Tampilkan postingan dengan label kata-kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata-kata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2015

Mamah Gajah

Aku masih ingat benar ketika masa-masa awal kuliah aku sering homesick, selalu rindu rumah dan mamah gajah. Sering mewek dan melankolis kalau ingat rumah. Jogja masih sangat asing. Teman masih satu, atau mungkin dua. Belum ada yang bikin betah di Jogja. Aku bahkan punya blog pribadi dan seorang gebetan yang bisa aku temui di dunia maya sebagai pelarian. Ketika teman-teman yang lain akan nongkrong berkelompok, entah makan atau ngobrol bersama ketika istirahat usai kuliah, aku justru menyendiri di ruang multimedia. Berselancar di dunia internet. Menghabiskan waktu di sana. Biasanya nulis blog, nulis email bertukar kabar dengan gebetan, dan main sosial media. Begitu setiap hari. Lha gimana mau dapet teman?

Beberapa tahun kemudian, banyak perubahan mulai muncul. Aku mulai punya beberapa teman segeng. Aku mungkin masih rutin berkunjung ke ruang multimedia, tapi tidak lama, tidak menghabiskan waktu istirahat di situ. Seperlunya saja. Aku juga mulai ikut kegiatan kampus: band-band-an dan pecinta alam. Penyakit homesick masih muncul tapi tidak sesering dulu. Mamah Gajah mulai kehilangan aku.

Aku mulai jatuh cinta, pacaran dengan si ini dan si anu, dan aktif di kampus. Menjelajah tempat-tempat keren dalam acara pecinta alam. Melakukan banyak hal yang seru, tak terlupakan, berbahaya, dan luar biasa yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Sekarang aku bahkan rindu sekali melakukan hal memacu adrenalin atau sekadar tracking di alam terbuka. Sungguh, rindunya membayang-bayang.
Aku juga aktif band-band-an. Aku belajar nyanyi, belajar main beberapa instrument: drum, gitar, dan mencoba berbagai lagu. Manggung di kampus sendiri, di kampus orang, dan di panggung lumayan besar di mana anak-anak kampus lain nonton juga. Selalu nervous dan sakit perut ketika mau manggung, tapi aku menikmatinya.

Aku mulai jarang pulang, mamah gajah semakin jauh. Kami mulai jarang komunikasi, jarang ketemu, sering berantem. Mamah gajah mulai sering sekali bilang “Kamu berubah”. Yang tentu saja menurutku, kalimat itu punya arti yang tak enak. Aku mulai malas membalas smsnya. Hubungan kami jadi berjarak.
Tentu saja posisi mamah gajah sudah tidak lagi seperti dulu. Mamah gajah bukan lagi pelarian pertamaku, atau orang pertama yang aku tuju ketika sedang senang atau sedih. Aku merasa sudah cukup dewasa untuk bisa lepas dari bayang-bayang seorang ibu. Aku merasa sudah saatnya dilepas untuk segala pilihan yang kuambil. Terutama ketika aku sudah lulus, mulai bekerja, dan menjalin hubungan serius dengan seseorang.
Hampir semua kucurahkan untuk kehidupan di Jogja. Untuk pekerjaan, untuk teman, untuk kekasih yang sangat aku sayangi. Aku sangat keras kepala untuk banyak hal, termasuk soal asmara. Mamah Gajah kehilangan aku.

Sampai suatu hari aku mengambil keputusan besar. Beberapa kali kami adu argumen karenanya. Sebagai seorang ibu yang telah membesarkanku, tentu mamah gajah merasa sangat berat untuk merestui dan menghargai keputusan yang aku ambil. Waktu berlalu, aku menunggu, mamah gajah menunggu. Kami melunak. Hubungan kami mulai membaik. Mamah gajah merestui dan menerima keputusan yang aku ambil. Dia bahkan mendukungku penuh, bertanya apa rencanaku ke depan, dan mendengarkan dengan tekun mimpi-mimpi yang sudah aku bangun, dan perasaan-perasaanku.

Aku tahu persis cintanya tidak pernah berubah. Cinta seorang ibu kepada anaknya. Pagi ini, ketika bangun tidur dan menyalakan hp, aku mendapat sms darinya. Mamah gajah bercerita kalau dia baru saja dilecehkan orang ketika sedang gowes (bersepeda) jam lima pagi ini. Mungkin aku tidak cukup kaget mendengar ceritanya karena terlalu banyak cerita ngeri yang sekarang beredar. Tapi aku marah, sangat marah karena orang yang aku sayangi dan selalu mendukungku disakiti. Aku hanya bisa mengetik kalimat, “Astaga, ati-ati mah, besok lagi jangan gowes jam segitu. Bahaya!” yang mungkin saja belum mampu menenangkan perasaannya yang pastinya shock dan emosi berat.

Pagi ini aku menulis, setelah begitu lama tidak menulis. Aku berdoa agar setiap orang yang aku sayangi selalu dilindungi Tuhan. Untuk mamah gajah, untuk kakakku, adikku, papahku, ndoro, dan teman-temanku. Aku akan melindungi mereka yang aku sayangi. Aku akan berusaha meluangkan waktu lebih banyak untuk mereka dan berjanji akan selalu ada ketika mereka butuh.  

Untuk mamah gajah, terima kasih mah sudah menjadi ibu yang luar biasa. Mamah adalah satu dari satu juta. Seorang ibu yang memiliki jiwa yang begitu besar. Suatu hari ketika aku punya anak, aku ingin jadi ibu seperti mamah. Yang kuatnya melebihi logam paling kuat, dan yang cintanya besar melebihi alam semesta. You know I always love you, Mom.



