diliat gerakannya. Sepulang dari periksa, ibu sempat menangkap ekspresi bapakmu yang bersinar. Tentu karna tahu bahwa kamu memang nyata ada, hidup, dan bertumbuh. Bisa dikatakan itu momen magis kita bertiga.

Anakku, Bhadrika. Ibu tidak nyidam aneh-aneh ketika mengandungmu. Pengen makan ini itu sih iya, tapi gak susah. Sebelum hamil kamu pun ibu sudah suka pengen makan ini itu. Beruntungnya bapakmu. Ibu juga masih bekerja, menggambar, jalan-jalan, pergi ke sana kemari sendiri, naik motor, nyetir mobil, bahkan sampai usia kandungan 40 minggu. Ibu tahu kamu kuat, seperti arti namamu. Oh iya, ngomong-ngomong soal nama. Lupa waktu kamu usia berapa bulan di perut, ibu dan bapak dengan mudah dan cepatnya menyiapkan dua nama. Dua nama karena kami waktu itu belum tahu jenis kelaminmu. Sebab kamu baru menunjukkan jenis kelamin di usia 7 bulan.

Ibu bilang pada bapakmu kalau ingin memberimu nama dari Bahasa Sansekerta. Dan mungkin hanya sekitar 15 menitan berselancar di internet, kami sudah dapat saja nama yang cocok untukmu. Bhadrika Nagendra. Lelaki yang kuat dan gagah berani. Karena nama itu kami rasa cukup sulit dihafal dan dieja, jadi kami panggil saja kamu dengan nama pendek: Kaka. Terdengar pendek dan cute, kan? Eh, tapi kan waktu itu ibu dan bapak bapak belum tahu kamu laki-laki ya? Jadi opsi kedua, untuk nama perempuan kami memilih nama Dira Ekanta, gadis yang tekun dan bijaksana. Meski pada akhirnya terbukti feeling kami berdua benar karena sudah memanggilmu “Kaka” bahkan jauh sebelum jenis kelaminmu ketahuan.

Sekitar setelah 40 minggu, akhirnya kamu lahir juga, Nak. Jadi jangan salah ya. Sebenarnya, para ibu normalnya mengandung selama 39-41 minggu. Jadi lebih dari 9 bulan, atau malah 10 bulan. Tapi sampai sekarang banyak sekali orang yang bikin lagu, nyebut, ngungkit bahwa wanita mengandung selama 9 bulan. Padahal lebih, dan mengandung selama itu tidaklah mudah.

Begini cerita proses kelahiranmu, Nak..

Hari Kamis, 24 November 2016 dini hari ibu mulai mengalami kontraksi yang durasinya tidak lama, dan interval satu kontraksi dengan yang lain belum terlalu dekat. Itu pun masih terasa seperti kram kram menstruasi hari pertama. Tentu kamu tidak tahu rasanya kram menstruasi hari pertama ya, kamu kan laki-laki. Intinya, kontraksi yang ibu rasakan waktu itu belum terlalu hebat. Masih biasa lah. Ibu sebenarnya sudah berharap bahwa hari itu kamu akan lahir. Sudah gak sabar pengen lihat kamu dan sudah engap dengan perut yang segede semangka. Tapi ternyata setelah beberapa lama, kontraksinya hilang.

Jumat, 25 November dini hari. Kontraksi itu muncul lagi. Seingat ibu sih waktu itu jam 1 pagi. Ibu masih sempat watsapan dengan teman ibu di grup GKI (Gunjing Klub Indonesia) yang cuman berisi 6 orang (nanti ibu kasih tahu kamu siapa saja yang ada di grup itu, hehe) sambil meringis meringis nahan sakit. Sakitnya masih sama, belum banget. Kali ini kontraksinya timbul tenggelam lebih intens, dan durasi sedikit lebih lama. Menurut beberapa instruktur yoga hamil yang ibu tonton di Youtube, ada baiknya waktu kontraksi datang lebih intens dan kuat, si ibu bisa melakukan beberapa kegiatan seperti jalan kaki, mandi air hangat, nungging nungging, atau duduk di gym ball sambil menggoyang-goyangkan panggul. Ibu melakukan yang terakhir. Dari dini hari, subuh, sampai matahari terbit kontraksi itu terus muncul dengan intens. Aduh jangan ditanya berapa menit sekali ya, ibu lupa. Yang inget cuman nyerinya. Bapakmu sudah siaga. Nunggu komando dari ibu doang untuk berangkat ke rumah sakit.

Paginya, pukul setengah 6 pagi, ibu sempat ke kamar mandi untuk memakai pembalut karena sudah mulai muncul flek. Perasaan ibu waktu itu super excited dan agak nervous. Pas balik dari kamar mandi dan mau tidur di kasur, mak pyurrr air ketuban ibu pecah begitu saja. Lumayan banyak, Nak. Segeralah ibu, bapak, dan simbahmu ke rumah sakit. Sampai di UGD dicek oleh bidan sudah sampai bukaan berapa. Pas ibu dengar ternyata belum bukaan sama sekali, mayan dongkol juga sih. Karena air ketuban ibu sudah pecah sebelum waktunya, maka ibu sudah harus berada di ruang bersalin. Kontraksi terus berjalan dan semakin hebat. Bukaan demi bukaan terjadi dengan sangaaaat lambat. Katanya sih memang begitu kalau anak pertama, walau ada juga ibu baru yang mengalami prosesnya dengan cepat.

Di minggu-minggu terakhir ibu sempat berpesan kepada bapakmu untuk melakukan beberapa hal ketika nanti ibu mengalami kontraksi hampir lahiran, seperti mengelus kepala, memijat-mijat halus punggung, mengingatkan untuk mengatur napas, dan memberikan kata-kata penyemangat. Ternyata Nak, pada praktiknya ibu justru tidak ingin disentuh sama sekali. Ibu dengan juteknya menepis tangan bapakmu yang menyentuh-nyentuh atau disodorkan untuk ibu pegangi ketika kontraksi datang dengan hebatnya. Rasanya badan sakit semua, tulang-tulang terasa ngilu hebat. Ibu tidak ingin disentuh dan tidak ingin mendengar suara apa pun. Kalau bisa malah tidak usah ada yang menjaga. Tapi tentu itu tidak mungkin, karena bagaimanapun, ibu tetap butuh pendamping untuk memberi semangat, mengingatkan ibu untuk mengatur napas, nyuapin ibu yang sama sekali gak napsu makan selama kurang lebih 18 jam kontraksi (iya, diisi makanan, yang ada malah muntah), serta ngipasin dan ngelapin keringet ibu yang sejagung-jagung. Dan itu semua bapakmu lakukan dengan telatennya (gantian dengan simbahmu juga btw). Kalau ada wanita yang lihat bapakmu di momen itu, sudah pasti akan termehek-mehek. Beberapa kali ibu bahkan dicium oleh bapakmu di depan para bidan dan dokter. Sayangnya momen romantis itu terjadi di saat genting yang semuanya terasa sama di diri ibu, sakit. Hehehe. Namanya juga lagi proses lahiran.

Memang sudah sepantasnya seorang ibu kesakitan selama proses melahirkan, karena begitulah proses alami persalinan normal. Jadi sebisa mungkin ibu bersabar, menarik napas lewat hidung dan mengembuskan lewat mulut, mendesis, menahan semua itu sampai kamu lahir. Tidak ada kata keluhan, apalagi marah-marah. Ibu berusaha untuk tetap tenang meski suasana jiwa raga tak keruan. Dicoblos 4 kali karena si bidan gak nemu pembuluh darah untuk infus pun ibu pasrah. Sekitar satu dua jam setelah bukaan 8, pukul 19.10 tepatnya akhirnya kamu lahir dengan indahnya. Rasanya nikmat sekali bisa mengeluarkanmu dari rahim ibu. Lega sekali. Awalnya tangisanmu tidak begitu lantang, tapi setelah dibersihkan oleh para bidan, kamu menangis keras sekali. Ibu harus akui, kamu bayi paling tampan yang pernah ibu lihat. Persis bapak, kata simbahmu. Tentu ibu percaya itu. Mungkin ini terdengar aneh, tapi tidak ada keharuan yang muncul ketika kamu lahir. Ibu apalagi bapakmu tidak menangis haru sama sekali. Kami malah senyam senyum girang kayak anak kecil dapat mainan baru. Sungguh momen yang jauh dari suasana melo dan mengharu biru. Apalagi ibu masih harus dapat jahitan cukup banyak usai melahirkanmu. Yes, the struggling isn’t over yet.

Ternyata menjadi orangtua baru tidaklah mudah, Nak. Banyak yang belum ibu apalagi bapakmu tahu tentang seluk beluk perbayian. Kami terlalu menyepelekan dan santai. Benar saja, bulan pertama adalah bulan pontang panting. Langsung searching tiap panik atau ada masalah baru muncul (untung sudah ada internet) dan tanya sana sini. Pontang panting deh. Dari sini kamu bisa belajar, Ka. Sebisa mungkin kamu sudah punya basic pengetahuan tentang bayi, sebelum kamu punya anak. Jangan dong dong blong kayak bapak dan ibu. Pelajari apa yang harus dan tidak boleh dilakukan usai bayi lahir. Pelajari tentang per-ASI-an (jangan salah, laki-laki juga wajib sekali tahu tentang ini). Bagaimana seharusnya merawat bayi dan menjadi suami siaga. Suami siaga berarti suami yang berpengetahuan luas, selalu ada saat dibutuhkan, rela membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, penuh pengertian dan kasih sayang.

Anakku, Bhadrika, dulu, mungkin di masa kakek kakekmu ke atas, kaum pria memang sangat jauh dari urusan ini. Maksud ibu urusan rumah tangga dan anak. Yang mereka tahu cuman terima beres. Kalau ada apa-apa perihal urusan domestik dan anak bisanya cuman nyalahin istri. Yah, seharusnya ibu tak menyamaratakan, karena bisa saja ada beberapa pria yang tidak begitu. Tapi semakin ke sini, ibu rasa, sudah banyak pria yang punya kesadaran akan kesetaraan gender. Bapakmu contohnya. Mereka tidak ragu untuk turun mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Mereka juga membiarkan istri mereka bekerja dan berkarya. Beberapa pria bahkan memilih profesi sebagai bapak rumah tangga. Ibu pikir pada masamu nanti sudah tidak ada lagi isu tentang kesetaraan gender. Yah, semoga saja.

Kaka, terima kasih sudah membaca cerita ibu yang panjang ini ya. Jadi 4 halaman kalau dalam format A4, 9 halaman format A5. Semoga cerita ibu bisa jadi bukti sejarah bahwa kehadiranmu sangat berarti buat bapak dan ibu. Ibu sangat menyukai kenangan, maka ibu mengabadikan ini.  
Anakku sayang, Bhadrika Nagendra, selamat ulang bulan yang ketiga. Ibu percaya, sesuai namamu, kamu akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan pemberani yang semoga bisa berguna untuk sesama makhluk hidup dan alam sekitar. Peluk dan cium.