Selasa, 10 Maret 2015

Tentang Apa Saja

Kali ini aku mau menulis tentang apa saja. Apa saja yang terlintas, apa saja yang sudah kualami, apa saja yang ingin aku lakukan, dan apa saja yang kurasakan. Pokoknya apa saja. Random ya? Iya, biarin. Mungkin dibuat poin aja kali ya biar kesannya lebih rapi (padahal tetep random). :p

1. Hampir sebulan sejak aku pindah kantor. Hanya pindah bangunan saja sebenarnya, masih di perusahaan yang sama. Masih mengedit dan berkutat dengan tulisan-tulisan orang. Senang? Jujur saja lebih senang. Lokasi lebih dekat, tinggal berjalan kaki untuk menuju kantor. Selain go green dan hemat, badanku rasanya sehat sekali. Setiap hari berkeringat. Bukan hanya berkeringat karena terik matahari dan karena kadang udaranya gerah, tapi karena aku rajin bergerak. Berjalan pulang pergi kerja, mengangkut beberapa kardus buku naik turun tangga, dan lain-lain. Baru kusadari banyak gerak bikin aku lebih bahagia. Aku juga bisa ngantor dengan celana pendek atau rok tanpa takut betisku terbakar. Hahaha! Oya, selain itu, aku juga jadi kenal lebih banyak orang baru karena kantor kami berdampingan dengan Dongeng Kopi. Rame dan lebih seru.

2. Aku belum cerita di sini ya, kalau meja belajar sekaligus meja kerjaku baru? (Baru 3 bulan) Hehehe. Fyi, aku cinta sekali dengan meja kerjaku. Sungguh tepat keputusanku untuk membeli meja kerja itu setelah galau cukup lama. Meja kerjaku adalah segalanya setelah seperangkat gadget, buku, sepatu, dan alat gambarku. Dia cinta kesekianku. Aku bisa menghabiskan berjam-jam di meja kerjaku, mengedit, menggambar, belajar, nonton film, berselancar di dunia maya, membuat lagu, merindukanmu. Hehehe. Aku punya dunia sendiri dan tenggelam di sana. Rasanya bahagia saja punya kehidupan, aktivitas, dan pelarian sendiri di luar pekerjaan, pertemanan, dan asmara.

3. Sekarang, aku sedikit-sedikit belajar untuk tidak terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan atau bicarakan tentangku. Tentu saja yang negatif. Tidak mau terlalu sensitif dan takut jika dimusuhi, dikritik, atau diolok-olok. Aku berniat untuk memperlakukan orang seperti dia memperlakukanku. Sebab sudah terlalu sering sakit hati dan dongkol karena memperlakukan orang layaknya memperlakukan diri sendiri. Hahaha! sakke.

4. Sepertinya sejak aku kenal kamu, aku jadi males neko-neko. Rasanya ingin jadi orang yang biasa-biasa saja. Aku gak mau terlalu ngoyo untuk bisa kaya, sukses, atau dikenal banyak orang. Aku gak mau lelah mikirin bagaimana mencapai puncak karier atau masa depan yang gilang gemilang. Aku hanya mau terus melakukan apa yang aku senang, menjalani hari dengan penuh semangat, dan berusaha tidak menyusahkan orang lain. Syukur kalau dengan melakukan apa yang aku senang, itu bisa bikin orang lain senang pula. Syukur lagi bisa lebih banyak memberi.

5. Kalaupun kelak aku punya duit banyak dan bisa beli apa saja, aku harap kakiku masih selalu berpijak di tanah. Semoga aku bisa selalu rendah hati apa pun keadaannya dengan apa saja yang aku miliki.

6. Aku berharap aku bisa selalu menjaga ritme dan jadwal menggambarku. Aku ingin lebih sering menggambar, membaca, menyanyi. Eksplor lebih banyak lagi.

7. Oiya, Sabtu yang lalu akhirnya aku selesai membaca sebuah novel yang menurutku oke sekali. Judulnya AMBA karya Laksmi Pamuntjak. Rasanya sudah lama sekali tidak menghabiskan satu novel berkualitas karya penulis Indonesia. Menurutku, meski tempo ceritanya lambat dan agak datar di awal, novel ini keren kok. Bikin pembaca jadi emosional dan kebawa alur ceritanya. (Karang yo cah drama cinta-cintaan :p) Konon ada yang menandingi novel ini, kata seorang kawan. Dengan tema yang mirip-mirip, tapi katanya sih lebih realistis. Tidak sedrama "AMBA". Judulnya "Pulang" karya Leila S. Chudori. Belum baca nih, kudet banget. Mungkin kudu beli novelnya dulu kali ya. Beliin dong, hihi :p

8. Masih sering dan selalu kangenan. Yah begitulah. :')


Kamis, 15 Januari 2015

Janji

Terlalu banyak orang yang menjanjikan macam-macam dan tidak menepatinya. T e r l a l u b a n y a k. Jadi mari kita buat kesepakatan. Jangan menjanjikan atau berkata apa pun yang sulit kamu tepati atau yang membuat orang lain berharap padamu. Tidak ada orang yang tidak berharap ketika kamu menjanjikan sesuatu atau menyanggupi sesuatu. Bagaimana kalau menyuruh orang untuk tidak terlalu berharap? Ah, itu kejam. Apalagi jika harapannya tidak muncul begitu saja, tapi karena ada yg membuatnya berharap. Jadi mari kita hidup tenang dan damai dengan tidak mudah menjanjikan sesuatu, tidak mudah memberikan harapan, belajar untuk komit pada kata-kata yang kita ucapkan, dan belajar untuk selalu menepati janji. Semoga selamat sampai tujuan!