Kamu usia 3 bulan kurang 1 hari

Senin, 25 Januari 2016

2016 dan 26

Terakhir kali menulis di blog ini tahun kemarin, 2015, bulan September (yah gak lama-lama amat), usia masih 25. Sekarang sudah 2016, sudah 26 tahun, dan sudah menikah! Halah pake tanda seru segala.

Jadi begini, saya sebenarnya mau cerita banyak. Tapi sayangnya kemampuan menulis dan bercerita panjang lebar yang pernah saya miliki dahulu kala, kini berangsur-angsur menghilang. Yah kita lihat aja nanti apakah tulisan ini akan berakhir singkat atau panjang. hehehe

Dimulai dari usai lebaran tahun 2015, saya lupa tanggal persisnya, pada akhirnya Ndoro datang ke rumah untuk melamar saya. Jangan bayangkan acara lamaran yang gegap gempita. Hehe. Ini mungkin model lamaran satu-satunya yang ada di dunia: dia datang hanya berdua (bersama temannya), sebenernya tujuan utama sih menjemput saya balik ke Jogja tapi yah mungkin sekalian aja ngelamar ke ortu (mungkin begitu maksud Ndoro), hanya ada mamah dan adik saya di rumah (kami masak ala kadarnya, tapi tentu tetap maknyus), lamaran berlangsung santai (kayak ketemu temen yang lama gak ketemu), usai ngobrol tentang rencana pernikahan, saya langsung menuju ke Jogja (gila kan?). Hahahaha.

Mempersiapkan segala sesuatu menjelang pernikahan tidaklah mudah. Apalagi kami dari keyakinan dan latar belakang keluarga yang berbeda. Tapi terpujilah Tuhan semesta alam, semuanya berjalan dengan lancar meski berat dan terseok-seok. Tanggal 11-12-15 akhirnya kami resmi menjadi suami istri. yihaaaa! 

Acara pernikahan kami sangat sederhana. Ijab di KUA, syukuran kecil-kecilan di rumah Ndoro di Sidoarum. Hanya ada beberapa teman dekat dan keluarga yang datang. Kami memang berniat tidak mengundang banyak orang dengan alasan males ribet. Rencana foya-foya atau pesta anak muda yang kami rancang pun tidak terlaksana karena suatu hal. Tapi yasudahlah, kami ikhlas dan legawa. Itung-itung hemat untuk kebutuhan usai pernikahan. Cie bijak banget. Hehe. Usai menikah saya sedikit pontang-panting untuk menyesuaikan diri dengan keluarga besar suami. Maklum, selama pacaran saya hanya dikenalkan Ndoro ke Ibuk dan dua adiknya saja. Selebihnya tak ado. Padahal keluarga suami dari Ibuk saja jumlahnya banyak bukan main. Itu belum yang dari almarhum ayah mertua di Lampung sana. Bisa gila kalau ketemu semua. Hmmm.. Ditambah tamu-tamu yang tak kunjung selesai berdatangan sampai beberapa hari usai pernikahan. Niatnya mau nikah dengan tenang, tetep aja enggak tenang. Hehe tapi gak papa, semuanya bisa dilalui dengan lumayan mulus. 

Kini saya tinggal bertiga dengan Ibuk dan suami tentu saja. Rumah Sidoarum ini nyaman sekali: asri, luas, rapi, dan bersih. Saya bahkan diijinkan Ibuk untuk menjadikan bangunan kecil di halaman belakang, di bawah pohon rambutan,  menjadi bengkel saya. Saya dibuatkan rak, dibuatkan penutup jendela juga oleh Ibuk. Seru deh! Bengkel saya di rumah adalah ruang kerja dan bermain saya. Di sana ada koleksi buku saya dan suami, TV, ampli, meja kerja, perkakas menggambar, dan sebagainya. Mirip kos-kosan lah pokoknya, minus kasur aja. Hehe. Saya suka menghabiskan waktu di sana untuk menggambar, bekerja, atau hanya nongkrong. 

Lalu bagaimana rasanya menikah? Hihi, untuk ukuran pengantin baru yang sudah berpacaran 5 tahun dan satu bulanan menikah, kehidupan pernikahan awal-awal bulan ini lumayan menyenangkan. Kenapa? Ya menyenangkan lah, karena akhirnya saya bisa ketemu orang yang saya sayang tiap hari. Dulu waktu pacaran (setelah saya lulus dan kerja terutama) ketemu cuman seminggu sekali dua kali karena kami sama-sama sibuk kerja. Sebagai seorang perindu jelas saya sering tersiksa. Uda kerja capek, gak dapet asupan nutrisi di luar makanan lagi. Heheu. Tapi sekarang saya puas banget bisa ketemu si doi tiap hari, selalu ada orang yang bisa diajak ngobrol bareng langsung (enggak lewat hp), bisa ndusel-ndusel, seru deh. Duh maaf ya geng, namanya juga pengantin baru. :p

Saya bersyukur banget punya suami yang ternyata setelah menikah jadi tambah super lagi. Lebih perhatian, lebih penyayang, lebih sabar, suka menolong yang lemah. :D Saya juga bersyukur punya ibu mertua yang baik dan santai banget kayak di pantai. Bahagia deh. Semoga yang baik-baik ini terus berlangsung tak terbatas dan tak terhingga di kehidupan pernikahan kami dan kita semua. Katakan 'amen', AMEEENN.


Kamis, 03 September 2015

Bisa Aja Ah

Iop: Ayo ah, makan enak
Ndoro: waiki. sabtu biasanya aku dah makan enak og.
Iop: cieee. prikitiw
Ndoro: ekekeke


fyi: Weekend adalah quality time kami berdua. Kegiatan yang biasanya kami lakukan selama weekend : Guling-gulingan, nonton film, dengerin musik, belajar bareng, bahkan malah ngerjain kerjaan masing-masing di rumah. Maklum pasangan sibuk. Hualah!
Memasak juga jadi salah satu aktivitas favorit yang kami lakukan bersama. Makanya, ya gitu deh waktu doi bilang biasa makan enak di hari Sabtu, hihiu, bisa aja ah~~~~ slepret juga ni! :>

Minggu, 14 Juni 2015

Mamah Gajah

Aku masih ingat benar ketika masa-masa awal kuliah aku sering homesick, selalu rindu rumah dan mamah gajah. Sering mewek dan melankolis kalau ingat rumah. Jogja masih sangat asing. Teman masih satu, atau mungkin dua. Belum ada yang bikin betah di Jogja. Aku bahkan punya blog pribadi dan seorang gebetan yang bisa aku temui di dunia maya sebagai pelarian. Ketika teman-teman yang lain akan nongkrong berkelompok, entah makan atau ngobrol bersama ketika istirahat usai kuliah, aku justru menyendiri di ruang multimedia. Berselancar di dunia internet. Menghabiskan waktu di sana. Biasanya nulis blog, nulis email bertukar kabar dengan gebetan, dan main sosial media. Begitu setiap hari. Lha gimana mau dapet teman?

Beberapa tahun kemudian, banyak perubahan mulai muncul. Aku mulai punya beberapa teman segeng. Aku mungkin masih rutin berkunjung ke ruang multimedia, tapi tidak lama, tidak menghabiskan waktu istirahat di situ. Seperlunya saja. Aku juga mulai ikut kegiatan kampus: band-band-an dan pecinta alam. Penyakit homesick masih muncul tapi tidak sesering dulu. Mamah Gajah mulai kehilangan aku.

Aku mulai jatuh cinta, pacaran dengan si ini dan si anu, dan aktif di kampus. Menjelajah tempat-tempat keren dalam acara pecinta alam. Melakukan banyak hal yang seru, tak terlupakan, berbahaya, dan luar biasa yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Sekarang aku bahkan rindu sekali melakukan hal memacu adrenalin atau sekadar tracking di alam terbuka. Sungguh, rindunya membayang-bayang.
Aku juga aktif band-band-an. Aku belajar nyanyi, belajar main beberapa instrument: drum, gitar, dan mencoba berbagai lagu. Manggung di kampus sendiri, di kampus orang, dan di panggung lumayan besar di mana anak-anak kampus lain nonton juga. Selalu nervous dan sakit perut ketika mau manggung, tapi aku menikmatinya.

Aku mulai jarang pulang, mamah gajah semakin jauh. Kami mulai jarang komunikasi, jarang ketemu, sering berantem. Mamah gajah mulai sering sekali bilang “Kamu berubah”. Yang tentu saja menurutku, kalimat itu punya arti yang tak enak. Aku mulai malas membalas smsnya. Hubungan kami jadi berjarak.
Tentu saja posisi mamah gajah sudah tidak lagi seperti dulu. Mamah gajah bukan lagi pelarian pertamaku, atau orang pertama yang aku tuju ketika sedang senang atau sedih. Aku merasa sudah cukup dewasa untuk bisa lepas dari bayang-bayang seorang ibu. Aku merasa sudah saatnya dilepas untuk segala pilihan yang kuambil. Terutama ketika aku sudah lulus, mulai bekerja, dan menjalin hubungan serius dengan seseorang.
Hampir semua kucurahkan untuk kehidupan di Jogja. Untuk pekerjaan, untuk teman, untuk kekasih yang sangat aku sayangi. Aku sangat keras kepala untuk banyak hal, termasuk soal asmara. Mamah Gajah kehilangan aku.

Sampai suatu hari aku mengambil keputusan besar. Beberapa kali kami adu argumen karenanya. Sebagai seorang ibu yang telah membesarkanku, tentu mamah gajah merasa sangat berat untuk merestui dan menghargai keputusan yang aku ambil. Waktu berlalu, aku menunggu, mamah gajah menunggu. Kami melunak. Hubungan kami mulai membaik. Mamah gajah merestui dan menerima keputusan yang aku ambil. Dia bahkan mendukungku penuh, bertanya apa rencanaku ke depan, dan mendengarkan dengan tekun mimpi-mimpi yang sudah aku bangun, dan perasaan-perasaanku.

Aku tahu persis cintanya tidak pernah berubah. Cinta seorang ibu kepada anaknya. Pagi ini, ketika bangun tidur dan menyalakan hp, aku mendapat sms darinya. Mamah gajah bercerita kalau dia baru saja dilecehkan orang ketika sedang gowes (bersepeda) jam lima pagi ini. Mungkin aku tidak cukup kaget mendengar ceritanya karena terlalu banyak cerita ngeri yang sekarang beredar. Tapi aku marah, sangat marah karena orang yang aku sayangi dan selalu mendukungku disakiti. Aku hanya bisa mengetik kalimat, “Astaga, ati-ati mah, besok lagi jangan gowes jam segitu. Bahaya!” yang mungkin saja belum mampu menenangkan perasaannya yang pastinya shock dan emosi berat.