    

Minggu, 11 Januari 2015

Di Hari Minggu

Tadi siang aku sempat nonton sebuah film berjudul "God Help the Girl". Menurutku gak terlalu bagus sih. Cuman film itu terasa nyentrik dan menarik. Bisa dibilang drama musikal anak muda yang rada random. Bercerita tentang seorang gadis yang suka nyiptain lagu dan punya masalah sama kejiwaannya. Anyway, tidak terlalu jelas latar belakang masalah kejiwaannya, (atau aku aja yg gak fokus nonton. seperti biasa haha!) tapi lagu-lagu yang dia ciptakan bagus bagus. Liriknya simpel, musiknya asik. Dia dan dua temannya James dan Cass akhirnya bikin band dan bermusik bersama. Intinya, setelah nonton film itu, aku kemudian mati gaya. Jogja siang ini panas sekali.

Kemudian aku duduk di meja kerjaku, kubuka pintu lebar-lebar agar udara panas keluar dan angin luar yang cukup sejuk tapi kering dan gersang, masuk. Aku sempat membuat pembatas buku kecil-kecilan. Setelah itu, membuat sebuah lagu kecil-kecilan juga. Hehehe. Kalau penasaran, bisa kamu dengarkan di sini. Kalau tidak penasaran juga tidak apa-apa sih. Semoga Minggumu menyenangkan.

Minggu, 21 Desember 2014

Adit

Dulu waktu SMA pernah suka sama seorang cowo. Teman sekelas. Sesuai dengan karakterku, menyukai lelaki sepantaran itu tidak biasa. Tapi kalau sampai itu terjadi, berarti lelaki itu benar-benar spesial. Tentu saja spesial menurutku. Gak perlu ganteng ataupun kece seperti lelaki-lelaki lebih tua yang kutaksir, tapi harus menyenangkan. Nah, si Adit ini demikian. Dia teman sekelasku yang menyenangkan.

Waktu itu kelas tiga SMA. Kami bisa dibilang satu geng gitu. Geng gong. Hehehe. FYI, satu geng isinya tiga orang cewek dan dua orang cowok, termasuk si Adit. Yang menarik dari dia? Sebentar, sabaaar. Mungkin aku gambarkan dulu dia secara fisik. Tidak ganteng sih, tidak tinggi juga. Rambutnya lurus, hitam. Kulitnya coklat. Kalau tertawa lucu sekali. Gigi depannya tidak rapi, jadi kadang suka tampak rada mrongos, padahal tidak juga. Orangnya hangat sekali, kayak hape lagi dicas. Hehe.

Dia anaknya sederhana. Motornya waktu itu Honda Astrea jelek. Seragamnya juga tidak putih bersih apalagi dari bahan kain yang mahal. Kupikir memang dari keluarga sederhana. Baru setelah cukup lama kenal dia dan main ke rumahnya, aku baru tahu dia anak orang kaya. Rumahnya besar dan bagus banget. Sempat kaget aja sih, gak percaya. Padahal dia bisa saja tampil kece kalau dia mau, bisa bawa mobil kalau ingin terlihat wow seperti teman-teman borjuis yang lain. Tapi itu yang spesial dari Adit. Dia sangat rendah hati dan sederhana. Dia juga tenang, gak seperti cowok lain yang suka ribut, slengean, sok jagoan, sok kegantengan dan sok-sok yang lain. Emang kelihatan cupu dan gak jantan sih, tapi tetap menarik kok. Lagi-lagi menurutku. HAHAHA. Yang aku suka dari dia, cukup banyak. Selain kalem, tenang, gak pernah kelihatan sedih, dan gak neko-neko, dia itu, lagi-lagi hangat dan perhatian. Aku paling suka ketika kami sedang mengobrol dan bercanda, dan aku sedang melucu atau menggoda dia, dia tertawa sambil mengusap-usap kepalaku, kadang ketika dia begitu gemas, dia tidak segan untuk membuat rambutku acak-acakkan. Dia juga tak jarang merangkulku. Bikin meleleh saja. (seperti anjing, aku selalu suka usapan atau sentuhan di bagian kepala. Suka sekali.) Dan satu lagi, dia selalu harum. Enak sekali baunya. Sempat penasaran waktu itu dengan parfumnya. Baru kemudian kutahu kalau dia pakai parfum Bellagio. Parfum lho ya, bukan cologne.

Dia bahkan punya panggilan khusus buatku, yaitu Yuyup. Sebagai cewek normal yang suka cute little things siapa yang gak termehek-mehek coba? Aku malah lupa panggilan khususku buatnya. Nama kecilnya jika di sekolah sih, Otong. Tapi aku benar-benar lupa nama panggilan kesayangan apa yang kusematkan untuknya. Payah. Dia juga sering mengataiku atau memanggilku "dudut". Rasanya rela saja waktu itu dipanggil "dudut" kalau sama dia, meski jutaan kali.