Pagi ini aku menulis, setelah begitu lama tidak menulis. Aku berdoa agar setiap orang yang aku sayangi selalu dilindungi Tuhan. Untuk mamah gajah, untuk kakakku, adikku, papahku, ndoro, dan teman-temanku. Aku akan melindungi mereka yang aku sayangi. Aku akan berusaha meluangkan waktu lebih banyak untuk mereka dan berjanji akan selalu ada ketika mereka butuh.  

Untuk mamah gajah, terima kasih mah sudah menjadi ibu yang luar biasa. Mamah adalah satu dari satu juta. Seorang ibu yang memiliki jiwa yang begitu besar. Suatu hari ketika aku punya anak, aku ingin jadi ibu seperti mamah. Yang kuatnya melebihi logam paling kuat, dan yang cintanya besar melebihi alam semesta. You know I always love you, Mom.



Selasa, 10 Maret 2015

Tentang Apa Saja

Kali ini aku mau menulis tentang apa saja. Apa saja yang terlintas, apa saja yang sudah kualami, apa saja yang ingin aku lakukan, dan apa saja yang kurasakan. Pokoknya apa saja. Random ya? Iya, biarin. Mungkin dibuat poin aja kali ya biar kesannya lebih rapi (padahal tetep random). :p

1. Hampir sebulan sejak aku pindah kantor. Hanya pindah bangunan saja sebenarnya, masih di perusahaan yang sama. Masih mengedit dan berkutat dengan tulisan-tulisan orang. Senang? Jujur saja lebih senang. Lokasi lebih dekat, tinggal berjalan kaki untuk menuju kantor. Selain go green dan hemat, badanku rasanya sehat sekali. Setiap hari berkeringat. Bukan hanya berkeringat karena terik matahari dan karena kadang udaranya gerah, tapi karena aku rajin bergerak. Berjalan pulang pergi kerja, mengangkut beberapa kardus buku naik turun tangga, dan lain-lain. Baru kusadari banyak gerak bikin aku lebih bahagia. Aku juga bisa ngantor dengan celana pendek atau rok tanpa takut betisku terbakar. Hahaha! Oya, selain itu, aku juga jadi kenal lebih banyak orang baru karena kantor kami berdampingan dengan Dongeng Kopi. Rame dan lebih seru.

2. Aku belum cerita di sini ya, kalau meja belajar sekaligus meja kerjaku baru? (Baru 3 bulan) Hehehe. Fyi, aku cinta sekali dengan meja kerjaku. Sungguh tepat keputusanku untuk membeli meja kerja itu setelah galau cukup lama. Meja kerjaku adalah segalanya setelah seperangkat gadget, buku, sepatu, dan alat gambarku. Dia cinta kesekianku. Aku bisa menghabiskan berjam-jam di meja kerjaku, mengedit, menggambar, belajar, nonton film, berselancar di dunia maya, membuat lagu, merindukanmu. Hehehe. Aku punya dunia sendiri dan tenggelam di sana. Rasanya bahagia saja punya kehidupan, aktivitas, dan pelarian sendiri di luar pekerjaan, pertemanan, dan asmara.

3. Sekarang, aku sedikit-sedikit belajar untuk tidak terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan atau bicarakan tentangku. Tentu saja yang negatif. Tidak mau terlalu sensitif dan takut jika dimusuhi, dikritik, atau diolok-olok. Aku berniat untuk memperlakukan orang seperti dia memperlakukanku. Sebab sudah terlalu sering sakit hati dan dongkol karena memperlakukan orang layaknya memperlakukan diri sendiri. Hahaha! sakke.

4. Sepertinya sejak aku kenal kamu, aku jadi males neko-neko. Rasanya ingin jadi orang yang biasa-biasa saja. Aku gak mau terlalu ngoyo untuk bisa kaya, sukses, atau dikenal banyak orang. Aku gak mau lelah mikirin bagaimana mencapai puncak karier atau masa depan yang gilang gemilang. Aku hanya mau terus melakukan apa yang aku senang, menjalani hari dengan penuh semangat, dan berusaha tidak menyusahkan orang lain. Syukur kalau dengan melakukan apa yang aku senang, itu bisa bikin orang lain senang pula. Syukur lagi bisa lebih banyak memberi.

5. Kalaupun kelak aku punya duit banyak dan bisa beli apa saja, aku harap kakiku masih selalu berpijak di tanah. Semoga aku bisa selalu rendah hati apa pun keadaannya dengan apa saja yang aku miliki.

6. Aku berharap aku bisa selalu menjaga ritme dan jadwal menggambarku. Aku ingin lebih sering menggambar, membaca, menyanyi. Eksplor lebih banyak lagi.

7. Oiya, Sabtu yang lalu akhirnya aku selesai membaca sebuah novel yang menurutku oke sekali. Judulnya AMBA karya Laksmi Pamuntjak. Rasanya sudah lama sekali tidak menghabiskan satu novel berkualitas karya penulis Indonesia. Menurutku, meski tempo ceritanya lambat dan agak datar di awal, novel ini keren kok. Bikin pembaca jadi emosional dan kebawa alur ceritanya. (Karang yo cah drama cinta-cintaan :p) Konon ada yang menandingi novel ini, kata seorang kawan. Dengan tema yang mirip-mirip, tapi katanya sih lebih realistis. Tidak sedrama "AMBA". Judulnya "Pulang" karya Leila S. Chudori. Belum baca nih, kudet banget. Mungkin kudu beli novelnya dulu kali ya. Beliin dong, hihi :p

8. Masih sering dan selalu kangenan. Yah begitulah. :')


Senin, 19 Januari 2015

Kembalinya Anak yang Hilang

Akhir pekan kemarin adalah akhir pekan yang menyenangkan. Salah satu hal yang membuatnya berkesan adalah karena kembalinya si 'anak yang hilang'. Si 'anak yang hilang' ini adalah kawan baikku. Meski suka mutung, hatinya sangat baik. Kami sering pergi bersama, kadang hanya berdua, kadang bersama kawan yang lain, ke mana saja. Lebih sering makan bersama. Dia ahli sekali soal kuliner nyelempit. Dan aku suka sekali makan enak dan dibawa pergi ke mana saja. Semakin jauh semakin senang. Apalagi jika aku belum pernah ke tempat itu sebelumnya. Itulah latar belakang pertemanan kami. Jalan-jalan jauh, untuk makan enak. Meski tentu juga tidak jarang bahwa kami, satu sama lain sering minta ditemani untuk urusan di luar jalan-jalan dan makan-makan.

Beberapa waktu yang lalu ia sempat menghilang. Yang kutahu, dia mutung padaku karena menurutnya aku hanya menghubunginya ketika butuh. Meskipun tentu saja aku tidak pernah punya maksud demikian. Sejak kutahu dia mutung denganku, aku tak pernah menghubunginya. Tentu aku juga dongkol karena aku dianggap seperti itu. Tapi aneh, berbeda dengan orang lain yang dia mutungi, sesekali aku masih dihubunginya. Terakhir kali, dia justru ke kontrakanku, minta tolong untuk mengobati lukanya, karena dia habis jatuh di jalan.  Singkat cerita, tak lama setelah ia menghilang dariku ia juga menghilang dari teman-teman yang lain. Tak ada yang tahu ada apa dengannya  dan ke mana dia. Paling kami hanya dengar kabar sedikit bahwa dia sedang berbisnis. Tapi selalu tak jelas.

Setelah acara menghilang yang cukup lama dan misterius, kami dipertemukan kembali. Waktu itu untuk acara jagong nikahan kakak kelas di luar kota, dan yang terakhir kemarin hari Minggu. Hahaha lucu saja sih. Ketika dia datang ke kosku, aku masih kucel belum mandi, sedang menikmati me time dengan makan gudeg basah dan menonton ulang Running Man tanpa bosan. Tak lama kami basa-basi menanyakan kabar, dia mengajakku makan. Aku yang masih kenyang karna baru saja selesai makan gudeg basah tentu saja enggan. Tapi tak tega juga sama doi yang belum sarapan sedari pagi. Akhirnya aku mau menemaninya makan, ke mana saja terserah, asal aku tak perlu mandi dulu. Hehehe, hari libur meeenn.

Dia bilang bahwa kami akan makan di tempat yang sangat jauh. Dan aku menyanggupi. Dia bilang aku tidak boleh mengeluh karena sudah menyanggupi. Sial, dipikir sini tukang ngeluh pa ya. Anyway, kami akhirnya meluncur. Sepanjang jalan aku bertanya-tanya dalam hati, ke mana aku mau dibawanya. Sampai perempatan ringroad selatan jalan paris, aku bertanya,"Kita mau ke Mbah Marto po?" Dia bilang enggak, lebih jauh lagi, katanya. Aku tanya lagi,"Aku udah pernah?" Dengan yakin dia menjawab belum. Oke fine. Karena aku suka kejutan. Aku manut saja. Anteng.

Agak salah kostum karena aku mengenakan celana pendek dan sepatu sandal karet. Aku tidak menyangka bahwa selatan saat itu cukup panas. Lumayan meringis nahan panas sih. Tapi tetap aja stay cool dalam perjalanan. Untung juga pemandangan kanan kiri adalah hamparan sawah hijau yang menghanyutkan. Masuk Kabupaten Bantul aku mulai rileks, suka sekali suasana jalan raya utamanya. Banyak sekali pohon yang menaungi. Jadi ingat, pertama kali aku lewat jalan rindang Bantul itu adalah dengan seseorang. Melarikan diri dari Jogja yang penuh abu paska erupsi merapi untuk menuju Pantai Samas. Seingatku itu adalah hari terindah sepanjang hidup. Hehehehe

Mungkin karena sudah sangat lapar atau karena jalanan sepi, kawanku ini memacu motor kencang sekali. Aku sempat ketakutan, dan memegang pundaknya. Berdoa dalam hati semoga kami bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat. Dan syukurlah, kami sampai di tempat tujuan dengan selamat. Warung Makan Pak Wid, spesial bebek goreng, ayam goreng, dan menthok. Di situlah aku mengenal bebek goreng terenak yang berbeda dari bebek goreng yang pernah kumakan. Cukup garing, tapi tidak terlalu kering. Dagingnya lembut sekali, gurih, dan yang unik ada rasa manis yang muncul setelah dikunyah. Maaf ya, jangankan kalian, aku yg menulisnya saja tersiksa. Entahlah kapan lagi bisa ke sana.