Oiya, dia pandai sekali bermain gitar. Berbeda dengan kebanyakan teman cowokku yang lebih suka musik rock, dan memainkan distorsi ketika ngeband, si Adit lebih suka lagu easy listening. Dia piawai bermain gitar akustik, petikannya aduhai. Aku suka sekali melihat dia bermain gitar, melihat jari-jarinya menari. Apalagi kalau memainkan musik klasik. Kadang aku suka sok manja minta diajarin petikan atau gitaran lagu-lagu ini dan itu, biar aku bisa melihatnya bermain gitar secara eksklusif, dan dekat-dekatan. Biarin, aku memang hina.

Semakin lama, aku semakin suka padanya. Dan si Adit ini, entahlah. Hingga suatu hari, aku tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Sakit biasa sih, demam gitu. Pas lagi tidur-tiduran, si Adit sms. Dia nanya kenapa aku gak masuk sekolah. Seperti biasa dia mengolok-olokku. Aku sih bahagia saja diolok-olok sama dia. Hmft, males. Sampai tiba-tiba kuberanikan untuk bilang 'suka' ke dia. Dengan bahasa yang nyantai sih. Seingatku, aku bilang gini,"Dit, kamu tau gak sih kalau aku suka kamu?" Setelah aku kirim smsku waktu itu, aku langsung nervous, tapi masih terkondisikan sih. Entah, mungkin karena sedang gak enak badan, bisa juga karena aku tahu Adit gak mungkin jahat kalaupun dia gak suka padaku juga. Dan tidak berapa lama, dia balas smsku. Katanya (seingatku), "Iya, pakdheku, tanteku, omku, mamaku, papaku, juga suka aku."
Usai membaca balasan smsnya, aku tidak patah hati atau menangis. Aku justru tertawa. Dan kemudian tidur lagi. Bagiku, itu jawaban paling keren yang pernah aku dapat ketika bilang suka ke cowo.

Esoknya pun kami biasa saja. Masih hore-hore kalau bertemu, masih suka saling mengolok, dan dia masih suka melancarkan jurus mengusap-usap kepalaku dan merangkulku. Aku masih suka ngrampok hp-nya, untuk kubuat mainan dan selfie. Masih suka sok-sok an minta diajarin bermain gitar untuk lagu tertentu.

Hingga suatu hari, aku, beberapa kawan, dan Adit janjian untuk latihan band bersama. Waktu kami sudah kumpul semua, dan Adit belum datang, aku gelisah. Gelisah kangen sebenarnya.Hehehe. Lalu kutanya salah satu kawan, kemana si Adit ini. Lalu kawanku menjawab bahwa Adit nelat karena harus menjemput pacarnya dulu. Hari itu aku patah hati. Tidak sampai membuatku menangis sih, cuman sedih saja karena dia ternyata sudah punya pacar. Dan pacarnya HOT sekaleeeeeee. Hahahaha. Sial. Baru sekarang aku tahu itu yang namanya di-friendzone-in. 

Pagi ini entah kenapa, jadi teringat si Adit usai baca komik Sunset on Third Street dan pipis di kamar mandi. Padahal komiknya juga gak ada hubungannya sama dia. Kadang memori dan kenangan suka aneh, suka muncul tiba-tiba seperti mas kos nagih listrik. Trus ya kutulis saja, menarik soalnya untuk diceritakan.

Sekarang, entah sudah berapa tahun tidak ketemu Adit, dan entah kapan juga ketemu dia terakhir kali. Sepertinya pas nunggu ngambil ijazah SMA. Aku bahkan sudah lupa nama lengkapnya. Jadi gagal untuk mencari jejaknya di dunia internet. huhuhu. Semoga dia selalu sehat dan bahagia. Semoga dia selalu jadi Adit yang sederhana, rendah hati, hangat, dan menyenangkan.

Duh jadi kangen sama seseorang yang hangat, sederhana, dan perhatian juga. uhuk keselek mouse. Hehehe.
Selamat hari Minggu ya! 

Jumat, 12 Desember 2014

Puisi

Sudah lamaaaaaaaaa sekali tak pernah membuat puisi. Kapan ya terakhir kali? Rasanya kemampuanku berpuitis ria mulai pudar. Aku juga lebih realistis, meski masih menye-menye dan akan tetap menye-menye. Hidup menye-menye!  HAHAHA. Tapi kali ini aku sedang ingin menulis puisi. Seperti puisi-puisiku sebelumnya, yang aku buat berdasar perasaanku saat itu dan biasanya untuk orang spesial, maka begitu pula puisi ini. Judulnya: Ndoro

Sejak pertemuan pertama kita, aku sudah rindu.
Sampai sekarang, sampai mati mungkin masih rindu.
Aku tidak sedang berjanji. Aku tidak menggombal.
Sudah kubilang aku rindu!
Jika aku bilang rindu padamu, itu serius.
Mungkin akan meledak jika tidak kukatakan.
Kau boleh bilang, "iya", boleh bilang, "aku juga"
lebih bagus langsung memelukku, atau menciumku.
Jika aku tidak bilang rindu, itu berarti aku masih bisa memenejnya dengan baik.
Percayalah, aku tak pernah tak rindu kamu.
Ndoro, sekarang aku sedang sangat sangat sangat rindu.
Aku sudah tidur berjam-jam, aku sudah menggambar, aku sudah membaca, aku sudah jereng mengedit naskah. Dan aku masih rindu.
Ndoro, tolong aku,

he he he.



The end.