Suasana warung Pak Wid yang sejuk dilengkapi pemandangan hijau sawah menyempurnakan menu makan siang kami. Usai makan, kami ngobrol ngalur ngidul. Akhirnya aku tau ke mana saja kawanku selama ini. Setelah cerita panjang lebar, aku baru ngeh kalau ternyata kami punya satu kesamaan. Sama-sama sensi soal janji. Hahaha. Cuman bedanya dia bisa mengekspresikan kedongkolannya pada seseorang yang mengingkari janji dengan jurus mutung dan menghilangnya. Sedangkan aku, hah! cuman bisa memendam, sok-sokan bilang yawis gpp pada diri sendiri dan orang lain, padahal tenggorokan rasanya kayak kejepit pintu. Mungkin kelak umurku tidak bisa panjang mengingat kebiasaan jelek yg satu ini. heuu~

Pulangnya, setelah hampir kering dan kemripik karena disengat matahari di selatan, sampai Gejayan kami diguyur hujan super deras. Padahal sedikit lagi sampai kosan. Kawanku hanya membawa jas hujan egoisnya. Walhasil aku basah kuyup. Tapi entah kenapa menyenangkan sekali acara hujan-hujanan kemarin itu. Sampai kosan aku mandi besar. Lalu melanjutkan cerita-cerita kami yang lain lagi.

Ketika hujan mulai reda, dan hari sudah sore dia pamit pulang. Senang rasanya anak yang hilang kini sudah kembali. Senang juga weekend ini berjalan seru dan tidak sepi karna ada seorang kawan menemani. Semoga dia selalu baik-baik saja, semoga tugas akhirnya sukses. Amin.





Minggu, 21 Desember 2014

Adit

Dulu waktu SMA pernah suka sama seorang cowo. Teman sekelas. Sesuai dengan karakterku, menyukai lelaki sepantaran itu tidak biasa. Tapi kalau sampai itu terjadi, berarti lelaki itu benar-benar spesial. Tentu saja spesial menurutku. Gak perlu ganteng ataupun kece seperti lelaki-lelaki lebih tua yang kutaksir, tapi harus menyenangkan. Nah, si Adit ini demikian. Dia teman sekelasku yang menyenangkan.

Waktu itu kelas tiga SMA. Kami bisa dibilang satu geng gitu. Geng gong. Hehehe. FYI, satu geng isinya tiga orang cewek dan dua orang cowok, termasuk si Adit. Yang menarik dari dia? Sebentar, sabaaar. Mungkin aku gambarkan dulu dia secara fisik. Tidak ganteng sih, tidak tinggi juga. Rambutnya lurus, hitam. Kulitnya coklat. Kalau tertawa lucu sekali. Gigi depannya tidak rapi, jadi kadang suka tampak rada mrongos, padahal tidak juga. Orangnya hangat sekali, kayak hape lagi dicas. Hehe.

Dia anaknya sederhana. Motornya waktu itu Honda Astrea jelek. Seragamnya juga tidak putih bersih apalagi dari bahan kain yang mahal. Kupikir memang dari keluarga sederhana. Baru setelah cukup lama kenal dia dan main ke rumahnya, aku baru tahu dia anak orang kaya. Rumahnya besar dan bagus banget. Sempat kaget aja sih, gak percaya. Padahal dia bisa saja tampil kece kalau dia mau, bisa bawa mobil kalau ingin terlihat wow seperti teman-teman borjuis yang lain. Tapi itu yang spesial dari Adit. Dia sangat rendah hati dan sederhana. Dia juga tenang, gak seperti cowok lain yang suka ribut, slengean, sok jagoan, sok kegantengan dan sok-sok yang lain. Emang kelihatan cupu dan gak jantan sih, tapi tetap menarik kok. Lagi-lagi menurutku. HAHAHA. Yang aku suka dari dia, cukup banyak. Selain kalem, tenang, gak pernah kelihatan sedih, dan gak neko-neko, dia itu, lagi-lagi hangat dan perhatian. Aku paling suka ketika kami sedang mengobrol dan bercanda, dan aku sedang melucu atau menggoda dia, dia tertawa sambil mengusap-usap kepalaku, kadang ketika dia begitu gemas, dia tidak segan untuk membuat rambutku acak-acakkan. Dia juga tak jarang merangkulku. Bikin meleleh saja. (seperti anjing, aku selalu suka usapan atau sentuhan di bagian kepala. Suka sekali.) Dan satu lagi, dia selalu harum. Enak sekali baunya. Sempat penasaran waktu itu dengan parfumnya. Baru kemudian kutahu kalau dia pakai parfum Bellagio. Parfum lho ya, bukan cologne.

Dia bahkan punya panggilan khusus buatku, yaitu Yuyup. Sebagai cewek normal yang suka cute little things siapa yang gak termehek-mehek coba? Aku malah lupa panggilan khususku buatnya. Nama kecilnya jika di sekolah sih, Otong. Tapi aku benar-benar lupa nama panggilan kesayangan apa yang kusematkan untuknya. Payah. Dia juga sering mengataiku atau memanggilku "dudut". Rasanya rela saja waktu itu dipanggil "dudut" kalau sama dia, meski jutaan kali.

Oiya, dia pandai sekali bermain gitar. Berbeda dengan kebanyakan teman cowokku yang lebih suka musik rock, dan memainkan distorsi ketika ngeband, si Adit lebih suka lagu easy listening. Dia piawai bermain gitar akustik, petikannya aduhai. Aku suka sekali melihat dia bermain gitar, melihat jari-jarinya menari. Apalagi kalau memainkan musik klasik. Kadang aku suka sok manja minta diajarin petikan atau gitaran lagu-lagu ini dan itu, biar aku bisa melihatnya bermain gitar secara eksklusif, dan dekat-dekatan. Biarin, aku memang hina.

Semakin lama, aku semakin suka padanya. Dan si Adit ini, entahlah. Hingga suatu hari, aku tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Sakit biasa sih, demam gitu. Pas lagi tidur-tiduran, si Adit sms. Dia nanya kenapa aku gak masuk sekolah. Seperti biasa dia mengolok-olokku. Aku sih bahagia saja diolok-olok sama dia. Hmft, males. Sampai tiba-tiba kuberanikan untuk bilang 'suka' ke dia. Dengan bahasa yang nyantai sih. Seingatku, aku bilang gini,"Dit, kamu tau gak sih kalau aku suka kamu?" Setelah aku kirim smsku waktu itu, aku langsung nervous, tapi masih terkondisikan sih. Entah, mungkin karena sedang gak enak badan, bisa juga karena aku tahu Adit gak mungkin jahat kalaupun dia gak suka padaku juga. Dan tidak berapa lama, dia balas smsku. Katanya (seingatku), "Iya, pakdheku, tanteku, omku, mamaku, papaku, juga suka aku."
Usai membaca balasan smsnya, aku tidak patah hati atau menangis. Aku justru tertawa. Dan kemudian tidur lagi. Bagiku, itu jawaban paling keren yang pernah aku dapat ketika bilang suka ke cowo.

Esoknya pun kami biasa saja. Masih hore-hore kalau bertemu, masih suka saling mengolok, dan dia masih suka melancarkan jurus mengusap-usap kepalaku dan merangkulku. Aku masih suka ngrampok hp-nya, untuk kubuat mainan dan selfie. Masih suka sok-sok an minta diajarin bermain gitar untuk lagu tertentu.

Hingga suatu hari, aku, beberapa kawan, dan Adit janjian untuk latihan band bersama. Waktu kami sudah kumpul semua, dan Adit belum datang, aku gelisah. Gelisah kangen sebenarnya.Hehehe. Lalu kutanya salah satu kawan, kemana si Adit ini. Lalu kawanku menjawab bahwa Adit nelat karena harus menjemput pacarnya dulu. Hari itu aku patah hati. Tidak sampai membuatku menangis sih, cuman sedih saja karena dia ternyata sudah punya pacar. Dan pacarnya HOT sekaleeeeeee. Hahahaha. Sial. Baru sekarang aku tahu itu yang namanya di-friendzone-in. 

Pagi ini entah kenapa, jadi teringat si Adit usai baca komik Sunset on Third Street dan pipis di kamar mandi. Padahal komiknya juga gak ada hubungannya sama dia. Kadang memori dan kenangan suka aneh, suka muncul tiba-tiba seperti mas kos nagih listrik. Trus ya kutulis saja, menarik soalnya untuk diceritakan.

Sekarang, entah sudah berapa tahun tidak ketemu Adit, dan entah kapan juga ketemu dia terakhir kali. Sepertinya pas nunggu ngambil ijazah SMA. Aku bahkan sudah lupa nama lengkapnya. Jadi gagal untuk mencari jejaknya di dunia internet. huhuhu. Semoga dia selalu sehat dan bahagia. Semoga dia selalu jadi Adit yang sederhana, rendah hati, hangat, dan menyenangkan.

Duh jadi kangen sama seseorang yang hangat, sederhana, dan perhatian juga. uhuk keselek mouse. Hehehe.
Selamat hari Minggu ya! 

Jumat, 19 Desember 2014

MENIKAH

Semalam, sebenarnya dimulai sejak sore. Aku dan beberapa kawan dekat makan bersama. Ada yang sedang ulang tahun dan berbaik hati menraktir. Tadinya kupikir akan menyenangkan karena kumpul bersama dan apalagi ditraktir makan. Jarang-jarang acara ini terjadi. Kumpul bersamanya, ditraktirnya juga. Apalagi kami sudah punya kesibukan masing-masing. Tapi memang menyenangkan sih jadinya. Hehehe. Apadeh.

Topik yang diobrolkan ketika kumpul sepertinya selalu klise, sesuai umur dan kesibukan. Dulu waktu kuliah, ketika kumpul yang dibicarain gak jauh-jauh dari soal perkuliahan. Ngomongin dosen lah, akademik  lah, skripsi lah, tugas lah, gosip terbaru, ya seputaran itu paling. Tentu saja kini sudah banyak berubah. Beberapa dari kami sudah bekerja, beberapa masih sekolah tingkat lanjutan, ada yang baru saja lulus tingkat lanjutan, sisanya belum lulus dan sedang bekerja. Hehehe.

Karena sudah seperempat abad dan sudah kedaluwarsa jika membicarakan perkuliahan, maka topik malam tadi sedikit naik tingkat. Bukan naik tingkat ding sebenarnya, cuman disesuaikan sama umur dan, dan apa ya, dan pikiran orang pada umumnya di usia segitu. Ah ribet. Intinya topik semalam itu didominasi oleh topik tentang pernikahan dan film Senyap. Hehehe. Lalu?