Minggu, 19 Oktober 2014

www.yovisudjarwo.com

Salam sejahtera bagi kita semua. Apa kabar teman-teman? Semoga selalu sehat dan bahagia ya. Kali ini aku mau memberikan kabar gembira bagi kita semua. Kita? elo aja ke...stop! Emang cuman mastin yang bisa kasi kabar gembira?! Hehehe. Jadi begini, atas dasar rasa cinta, kasih, dan sayangnya doi kepada saya, ia membuatkan saya sebuah web. Web ini bukan web biasa, ini web portofolio yang hanya berisi foto-foto dan gambar sketsa yang aku buat beberapa tahun terakhir. Tujuannya sih supaya lebih fokus dan produktif aja dalam berkarya. Syukur-syukur bisa go internasional dan dikenal banyak orang. Ya begitulah kurang lebih. *nggayamintaditoyor :p Jangan lupa main-main ya, insyallah bikin seger mata. Oh, jangan khawatir, blog ini masih terus jalan kok, semoga selalu ada waktu dan kesempatan untuk update. Kalau gak update, ya tinggal blogwalking ke link2 blog di laman ini yg update aja, haha maksa.

Oke, begitu kira-kira kabar gembiranya. Jika tidak cukup menggembirakan bagi kalian, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Salam! :>

sincerely,
admin www.yovisudjarwo.com

Selasa, 30 September 2014

Kalau

Kalau sudah merasa enakan dan rindu aku, nomorku masih sama, kontrakanku belum pindah. 
Semoga masih ada sumur di ladang agar kita bisa menumpang mandi~
Tetap semangat!

Jumat, 05 September 2014

WISANGGENI

Minggu 31 Agustus 2014 lalu adalah pertemuan kami yang kedua. Baru dua kali bertemu namun sungguh mencuri perhatian.

Sehari-hari aku bekerja sebagai editor di paruh waktu, dan perindu di penuh waktu. Ya tentu saja merindukan kamu. Siapa lagi. Tapi ini sungguh aneh. Bukan, posisimu tidak tergantikan Sayang, tenang saja. Cuman ada satu sosok lagi yang nyempil dan juga sering kurindukan di penuh waktuku tadi selain kamu. Mesti kami tak banyak mengobrol, tapi rasanya seperti sudah lama kenal dan sudah sering bertemu.

Namanya Wisanggeni. Yah, sebut saja Wisang. Dia tak pandai berbicara. Badannya kecil tapi larinya kencang, makannya lahap, murah senyum, cantik seperti wanita padahal laki-laki, tak mudah menangis, dan suka tertawa. Pokoknya menarik deh! Kamu juga kan yang mengenalkannya padaku. Jadi jangan cemburu. Hihihi

Sebelum kami bertemu, pakdhenya yang tidak lain tidak bukan adalah kamu (hehe), cukup sering membahasnya. Si Wisang ini mukanya mirip aku waktu kecil, Iop.. Begitu katamu, sambil menunjukkan fotonya di fesbuk. Waktu itu yang kulihat di layar adalah bayi gemuk dengan rambut lebat hitam yang menggemaskan. Yah, percaya gak percaya sih kalau itu mirip kamu. :p

Yang jelas Wisang yang sudah dua kali ini kutemui tampak cukup berbeda. Badannya tak segemuk dulu, rambutnya tampak tak selebat foto bayinya, dan cantik! Iya, cantik seperti gadis cilik. Hobinya? Eum, banyak. Mengimitasi gaya dan perilaku orang dewasa, mengotak atik apa saja, berlari ke sana kemari, nyanyi nyanyi sedapatnya, meminta gendong pakdhenya, dan masih banyak lagi. Ada satu kebiasaannya yang paling membuatku sering sakit rindu padanya, yaitu hobinya tertawa dan senyum simpul ketika melihatku. 

Sama seperti pakdhenya, Wisang punya bakat ngangeni. Tak jarang aku suka membuka foto-fotonya di gallery HPku sebelum aku tidur, atau ketika aku bangun tidur. Tentu saja sambil senyum-senyum sendiri. Hahaha!



Ps: Dear Wisang, harapanku tante cuman satu. Semoga seperti tokoh Wisanggeni di pewayangan, kamu bisa tumbuh jadi anak yang pemberani, tegas dalam bersikap, dan memiliki kesaktian luar biasa. Eh maksud tante, pandai dalam banyak hal (atau satu, dua hal juga gapapa. Hehe). Btw, karena kamu anak yang istimewa, tante bikinin skets wajahmu nih waktu kamu mau ngrebut Hp pakdhe. Hehe. Peluk dan cium. :)






Minggu, 17 Agustus 2014

CE I EN TE A

Sebab lagi males cerita lewat tulisan, dan lagi senang nggambar, jadi marilah kita tengok gambar-gambar yang penuh cinta ini. Ada yang pesanan, ada yang kado, ada juga yg nyasar. Hehehe. Lets's celebrate with love. :)

Pesanan dari sepasang muda mudi yang hendak menikah~

Pesanan dari seorang perempuan yang begitu menyayangi suaminya.

Ibu dan Ndoro. Kado untuk ulang tahun Ibu.

Foto nyasar bertema cinta. Abaikan. :p




NB:
Menerima pesanan. Harga nego. Hehe :)

Selasa, 05 Agustus 2014

Temu Kangen di Bulan Agustus

Berhubung gelombangnya sudah mulai tenang, jadi mari berbagi foto-foto lagi. Memasuki area tentram, lempeng, dan biasa-biasa saja. Belum ada yang baru, yang lama-lama pun tak masalah. Foto-foto ini diambil menggunakan kamera analog Pentax Espio (serinya lupa) yang sudah dijual lagi setelah baru sekali dipakai. Hahaha, labil!















Kamis, 22 Mei 2014

CATATAN UNTUK SI MANTAN PLAYBOY

Kemarin lusa, di siang yang cukup panas di kantor IBC, saya bertemu Tri Em. Akhirnya kami bertemu, setelah sebelumnya hanya berkirim email dan saling mention atau DM di Twitter. Pertemuan kami terbilang nyentrik. Begini. Ketika saya keluar dari ruang kerja hendak mengambil minum, saya baru sadar kalau anak yang naskah bukunya sempat  saya edit ini sedang duduk di depan rak buku IBC. Kalau ingatan saya tidak salah, saat itu ia sedang duduk bersila ditemani rokok dan tumpukan buku karyanya, Catatan Mantan Playboy. Ternyata malamnya ia menginap di kantor IBC setelah pulang dari acara Booklovers di Sewon Bantul.

Awalnya saya canggung. Tapi untunglah, kegiatan mengambil air di dispenser dapat mengobati kecanggungan saya dengan cepat. Hehe. Lalu saya menyapanya dengan sok akrab dan sok asik.

 “Hei Tri Em! Akhirnya ketemu juga. Gimana bukumu? Laris?”

Maafkan saya sungguh. Entah karena canggung atau apa, saya bahkan lupa apa jawaban Tri Em atas sapaan saya waktu itu. Hahaha! Memalukan sekali.

Pada hari itu, yang jelas saya dan Em tak sempat ngobrol banyak. Sikonnya sedang tidak enak. Kantor sedang padat, saya sedang mengerjakan naskah yang memusingkan kepala, dan jam satu saya harus ke USD mrican untuk sekolah.

Hari berikutnya, kami bertemu lagi. Di tempat yang sama, dan di cuaca yang sama pula. Panas. Kali ini kami sempat ngobrol lama dan lumayan seru. Saya baru sadar bahwa bayangan saya tentang Em sebelum dan sesudah kami bertemu sungguh berbeda. Dulu saya mengira bahwa Em adalah anak laki-laki yang tinggi, kurus, berhidung mancung, dan cool. Penggambaran macam itu jelas cocok sekali untuk seorang playboy. Tapi ternyata, setelah kami bertemu 50% gambaran saya runtuh. Hahaha! Tunggu, jangan salah paham dulu. Menurut saya dia manis, meski kurang cocok untuk image seorang playboy.

Siang itu kami asyik ngobrol berempat. Saya, Em, Mbak Yayas (kepala editor IBC), ditemani celetukan-celetukan Mas Bajang yang sedang sibuk memasak di dapur IBC. Em bercerita bagaimana perasaannya ketika naskah Catatan Mantan Playboy-nya saya corat coret tanpa ampun. Ia sempet mengatai saya galak, tentu saja dengan gaya bicaranya yang lucu dan cadel. Saya berulang kali tertawa mendengar ceritanya dan mengorek lebih dalam tentang pengalamannya menerbitkan buku di IBC. Em siang itu, sungguh mirip dengan tokoh Candra Gunawan di Catatan Mantan Playboy. Jujur dan apa adanya.

Mungkin saya tak sempat cerita banyak padanya siang itu. Bagaimana proses editorial bukunya dari sudut pandang saya. Jadi, untuk Em, simak ini baik-baik ya. Hehehe.

Halaman pertama naskah buku Em sejujurnya telah berhasil menarik perhatian saya. Bagi yang pernah sekolah, tentu akan tertarik dengan adegan-adegan awal di buku Em. Sambil mengingat masa sekolah yang menyenangkan, saya kemudian mulai mengedit naskahnya. Awalnya, tak banyak kesalahan saya temukan di naskahnya. Kalau pun ada kesalahan, biasanya hanya typo atau pilihan kata yang kurang tepat. Tapi semakin banyak halaman yang saya baca, semakin pening kepala saya dibuatnya. Ada begitu banyak kalimat yang struktur, maksud, dan logikanya tak jelas. Kadang dalam satu paragraf, ada beberapa kalimat yang entah dari mana asal-usulnya bisa menyempil tanpa rasa berdosa. Sebagai editor yang baik, tentu saja saya tak tinggal diam. Saya memberinya begitu banyak catatan, coretan, dan caci maki.  (*eum, yang terakhir sepertinya agak lebay) Kadang saya menyarankan kalimat-kalimat di naskahnya diganti seperti ini saja, atau seperti itu saja. Karena terlampau banyak catatan dari saya dan revisi yang harus dibuat Em, kami jadi sering berkorespondensi.

Meskipun saya sering uring-uringan ketika mengedit naskahnya, saya bersyukur Tri Em merupakan salah satu penulis muda yang ber-attitude baik. Ia tak pernah keberatan dengan catatan merah, kritik pedas, dan saran editornya. Ia selalu menerimanya, dan belajar memperbaikinya. Semua kerja keras dan ketekunan Em dalam proses penerbitan bukunya terbayar sudah. Kini Catatan Mantan Playboy tidak saja menjadi buku yang menarik untuk dibaca tetapi juga memiliki pesan mendalam untuk para pembacanya, khususnya anak muda.