Jadi kawanku yang berulang tahun ini akhirnya memutuskan untuk menikah tahun depan, dan depannya lagi. Dua tahun lagi maksudku. Dan baginya, ini sebuah pencapaian. Mengingat selama berpacaran bertahun-tahun dan diajak menikah berkali-kali oleh pacarnya dia selalu menolak. Jadi mungkin ia akhirnya lega karena berani memutuskan menikah dua tahun lagi. Atau senang karena dua tahun lagi akan menikah. Akhirnya yaa…. Lalu satu kawanku yang lain juga sedang membicarakan pakaian dan persiapan pernikahan gitu deh. Tipikal wanita pokoknya, rumpik cyiiin! :D

Btw, kami sempat berbincang agak serius tentang pernikahan. Pandangan kami tentang pernikahan begitu. Bukan kehidupan setelah pernikahan sih. Lebih ke menikah itu sendiri kali ya.  Edun, opo jal? Dari satu tema itu saja, ada beberapa pandangan yang muncul. Ada kawan yang bilang bahwa menikah atau pernikahan adalah siklus hidup, ada yang bilang itu keharusan, kewajiban. Ada juga yang tadi bilang menikah adalah sebuah achievement atau pencapaian. Apa saja boleh laaah kalau sama saya mah. heu

Kalau kamu tanya apa itu pernikahan menurutku, simpel aja sih. Ada dua, ini juga jawabnya gak mikir lama. Ngasal. Entah kenapa aku pikir, pernikahan itu adalah sebuah pilihan dan juga hoki. Sederhana aja, karena ada orang yang ingin menikah, dan ada yang tidak. Jadi pernikahan itu bisa kusebut sebagai pilihan. Sedangkan kenapa hoki. Lha iyalah. Kalau kita sudah memilih akan menikah, tapi ternyata gak nemu-nemu pasangan gimana? Kan gak hoki namanya. Ataupun kalau sudah punya pasangan tapi ternyata malah pasangannya gak mau nikah atau malah embuh. Kan tambah gak hoki tho? Mesakke, hiks.

Itu tadi jawaban ngasal yang simpel aja sih. Karena gak semua orang punya pandangan yang sama, gak semua orang punya keinginan yang sama, yaitu menikah. Sempat gak enak juga tadi karena beberapa teman masih jomblo, dan beberapa sindirian muncul (ke guwe :p). Tapi  selalu ada pelajaran sih yang bisa dipetik dari setiap pertemuan kami. Untuk kali ini hikmahnya agak maksa. Seperti hikmah-hikmah sebelumnya. hehee

Memang ya, sebagai seorang wanita, dilamar, diajak menikah, dan akhirnya menikah adalah sebuah kebanggaan, kebahagian yang luar biasa. Gitu sih denger-denger. Hehehe. Tapi sekali lagi, gak semua orang berhoki dan punya pandangan yang sama lho. Jadi ya, gimana ya. Yagitu deh. Sewajarnya aja kali ya. Lebih menghargai orang lain aja. Hahahah opo yop rak cetho! :p


Ya pokoknya, sebagai perempuan aku bisa mengerti. Dan ikut berbahagia tentu saja dong kalau ada teman yang berbahagia. Ya kan ya kan? Yawis lah, kerja dulu ah. Demi sesuap nasi. hehehe   

Senin, 01 Desember 2014

TAKUT

Dulu waktu kecil, tak banyak hal yang membuatku takut. Beberapa hal yang aku takutkan kadang hanya sepele. Takut terlambat sekolah, takut kekenyangan karena bisa muntah, takut hujan karena rumah selalu bocor ketika hujan, takut dimarahi. Sudah. Tapi semakin dewasa, rasanya kok semakin banyak hal yang kutakutkan ya? Cuman aku atau memang semua orang mengalaminya sih?

Kemarin, ketika hendak membeli makan di sekitaran kos, aku memutuskan jalan kaki. Ini jarang terjadi lho, aku kerap menggunakan motor untuk beli makan. Rasanya malas saja, sudah lapar, disuruh jalan kaki, masih harus nunggu makanan dimasak dulu, lalu jalan kaki lagi untuk pulang. Selak mati kelaparan. hehehe. Tapi kemarin itu beda, belum terlalu lapar, dan hari yang sore, hampir magrib, ditambah sehabis hujan rasanya menyenangkan. Akhirnya aku berjalan kaki. Gak terlalu jauh sih, paling seratus meter (ngarang). Berangkatnya masih santai-santai saja, sebab jalanan yang kulewati sepi sekali. Sampai di ujung jalan baru kutemui seorang bapak-bapak belum tua yang sedang teleponan. Pakai singlet dan celana hitam panjang. Kulihat, mau kusenyumin, lha kok matanya melotot seakan-akan mau bilang,"Ape lo liat2?!". Cuekin saja ah, batinku, aku lalu memalingkan pandangan dan melanjutkan perjalanan.

Lingkungan kosku yang baru ini memang sangat berbeda dengan kontrakanku yang lama. Sepi, tak banyak orang dan kendaraan lalu lalang, variasi penjual makanan pun juga minim. Syukurnya dekat dengan toko, bengkel, tukang jahit, rumah sakit, sama kantormu. Ehem ihik.

Pulang dari membeli makan, aku menyusuri jalan yang kulalui ketika berangkat tadi. Karna hari mulai gelap, aku agak was-was. Soalnya di sebelah barat kosanku, masih banyak tanah kosong yang berisi pohon-pohonan, rumput ilalang tinggi, semak-semak. Pokoknya gak jelas gitu. Kalau malam suasananya gelap dan senyap. Aku suka merasa insecure kalau ngelewatin daerah yang gelap, banyak pohon, dan sepi. Beberapa kali lewat di jalan ini selalu naik motor, yang sebel ya suka ada tikus gede banget lewat. Iya, itu salah satu hal yang paling aku takutkan, jijik, dan benci. Asli gak boong!! hih!!

Dan benar saja, tengok sana tengok sini, langkah kaki kubuat bersuara dan berisik supaya tak ada tikus yang tiba-tiba lewat. Eh, lha kok malah liat tikus werog gede banget lagi di semak-semak. Sudah pasti aku terkejut dan buru-buru lari menjauh dari jalan itu. Beberapa meter sebelum sampai kosan, tiba-tiba banyak memori yang bermunculan di kepala. Tentang ketakutan. Kini di usia 24 tahun, banyak sekali yang kutakutkan:
Takut ketinggian. Sempat jatuh ketika panjat tebing, jatuh beberapa kali di anak tangga, dan di tangga bambu, kematian seorang bapak di sekolah kakakku yang hanya beberapa meter dari sekolahku karena terjatuh dari tiang bendera, membuatku suka berpikiran jelek sekali ketika berada di ketinggian dan melihat orang memanjat.
Takut jalan gelap yang sepi. Pernah diikutin orang asing sih di jalan sepi. Tapi untungnya gak kenapa-kenapa. Tambah takut lagi ketika banyak kasus pembacokan misterius di Jogja. Dih, ngeri banget kalau denger cerita-ceritanya.
Takut tikus dalam bentuk apa pun. Besar, kecil, hidup, mati. Selalu terkaget-kaget sekaget-kagetnya kalau nemu di jalan. Tak lupa misuh-misuhnya. DAFUQ
Takut kebelet pipis ketika perjalanan jauh. Bisa gak minum dan rela berhaus-haus ria daripada kebelet pipis dan busnya atau keretenya lagi asik-asiknya jalan.
Takut hantu. Wah kalau ini biasa ya. Tapi bener deh, orang yang pernah punya pengalaman dengan makhluk-makhluk dunia lain pasti punya ketakutan yang sama. Dulu aku gak terlalu percaya dan cuek aja. Sekarang, bisa keringetan dan kaku mendadak kalau ngerasa horror.
Takut ditolak sama ditinggalin orang terkasih. Ya gimana lagi, ditolak dan ditinggalin itu sakit je! sakitnya tuh di sini! (sambil nunjuk2 toket, eh dada :p)
Takut Minthi mogok, takut kesepian, takut sakit, takut sama orang dewasa rese, takut tanggal tua. Hehehe

Aku yakin setiap orang punya ketakutannya masing-masing. Kita gak boleh menghakimi ketakutan orang lain, karena mereka pasti punya alasan dan cerita di balik ketakutannya tersebut. Ada baiknnya membantu orang lain mengatasi ketakutannya bukan mencemoohnya. Tapi kalau takutnya ngeganggu orang lain dan lebay sih omelin aja. Jangan ragu. Hehehe. Oke, cuman mau cerita itu aja. Seneng bisa berbagi ketakutanku yang mungkin cuman satu atau bahkan gak ada orang yang pernah kuceritain. Sekarang jadi tahu kan kalian... cieeeee merasa spesial~~ :p

Jumat, 05 September 2014

WISANGGENI

Minggu 31 Agustus 2014 lalu adalah pertemuan kami yang kedua. Baru dua kali bertemu namun sungguh mencuri perhatian.

Sehari-hari aku bekerja sebagai editor di paruh waktu, dan perindu di penuh waktu. Ya tentu saja merindukan kamu. Siapa lagi. Tapi ini sungguh aneh. Bukan, posisimu tidak tergantikan Sayang, tenang saja. Cuman ada satu sosok lagi yang nyempil dan juga sering kurindukan di penuh waktuku tadi selain kamu. Mesti kami tak banyak mengobrol, tapi rasanya seperti sudah lama kenal dan sudah sering bertemu.

Namanya Wisanggeni. Yah, sebut saja Wisang. Dia tak pandai berbicara. Badannya kecil tapi larinya kencang, makannya lahap, murah senyum, cantik seperti wanita padahal laki-laki, tak mudah menangis, dan suka tertawa. Pokoknya menarik deh! Kamu juga kan yang mengenalkannya padaku. Jadi jangan cemburu. Hihihi

Sebelum kami bertemu, pakdhenya yang tidak lain tidak bukan adalah kamu (hehe), cukup sering membahasnya. Si Wisang ini mukanya mirip aku waktu kecil, Iop.. Begitu katamu, sambil menunjukkan fotonya di fesbuk. Waktu itu yang kulihat di layar adalah bayi gemuk dengan rambut lebat hitam yang menggemaskan. Yah, percaya gak percaya sih kalau itu mirip kamu. :p

Yang jelas Wisang yang sudah dua kali ini kutemui tampak cukup berbeda. Badannya tak segemuk dulu, rambutnya tampak tak selebat foto bayinya, dan cantik! Iya, cantik seperti gadis cilik. Hobinya? Eum, banyak. Mengimitasi gaya dan perilaku orang dewasa, mengotak atik apa saja, berlari ke sana kemari, nyanyi nyanyi sedapatnya, meminta gendong pakdhenya, dan masih banyak lagi. Ada satu kebiasaannya yang paling membuatku sering sakit rindu padanya, yaitu hobinya tertawa dan senyum simpul ketika melihatku. 

Sama seperti pakdhenya, Wisang punya bakat ngangeni. Tak jarang aku suka membuka foto-fotonya di gallery HPku sebelum aku tidur, atau ketika aku bangun tidur. Tentu saja sambil senyum-senyum sendiri. Hahaha!