Pada akhirnya, meskipun penutup saya akan terdengar klise. Tapi sungguh, percayalah, tak ada karya hebat tanpa proses yang panjang nan berliku. Jadi kawan, alih-alih terburu nafsu mengejar hasil yang maksimal, nikmatilah dan hargai setiap prosesnya. Bertekun dan bekerja keraslah untuk dapat memperoleh hasil yang terbaik. Mungkin kalian bisa mencontoh Em. J

Saya sudah cocok jadi motivator belum? Hahaha! Salam sukses selalu.



Rabu, 07 Mei 2014

Mulai Bulan Depan

"Mulai bulan depan gausa dikirimin aja, Mah. Biar aku belajar mandiri. Hehehe."

Jadi kurang lebih seperti itulah keputusan yang kuambil tak lama setelah kita berbincang. Sudah cukup lama ingin berkata begitu. Tapi baru benar-benar fix kemarin lusa. Berat juga sebenarnya, mengingat kebiasaan suka beli ini itu dan pengen ini itu. Hehe. Tapi, dipikir-pikir, sudah seharusnya begini. Malu lah yah, sudah usia memberi, bukan diberi. Jadi rencana, bulan depan aku akan berdikari. Cukup gak cukup harus cukup! Sempat gak sempat harus dibales! eum, maaf,  yak, penelpon selanjutnya, dengan siapa di mana? :p

Senin, 21 April 2014

Hemhemhem~

Hampir keluar kayaknya isi kepala ini mikirin pantai. "hemhemhem~," kata Donny Iswara.

Kamis, 17 April 2014

ROLL 30 (Nikon FM 10)

Tumpang Tindih. Bromo dan kontrakan Sita.


Sunrise dan Nyokap


Cuma dapet sunrise di perjalanan menuju Bromo. Pedih.

Wah, mb Sita siram-siram. Hhe~
Sampai di puncak kawah Bromo.

Nyemut.

Hari ini anaknya ultah, tuip! Hhe~

Selamat pagi Semarang!

Selulit, eh, siluet Uniph. :p

Senin, 17 Maret 2014

YANG ADALAH

Kurang tahu persis kapan mainan ini kami mulai. Mungkin sedikit berbeda dengan pasangan-pasangan yang lain yang suka main kejar-kejaran di pantai, atau ci luk ba di balik pohon, atau main perang bantal. Mainan kami ini agak nyeleneh. Aku dan kekasihku gemar bermain kata-kata geje bin gak penting, tapi menyenangkan. Sering kali mengundang tawa, antara tawa gemas dan sebel sih sebenarnya. Entah ini bisa disebut mainan atau tidak. Ada banyak contoh, dari akronim, panggilan, sampai ucapan yang cuman kami dan Tuhan yang tahu artinya. Aku pun heran, dari mana semua itu datang. Apalagi mengingat hampir semua kata geje yang kami mainkan diciptakan oleh doi.

Panggilan cupdud, untukku dulu; IPI, nama gitarku yang sudah kujual; IOP nama panggilan sayang untukku; MINTHI nama motorku; PING SOA nama bonekaku; dan masih banyak nama barangku yang diberi nama olehnya. Sungguh aku tak paham betul bagaimana proses kreatif penciptaan nama-nama itu berlangsung. Beberapa waktu yang lalu,  kekasihku juga membantuku mengusulkan tagline untuk sebuah buku. Sampai pada akhirnya usulnya tersebut dipakai. Ah, terlalu banyak sih sebenarnya ide yang telah ia sumbangkan untukku. Siapalah aku yang miskin ide ini? Hehehe.

Saking banyaknya kata yang kami mainkan, kadang aku lupa siapa (di antara kami) pencipta kata-kata tertentu. Sungguh, persoalan permainan kami ini adalah persoalan krusial, sampai-sampai harus spesial kuposting di blog. :P Ini ada beberapa contoh mainan yang sering kami pakai, semoga kalian tidak malu atau mual-mual saat membacanya. Mengingat, umur kami yang—ya ampun—sudah pasti akan tampak nyebahi jika mengucapkan kata-kata ini.

·      “Lagi di mana, Ndoro?”
      “Timyu”
(*Dari kata Hatimu, diplesetkan jadi Hatimyu, lalu disingkat. Please, mengertilah, orang yang sedang jatuh cinta emang suka norak.  Sekarang, setelah hampir 4 tahun, kadang kami suka bete ketika salah satu dari kami menjawab timyu untuk setiap pertanyaan pendek yang kami lontarkan satu sama lain. Ya, memang menyebalkan. Apalagi kalau semisal ditanya: Mau makan di mana nih? | Timyuuu. Hahaha!)

·      Demes
Demes adalah kepanjangan dari dempet mesra. Kadang kami menggunakan istilah ini untuk menyuruh orang lain duduk berdekatan, biar demes. Apadeh. Tapi sekarang, hampir semua yang nyaman dan asyik kami sebut dengan demes. Kami? Elo aja ka…. Sudah sudah jangan ribut.

·      Mutal aka muka bantal
Sebutan buatku dulu yang bisa tidur kapan saja dan di mana saja.

·      Pitikih dari bahasa Jawa pie to iki? (gimana sih ini?)
Kalau ini baruuu. Cuman doi yang sering memakainya.

·      Suter dari kata stress, diplesetkan jadi suteres, kemudian disingkat. Udah jangan protes, nurut aja. Daripada panjang nanti urusannya.