Ps: Dear Wisang, harapanku tante cuman satu. Semoga seperti tokoh Wisanggeni di pewayangan, kamu bisa tumbuh jadi anak yang pemberani, tegas dalam bersikap, dan memiliki kesaktian luar biasa. Eh maksud tante, pandai dalam banyak hal (atau satu, dua hal juga gapapa. Hehe). Btw, karena kamu anak yang istimewa, tante bikinin skets wajahmu nih waktu kamu mau ngrebut Hp pakdhe. Hehe. Peluk dan cium. :)






Kamis, 22 Mei 2014

CATATAN UNTUK SI MANTAN PLAYBOY

Kemarin lusa, di siang yang cukup panas di kantor IBC, saya bertemu Tri Em. Akhirnya kami bertemu, setelah sebelumnya hanya berkirim email dan saling mention atau DM di Twitter. Pertemuan kami terbilang nyentrik. Begini. Ketika saya keluar dari ruang kerja hendak mengambil minum, saya baru sadar kalau anak yang naskah bukunya sempat  saya edit ini sedang duduk di depan rak buku IBC. Kalau ingatan saya tidak salah, saat itu ia sedang duduk bersila ditemani rokok dan tumpukan buku karyanya, Catatan Mantan Playboy. Ternyata malamnya ia menginap di kantor IBC setelah pulang dari acara Booklovers di Sewon Bantul.

Awalnya saya canggung. Tapi untunglah, kegiatan mengambil air di dispenser dapat mengobati kecanggungan saya dengan cepat. Hehe. Lalu saya menyapanya dengan sok akrab dan sok asik.

 “Hei Tri Em! Akhirnya ketemu juga. Gimana bukumu? Laris?”

Maafkan saya sungguh. Entah karena canggung atau apa, saya bahkan lupa apa jawaban Tri Em atas sapaan saya waktu itu. Hahaha! Memalukan sekali.

Pada hari itu, yang jelas saya dan Em tak sempat ngobrol banyak. Sikonnya sedang tidak enak. Kantor sedang padat, saya sedang mengerjakan naskah yang memusingkan kepala, dan jam satu saya harus ke USD mrican untuk sekolah.

Hari berikutnya, kami bertemu lagi. Di tempat yang sama, dan di cuaca yang sama pula. Panas. Kali ini kami sempat ngobrol lama dan lumayan seru. Saya baru sadar bahwa bayangan saya tentang Em sebelum dan sesudah kami bertemu sungguh berbeda. Dulu saya mengira bahwa Em adalah anak laki-laki yang tinggi, kurus, berhidung mancung, dan cool. Penggambaran macam itu jelas cocok sekali untuk seorang playboy. Tapi ternyata, setelah kami bertemu 50% gambaran saya runtuh. Hahaha! Tunggu, jangan salah paham dulu. Menurut saya dia manis, meski kurang cocok untuk image seorang playboy.

Siang itu kami asyik ngobrol berempat. Saya, Em, Mbak Yayas (kepala editor IBC), ditemani celetukan-celetukan Mas Bajang yang sedang sibuk memasak di dapur IBC. Em bercerita bagaimana perasaannya ketika naskah Catatan Mantan Playboy-nya saya corat coret tanpa ampun. Ia sempet mengatai saya galak, tentu saja dengan gaya bicaranya yang lucu dan cadel. Saya berulang kali tertawa mendengar ceritanya dan mengorek lebih dalam tentang pengalamannya menerbitkan buku di IBC. Em siang itu, sungguh mirip dengan tokoh Candra Gunawan di Catatan Mantan Playboy. Jujur dan apa adanya.

Mungkin saya tak sempat cerita banyak padanya siang itu. Bagaimana proses editorial bukunya dari sudut pandang saya. Jadi, untuk Em, simak ini baik-baik ya. Hehehe.

Halaman pertama naskah buku Em sejujurnya telah berhasil menarik perhatian saya. Bagi yang pernah sekolah, tentu akan tertarik dengan adegan-adegan awal di buku Em. Sambil mengingat masa sekolah yang menyenangkan, saya kemudian mulai mengedit naskahnya. Awalnya, tak banyak kesalahan saya temukan di naskahnya. Kalau pun ada kesalahan, biasanya hanya typo atau pilihan kata yang kurang tepat. Tapi semakin banyak halaman yang saya baca, semakin pening kepala saya dibuatnya. Ada begitu banyak kalimat yang struktur, maksud, dan logikanya tak jelas. Kadang dalam satu paragraf, ada beberapa kalimat yang entah dari mana asal-usulnya bisa menyempil tanpa rasa berdosa. Sebagai editor yang baik, tentu saja saya tak tinggal diam. Saya memberinya begitu banyak catatan, coretan, dan caci maki.  (*eum, yang terakhir sepertinya agak lebay) Kadang saya menyarankan kalimat-kalimat di naskahnya diganti seperti ini saja, atau seperti itu saja. Karena terlampau banyak catatan dari saya dan revisi yang harus dibuat Em, kami jadi sering berkorespondensi.

Meskipun saya sering uring-uringan ketika mengedit naskahnya, saya bersyukur Tri Em merupakan salah satu penulis muda yang ber-attitude baik. Ia tak pernah keberatan dengan catatan merah, kritik pedas, dan saran editornya. Ia selalu menerimanya, dan belajar memperbaikinya. Semua kerja keras dan ketekunan Em dalam proses penerbitan bukunya terbayar sudah. Kini Catatan Mantan Playboy tidak saja menjadi buku yang menarik untuk dibaca tetapi juga memiliki pesan mendalam untuk para pembacanya, khususnya anak muda.

Pada akhirnya, meskipun penutup saya akan terdengar klise. Tapi sungguh, percayalah, tak ada karya hebat tanpa proses yang panjang nan berliku. Jadi kawan, alih-alih terburu nafsu mengejar hasil yang maksimal, nikmatilah dan hargai setiap prosesnya. Bertekun dan bekerja keraslah untuk dapat memperoleh hasil yang terbaik. Mungkin kalian bisa mencontoh Em. J

Saya sudah cocok jadi motivator belum? Hahaha! Salam sukses selalu.



Senin, 20 Januari 2014

Officially 24!

Yes, sudah duapuluhempattahun lebih lima belas hari nih. Gimana Yop rasanya? Biasa aja sih. Yang jelas beban dan tanggung jawabnya bertambah.

Minggu, 5 Januari 2014 adalah hari ulang tahunku. Malam Minggunya, tanggal 4 Januari perasaanku jelek sekali. Alasannya selalu gak penting kok, tenang saja. Hehehe. Mata berat, tapi gak bisa tidur. Tidur miring kanan, miring kiri. Kepala di ujung sana, pindah ke ujung sini. Sampai akhirnya ketiduran. Hp sengaja kunyalakan ketika aku pergi tidur. Sebab aku suka sekali ucapan selamat ketika ulang tahun, apalagi jika sampai banjir ucapan. Menyenangkan. Mengharukan. 

Ucapan pertama muncul dari Sita dan Uniph. Kemudian disusul oleh yang lain. Entah via FB, Twitter, atau sms. Anehnya, belum ada ucapan selamat dari yang tersayang, Ndoro. Anehnya lagi, aku tak terlalu sedih karena hal itu. Entah sejak kapan aku selalu menyiapkan diri agar tidak terlalu banyak berharap di hari ulang tahunku. Meskipun masih sedikit ngarep sih. Hehehe.

Paginya, yay! Officially 24. Aku sempatkan menulis status di jejaring sosial,  membalas beberapa ucapan, lalu berhambur ke kamar mandi. Tak sabar untuk beli seafood dan kemudian ke rumah Ndoro. Mendung dan gerimis waku itu rasanya melengkapi hari spesialku, membuat laju Minthiku jadi terasa lebih ringan dari biasanya. Tentu saja aku berlebihan, itu cuman karena perasaanku yang sedang berbunga-bunga saja. Ibu sempat sms ketika aku sedang menunggu pesanan selesai dimasak, di sebuah restoran di jalan Godean. Seneng deh. Kuamini semua doa Beliau. Ndoro juga sms, menyuruhku hati-hati di perjalanan karena hujan gerimis. 

Sesampai di rumah Ndoro, Ibu menyambutku. Memberi ucapan selamat bonus peluk dan cium. Tambah seneng! Kemudian aku menuju ruang makan untuk membuka bungkusan makanan tadi dan menatanya di meja. Ndoro di kamar waktu itu. Keliatan sedikit cuek, dan sibuk dengan kerjaan di depan komputernya. Rada sebel, tapi yasudahlah. Kemudian dia ke luar dari kamar dan menghampiriku ke ruang makan.


Ndoro akhirnya mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Meskipun bukan yang pertama, tapi tentu saja ucapan selamatnya paling istimewa. Ndoro memberikanku pelukan super hangat yang kemudian disusul ciuman manis. Bibirnya memang selalu manis. Hihi.  Kami bertiga, aku, Ndoro, dan Ibu lalu makan bersama. Bahagia rasanya makan bersama orang-orang terkasih di hari spesial. Acara makan siang spesial kami dihiasi  seloroh-seloroh khas. Ibu yang suka menyindir Ndoro sambil bercanda, aku yang kadang menimpali sambil tertawa, dan  Ndoro yang santai membalas dengan kalimat-kalimat mengundang tawa.

Usai makan bersama, aku membantu Ndoro mengentri data. Selesai mengentri data, tiba-tiba Ndoro mengeluarkan sebuah kotak dari bawah meja komputernya, lalu memberikannya padaku.

"Nih..kado ulang tahunnya Iop," kata Ndoro sambil mengusap-usap kepalaku.

Aaaakk! Aku tersenyum dan langsung membuka kotak itu. Sebenarnya gak nyangka bakal dapat kado dari Ndoro, sebab beberapa hari yang lalu Ndoro sudah banyak memberi kado. Jok baru, food step baru, pegangan stang baru, dan Minthi yang diservisin abis-abisan olehnya. 

Waktu kutahu kadonya adalah hardisk eksternal 1TB, aku langsung mewek. Dasar tukang mewek! Kubuka surat ucapan selamat dan kubaca berulang kali. Berkali-kali ngak ngek ngok karena terharu dengan kado dan suratnya, dengan kebaikan Ndoro. Lalu kupeluk Ndoro sambil masih mewek. Ndoro cuman ketawa, senyam senyum lihat aku yang lebay. Hahaha. Makasi berat lho sayang! LEV YAH! :*

Aku bersyukur untuk tahun yang baru, kesempatan baru, dan rejeki yang baru. Aku bersyukur karena masih bisa menjadi teman main dan belajarnya Ayu dan Panji. Aku juga bersyukur bisa mendapat kerjaan baru di Indie Book Corner dan bertemu orang-orang yang keren dan asyik. 

Kayaknya dan semoga, ramalan Deidrakadabra benar. Tahun ini adalah tahun yang berbunga-bunga buat para Capricorn. HaHaHaHa. Muah! Cium mesra buat semuaaaaa... 



Senin, 02 Desember 2013

Gemar Menangis

Rasanya malu sekali mengakui bahwa aku yang hampir 24 tahun ini gemar sekali menangis. Ya, ya, sebut saja  cengeng. Entah sejak kapan aku mulai gemar sekali menangis. Mungkin sejak lahir, atau mungkin malah sejak kuliah? Hahaha, sepertinya tidak.

Beberapa peristiwa dengan tangis bombay masih jelas sekali tergambar di ingatan. Bahkan peristiwa-perstiwa masa kecil. Seingatku, saat kecil banyak sekali hal yang bisa membuatku menangis. Seringkali karena takut, dimarahin, atau tersudutkan. Ada beberapa peristiwa kecengengan masa kecilku yang masih kuingat dengan jelas. Sebenarnya bukan beberapa, tapi banyak. Hahaha.

Aku ingat betul, ketika belum sekolah, aku sering sekali menangis ketika akan ditinggal mamahku bekerja. Aku bahkan masih ingat rasa sedihnya saat mamah pamit pergi bekerja. Seperti akan kehilangan lama sekali. Padahal siang atau sore, mamah pasti pulang.

Aku juga sering sekali menangis sesudah muntah. Sepertinya aku pernah cerita tentang kebiasaan muntahku ketika masih kecil. Iya, dulu ketika kecil, aku sering sekali muntah. Bahkan bisa beberapa kali dalam sehari. Entah karena kekenyangan, perjalanan jauh, tertawa terbahak-bahak, menangis, baju basah karena keringat, dll. Dan sehabis muntah biasanya aku menangis. Kadang karna dimarahin mamah. Tentu saja mamah marah karena capek membersihkan muntahanku, baju, sprei, dll. Menangis karena malu, karena takut. Pokoknya nangis saja.

Aku juga pernah menangis karena berantem dengan teman. Tendang-tendangan dengan Nia (salah satu kawan dekat di SD) di tangga, lalu aku hampir jatuh dari tangga. Mungkin karena kaget dan takut, kemudian aku lari ke kelas, sambil menangis. Satu kelas geger. Aku malu sekali. Tapi sayangnya, air mataku gak pernah malu keluar tanpa berhenti. Kemudian, Nia datang menghampiriku ke kelas, dan minta maaf. Padahal sebenarnya dia tidak salah.

Aku pernah menangis sesudah aku memukul perut Ardi (teman main komplek rumah) ketika kami berebut sepeda baru milik seorang kawan yang lain. Aku lari ke rumah sambil menangis. Lalu Ardi dan kakakku menyusul. Ardi meminta maaf padaku. Aku sungguh malu. Aku ingat betul, aku yang masih sesenggukan berkata,”kamu gak salah kok” ketika Ardi mengulurkan tangannya. Tentu saja Ardi dan kakakku saat itu pasti bingung. Kenapa aku menangis jika aku bahkan tidak merasa ‘disalahi’ dan malah memukul perut Ardi duluan. Mungkin aku merasa bersalah atau khilaf, sudah terlalu emosi dan memukul perut Ardi. Mungkin juga aku kaget kenapa tiba-tiba aku memukul Ardi. Atau mungkin aku justru takut dimarahi atau balas dipukul. Entahlah akupun bingung waktu itu.

Aku sering menangis karena berantem dengan kakakku. Biasanya aku menangis karena marah dan dongkol padanya.

Ketika remaja pun aku masih gemar menangis. Tapi mungkin sedikit berbeda, karena sembunyi-sembunyi. Jarang sekali aku menangis di depan orang lain, kecuali jika kami sangat dekat atau punya hubungan khusus.
Pernah suatu kali, ketika aku SMA dan sedang mengantar temanku pulang, mengalami kecelakaan. Tidak ada luka yang parah pada kami. Cuman motornya saja yang jadi lumayan hancur. Apesnya lagi, itu motor mamahku. Pertama yang terbayang di kepala, tentu saja sosok mamahku yang akan marah besar mengetahui hal itu. Singkat cerita, entah bagaimana juntrungannya, aku ditemani Batozaey. Dia adalah mantanku. Bisa dibilang yang paling baik dan perhatian, bahkan hingga sekarang. Dia mengantarkanku ke dealer dan menemaniku membetulkan motor. Tentu saja dia juga yang menemaniku dan menghiburku ketika aku nangis sesenggukan di bengkel dan juga di rumah. Entah berapa liter air mata yang kukeluarkan di hari itu. Malu sekali aku. Sedih sekali.

Beberapa kali aku juga menangis karena marah pada adikku. Tidak, kami tidak bertengkar. Aku hanya jengkel pada sifat keras kepala dan cueknya pada pekerjaan rumah. Ketika aku sudah marah, biasanya aku hanya menegurnya dengan mengatakan,”kamu nih gak punya perasaan…”. Itu pun dengan intonasi yang sangat rendah. Tapi ya begitulah, setelah balik kanan dan pergi ke kamar, biasanya aku lalu menangis karena dongkol. Rasanya sakit sekali menahan emosi agar tidak meledak.

Belakangan, yang baru, aku pernah, marah dan adu mulut dengan salah satu tukang pakir di salah satu kampus swasta di Jogja. Setelah acara adu mulut, aku mengikuti ujian lisan yang kemudian hasilnya tidak begitu bagus. Walhasil, perasaanku mendadak jadi begitu buruk, sehingga kuputuskan bolos kuliah berikutnya. Aku lalu pulang dan menangis sejadi-jadinya. Hari itu emosiku benar-benar dibuat sangat jelek. Dan memang pulang, lalu menangis adalah hal yang paling kubutuhkan. Beberapa hari sesudah kejadian itu, aku bahkan malas parkir di tempat yang sama. Sampai hari ini, aku masih bĂŞte ketika melihat wajah tukang parkir itu. Duh, ingin sekali punya hati yang legawa, agar bisa melupakan kejadian itu.

Kemarin, aku mengalami insiden baru lagi yang membuat aku menangis sesenggukan.  Insiden es jeruk. Tapi malas sekali kuceritakan kronologisnya di sini. Yang jelas rasanya tidak enak. Antara marah, takut, dongkol, sedih, semuanya jadi satu. Sampai saat ini, masih bisa kurasakan emosiku waktu itu. Bisa saja aku nangis lagi jika dibahas. Syukurnya, saat itu aku punya kamu yang rela membiarkan kaos dan celanamu basah karena air mataku. Memberikan kalimat-kalimat lucu dan beberapa kali mengejek sehingga aku justru tertawa dan merasa lebih baik.

Seringkali aku menangis karena marah, dongkol, sakit, dan mendengar kata-kata kasar atau menjatuhkan. Malu dan sedih rasanya menyadari bahwa aku teramat mudah mengeluarkan air mata, bahkan untuk hal-hal sepele. Sudah berkali-kali kucoba untuk tidak mudah menangis, tapi rasanya nyeri sekali jika kutahan. Sebenarnya aku juga takut  akan melukai orang lain jika emosiku tidak kutahan. Jadi biasanya aku memilih menahannya, dan lalu menangis. Tapi justru dengan menangis aku bisa merasa lega tanpa harus melukai siapapun. Meskipun demikian, aku sering berpikir bahwa ada yang salah dengan diriku karena gemar menangis. Mungkin ini penyakit. Atau mungkin ini kelainan. Namun, walaupun cengeng, aku tidak suka dibilang lemah. Sebab menangis tidak selalu tentang perkara lemah dan tidak berdaya, tapi lebih pada perkara menahan lalu meluapkan emosi. Apalagi mengingat aku jarang menangis di depan orang lain, kecuali orang-orang terdekat. Kalaupun disuruh memilih, aku lebih memilih jadi wanita yang gemar menangis daripada yang gemar menyakiti orang lain. Hidup itu pilihan kan? Hahaha *alesaaaaaann


PS: Sekarang aku justru bersyukur karena kegemaranku itu. Sebab kita yang sangat berbeda (bisa jadi) dipertemukan untuk (bisa jadi) saling melengkapi. Iya, kamu yang seumur hidup hampir tidak pernah menangis. J

Kamis, 28 November 2013

SELOVEMBER

Hae Hae! Hehehe, lama gak bersua ya. Uda di penghujung bulan November nih. Uda mau Desember lalu Natal, tahun baru, lalu 24th! Gila! Cepet yaa?

Berasa cepet banget kalau uda mau tahun baru. Tapi berasa nyiksa dan terseok-seok beberapa bulan di tahun ini. Buanyak sekali peristiwa dan kejadian. Dari asmara, pekerjaan, pendidikan. Jatuh bangun, semuanya. Duh, ini harusnya dibahas nanti tutup tahun aja ya? :))

Aku mau bagi cerita lanjutan postingan sebelumnya aja ah. Jadi bulan November ini adalah bulan yang baru bagiku. Diawali dengan kerjaan baru yang sebelumnya aku sempat singgung. Kini aku bekerja sebagai sekretaris pribadi salah seorang Profesor di UGM. Seperti yang sudah kuceritakan di postingan sebelumnya, pekerjaan ini kudapat dari seorang kawan, kakak tingkatku di kampus sebenarnya. Namun sebenarnya Profesor ini bukan lah Profesor yang ada di fakultasku, melainkan di fakultas tetangga. Awalnya agak takut, karena beliau terkenal tegas dan rada pagob. Hehehe. Tapi ternyata setelah dijalani, biasa saja. Belum tahu juga sih nanti lama-lama gimana.

Pekerjaan seorang sekretaris pribadi pada dasarnya sama saja seperti sekretaris pada umumnya. Mengetik, ngecek dan kirim email, ngeprint-ngeprint, dsb. Namun, mungkin enaknya dari pekerjaan ini adalah, aku bekerja di rumah beliau (fyi, rumahnya bagus bangeeet. Menurutku sih.), dan tidak ada jam kerjanya. Cuman ya, bisa dibayangkan betapa selo dan mati gayanya aku ketika gak ada kerjaan karena beliau ada urusan atau pekerjaan di luar kota untuk waktu yang lama. Ditambah lagi salari yang gak jelas kapan dibayar, dan berapa salarinya. HUAHAHA! Waktu kerja dan jumlah salari memang kadang berbanding lurus. :p

Sudah akhir bulan, dan keuanganku terasa seret banget. Untung masih ada honor ngelesin. Yaah, disyukuri lah. Memang belakangan lagi paceklik aja. Setelah kemarin-kemarin masih bisa kipas-kipas karena gaji tetap dan masih dapat subsidi dari ortu.  Kalau mentok, kekurangan duit, ya tinggal jual si IPI. :(

Anyway, bulan ini sungguh bulan terselo dan tergalau. Galau dengan pekerjaan, pendidikan, dan.... asmara juga gak yaa? Hehehe. Oiya, hari ini aku dan kekasihku genap tiga tahun berhari jadi lho! Masih belajar membaca sih kalau usia segini, masih gemar bermain, tapi juga persiapan masuk sekolah.Semoga kami selalu diberi kelancaran untuk ke depannya. Amin. :))

Senin, 28 Oktober 2013

Resign?

Per tanggal 1 Nov nanti sepertinya aku akan resmi resign dari kerjaan content writerku. Sudah setahun kujalani. Gak nyangka juga bisa sampai setahun kerja ngontent. Mengingat aku sering mengeluh jenuh pada pekerjaan itu. Sudah lama aku ingin resign. Tapi belum bisa kejadian karena terikat kontrak tiap 3 bulan. Tiap cari2 lowongan saat mendekati abis kontrak, selalu galau. Takut kalau jadi resign, ternyata malah gak diterima di tempat kerja lain yang kulamar. Kalau pun misal diterima, bisa jadi waktu kontrakku belum habis. Serba salah kan ya? Sulit lho ngepasin waktu: pas habis kontrak, trus resign,  pas pula diterima kerja di tempat baru. Mungkin itu bisa terjadi di dalam mimpi. Atau bisa terjadi jika kamu super duper beruntung.

Tapi itu yang terjadi padaku lho! Lagi-lagi aku beruntung! Dulu, sebelum aku kerja sebagai content writer. Waktu masa ling lung, nunggu hari wisuda, dan gak ada kegiatan apa-apa, kecuali masih tetep ngelesin. Aku ngelamar kerjaan lewat salah satu jasa pencari pekerjaan online, dan lalu diterima, terus kerja sampai sekarang. Jadi gak sempet nganggur. Sekarang, hehehe, geli sendiri, waktu aku niat banget mau resign, padahal belum cari kerjaan lagi (karena niatnya mau istirahat dan liburan dulu) aku sudah dapet kerjaan lagi. Bersyukur banget sih. Ini pun kerjaan dari seorang teman yang mau pindah kerja ke luar kota. Gak pake masukin lamaran, dsb. Dan mungkin, meskipun ini kerja part time, aku juga bakal nemuin tantangan dan kesulitan baru di kerjaan baruku ini. Duh, antara takut dan gak sabar.

Karena belum kejadian, aku belum mau cerita banyak dulu deh. Nanti kalau uda resmi resign dan kerja lagi di tempat baru, aku cerita lagi detailnya. Cao!

Kamis, 05 September 2013

Inbox dari Teman

Seorang teman sedang ribet dengan perasaannya dengan seorang teman yang lain. Belakangan dia gemar mengirimiku sms. Biasa, urusan asmara. Kadang kujawab singkat, kadang cukup panjang. Barusan dia sms lagi. Dan ada kalimatnya yang aku suka. Begini katanya, "Perempuan bisa multitasking dalam banyak hal, tapi gak dalam soal hati". CHEERS! :))

Sabtu, 20 Juli 2013

Drawing Challenge

Berharap bisa menyelesaikan 30 days full drawing challenge, tapi teryata gagal. Rasa malas, bad mood, capek, godaan film, dan main mengalahkan tekad bulat yang telah dibuat di hari pertama drawing challenge. Walhasil, belum genap setengah jalan, jadwal drawing challengeku berhamburan, dan kemudian kuputuskan menyerah. Padahal awalnya berniat menjaga konsistensi, ritme, dan mengembangkan kemampuan menggambar. Sayangnya aku terlalu cupu untuk itu. Huhuhu. Walau bagaimanapun, ada tiga belas gambar yang berhasil  kubuat dengan ketelatenan tinggi dan kesulitan yang berbeda-beda. Dan dari tiga belas gambar tersebut, ada beberapa gambar yang aku suka sehingga ingin kubagikan ke kalian. So, ini dia, semoga kalian juga suka.

Day 1. Myself

Day 2. Favorite Animal.

Day 3. Favorite Food.

Day 8. Favorite Animated Character. Russell- "UP"

Day 9. Favorite TV Show. Running Man

Day 16. Inspiration

Day 13. Comic

Mencuci dan Menyetrika Baju

Sejak kuliah, aku mulai terbiasa  melakukan segala hal sendiri. Tentu saja itu karena aku termasuk dalam kategori anak rantau yang hidup jauh dari orang tua. Dari semua kegiatan yang aku lakukan sendiri, ada satu kegiatan yang hingga saat ini tetap berkesan dan menyenangkan, yaitu mencuci baju. He? Bagaimana bisa mencuci baju begitu berkesan dan menyenangkan? (padahal di rumah jarang banget cuci baju sendiri, hihi) Apalagi di era ketika jasa laundry begitu banyak tersebar, bahkan hampir di setiap 5 meter jalan. Baiklah, aku mau bagikan sedikit tentang 7 hal yang membuat aku lebih suka mencuci dan menyetrika baju sendiri, ketimbang menggunakan jasa laundry. (Mungkin ini postingan aneh, tapi tentu saja bin ajaib. Entah juga ajaibnya sebelah mana :p).

  1.  Tentu saja karena lebih hemat. Apalagi jika aku sering bergonta ganti baju.
  2. Rasanya menyenangkan punya kesibukan lain, selain ngantor, sekolah, main, menonton film, dan lain-lain.
  3. Mencuci dan menyetrika baju selalu menciptakan perasaan nyaman, fresh, dan bahagia. Seperti halnya membersihkan dan merapikan kamar. Mencuci dan menyetrika baju juga membantuku memperbaiki mood, membuang perasaan jelek, dan pikiran buruk yang sedang mengganggu.
  4. Seseorang pernah berkata bahwa aku seseorang yang perfeksionis. Kadang aku tidak setuju, tapi kadang aku merasa, benar juga sih ucapannya. Menurutku, setiap orang memiliki sisi perfeksionisnya sendiri, kadarnya juga tentu saja berbeda. Mungkin itu salah satu alasan juga mengapa aku lebih suka mencuci baju sendiri. Sebab, seringkali aku merasa kurang percaya pada jasa laundry. Aku kurang percaya bahwa bajuku akan dicuci dengan baik dan benar, atau akan kembali dengan keadaan utuh tak bercela. Jadi, akan lebih baik jika dikerjakan sendiri. Hehehe.
  5. Meskipun sedikit pemalas, tapi jika berhubungan dengan diri sendiri, aku sangatlah strict. Seperti kamu (hehe) aku agak ribut dan ribet jika barang-barangku tidak berada di tempat yang semestinya, atau kotor, atau berantakan, atau rusak. Sama halnya juga jika ada yang berkunjung ke kamarku.  
  6.  Tentu saja kepuasan pribadi jika bisa melakukan segala hal sendiri dengan baik. Apalagi jika hasilnya baik pula. Puas, senang. Kalaupun hasilnya kurang baik, kita tidak perlu capek-capek kecewa pada orang lain. Sebab kecewa pada diri sendiri lebih mudah diobati daripada kecewa pada orang lain. (curhat yop?) :p
  7. Yang terakhir. Pakaian adalah salah satu harta benda yang sangat penting buatku. Aku terlewat lebay kalau berhubungan dengan pakaian. Kadang perasaanku bisa menjadi begitu buruk hanya karena pakaianku sobek, berlubang, kena noda, berbau tidak sedap, luntur, kelunturan, dipinjam dan tidak dikembalikan, atau dipinjam kemudian dikembalikan dalam keadaan cacat, atau hilang entah kemana. Memang terdengar agak berlebihan. Tapi menurutku itu wajar, sebab kita dan juga aku, tidak pernah lepas dari pakaian, setiap saat kita memakainya (ya tentu saja kecuali saat kita mandi atau melakukan aktivitas lain dengan pasangan :p ). Pakaian juga merupakan salah satu kebutuhan primer, dan merupakan cermin dari identitas diri.
Jadi begitulah kira-kira hubungan spesialku dengan mencuci dan menyetrika baju. Kadang memang malas ketika harus mencuci dan menyetrika setumpuk pakaian. Terutama jika sedang lelah dengan kerjaan dan kegiatan lain. Tapi usai dua kegiatan itu selesai kulakukan, akan selalu ada perasaan yang luar biasa menyenangkan, yang seringkali susah digambarkan dengan kata-kata. Aiihh, kayak jatuh cinta aja ya. :D Anyway, selamat berakhir pekan kawan, semoga bahagia selalu! 


Jumat, 28 Juni 2013

Rooftop

Pernah suatu hari aku menghabiskan sore di atas kontrakan, tempat jemuran. Yah kalau bahasa kerennya rooftop. Seperti yang pernah aku ceritakan, menghabiskan waktu di rooftop ketika sore teramat menyenangkan. Angin semilir, pemandangan indah, lalu lintas pesawat dan berbagai macam burung membuat soreku nampak sempurna. Pernah juga, ketika malam, dengan beberapa kawan, entah Uniph, atau Sita dan Uniph, noongkrong di atas. Tak ada bangku jujur saja. Jadi nongkrong kami terlihat aneh karena berdiri. Hehehe. Hanya beberapa kali aku nongkrong malam di atas sendiri. Kadang karna lagi suntuk, kadang pengen aja, kadang gak jelas kenapa. Seperti malam ini. Tidak seperti biasanya. Biasanya ketika aku pergi ke rooftop pada malam hari, aku hanya memandangi pemandangan yang ada di bawah. Anak2 kos-kosan yang lagi pada nongkrong di pinggir Selokan Mataram, sambil makan penyetan dan ngobrol ngalur ngidul bersama kawan-kawannya, motor yang lalu lalang, dan sebagainya. Atau kalau tidak, aku yang mengobrol ngalur ngidul bersama kawanku. Tapi malam ini langitnya agak spesial untuk tidak diacuhkan. Alih alih aku melihat pemandangan di bawah, aku memandangi langit. Tidak terlalu banyak bintang. Tapi sangat cantik. Abu-abu kecoklatan, hamparan awan kumulus, stratus, dan sirus pun nampak gamblang. Dan tentu saja dilengkapi dengan lalu lintas pesawat terbang. Cantik sekali. Suka heran aja. Sejak kapan aku memerhatikan detail. Sepertinya dari kecil deh. Dan pemandangan di atas kontrakan malam ini membuat perasaanku menjadi luar biasa. Dua hari termehek-mehek karena maag kambuh, pms, dan puisi mamah sekejap sirna. I feel so good. Ditambah tadi kangen-kangenan di Sande setelah entah berbulan-bulan gak ke sana. O yes, life is good. (--> pas moodnya lg bagus aja :P). Oiya! btw, aku belum membuat Drawing challenge untuk hari ini. Malah uda ngantuk aja nih. Sudah dulu yah, aku mau siap2 menggambar. Slamat malam! See you! Muah! :)