Itu hanya beberapa. Kadang suka ada yang baru muncul. Sering kali, tanpa harus bertanya, kami sudah paham maksudnya.
Beberapa waktu ini, ada yang baru. Awalnya bikin sebel. Sebab ketika doi kutanya sesuatu, apa saja pertanyaannya, dan apalagi ketika dia sedang malas-malasan, doi hanya menjawab: wedhus. Tentu saja sambil cengengesan.

Ndoro, ini tuh maksudnya apa?
“Wedhus”

“Enaknya aku bikin presentasi tentang apa ya besok?”
“Tentang wedhus”

“Artinya apa itu, Ndoro?”
“Wedhus”

Dan masih banyak wedhus-wedhus yang lain. Nyebelin ya?

Eh, tapi tunggu dulu. Awalnya memang menyebalkan, tapi kemudian, aku justru merasa ini bisa jadi mainan baru. Ya! Mainan baru kami! Meskipun aku jarang memainkannya, tapi aku pernah iseng  menjawab wedhus ketika doi bertanya, dan itu terasa begitu menyenangkan. Iseng dan ngasal memang menyenangkan, ya?

Ada baiknya juga si wedhus tadi itu muncul di antara kami. Karena dari situ aku bisa belajar untuk tidak melulu terlalu serius menanggapi sesuatu, untuk lebih santai, dan gak mudah bete kalau orang lain bertingkah suka-suka.

Yang adalah wedhus merupakan penemuan baru doi yang belakangan ini mengisi hari-hari kami. Tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, apalagi dicium, tapi dapat membuat kami gemas, sering kali tertawa. Tentu saja wedhus ini bukan wedhus biasa. Wedhus yang adalah wedhus. Wedhus yang apa banget. Ya, seperti postingan ini yang apa banget. Hari ini meski bukan hari anniversary kami, tapi nggak apa-apa kali ya, romantis sekali-sekali. Cuman mau bilang terima kasih buat ide-ide kreatif yang selalu ada dan menyenangkan untuk dimainkan bersama.Hehe. Lefyu..


Selasa, 04 Februari 2014

Selamat Ulang Tahun Om Jay

Mungkin Om adalah orang kesekian yang kukenal yang memiliki hati yang begitu besar.
Hati yang besar tidak sama dengan besar hati. Untukku, hati yang besar adalah hati yang tulus, yang penyayang, yang sabar, yang pemaaf, yang bijaksana, derma, dan sebagainya.
Sebenarnya tidak banyak orang yang kukenal yang memiliki hati yang besar. Mungkin sepuluh jari masih kebanyakan. Tapi selamat Om, Om Jay adalah satu di antaranya. Om adalah satu dari 3, 4, atau lima orang yang berhati besar yang kukenal. Sekali lagi, selamat Om.

Hari ini, meskipun aku tidak tahu berapa persisnya usia Om, dan meski aku tahu bahwa hari ini Om ulang tahun pun dari notification di Fesbuk, dengan tulus ingin kuucapkan, "Selamat ulang tahun, Om Jay". Belajar dari kekasihku, aku hanya berharap Om selalu dikaruniai kesehatan. Walau aku tahu begitu banyak doa spesial yang yang dapat kita panjatkan di hari ulang tahun. Tapi, kupikir-pikir 'sehat selalu' adalah doa yang paling mujarab lho Om. Kenapa? Sebab, dengan sehat, Om bisa melakukan apa saja; bekerja, makan enak, jalan-jalan, dan berbahagia. Iya tho? Hehehe.

Oiya Om, aku juga mau berterima kasih untuk semua kebaikan dan perhatian yang sudah Om berikan buatku, buat mamah, Mas Kevin, Dik Amy, bahkan kekasihku. Cuman Tuhan yang bisa membalasnya. Sekali lagi, selamat Om, selamat ulang tahun, selamat berbahagia!

With love,
Iop :))



Kamis, 19 Desember 2013

"Saya" bukan "Aku"

Sudah hampir dua puluh empat tahun, dan saya, masih kaget, belum bisa menerima, atau mungkin tidak percaya bahwa di hidup ini banyak hal yang aneh, kotor, dan mengerikan terjadi. Ada bapak-bapak muda kaya yang ngehe, doyan jajan, dan sok segalanya. Ada intrik politik kotor yang menjijikkan. Ada pemuda desa yang sok berkuasa dan memuakkan. Ada lirik lagu murahan tentang perselingkuhan. Ada orang yang entah kenapa suka sekali ngomong kasar dan main tangan. Ada mbak-mbak desperado akan jodoh, dan nyinyir menyindir. Ada percintaan beda agama yang mau kawin aja ribet naudzubillah. Ada film-film akan rilis tapi gagal, karna diprotes sana sini. GILA.

Rasanya sedih, rasanya ngeri. Rasanya enggan tahu yang seperti itu. Tapi gimana mungkin, semua terjadi di sekitar kita. Seringkali di depan mata. Mungkin selama ini saya menutup mata, terlalu naif, cuek, terlalu asik dengan dunia sendiri. Pembelaan saya: tentu saja, hidup di dunia yang kita buat sendiri itu lebih menyenangkan. Kadang saya malas menjadi dewasa karena terlalu banyak intrik dan kerumitan yang sebenarnya tidak harus terjadi. Kalau banyak uang lalu kenapa? Kalau sangat pintar lalu apa? Kalau punya dan bisa segalanya trus mau apa? Kalau saya Kristen, kamu Islam, salah? GILA.

Kenapa musti ribet, kalau ada yang sederhana? Kenapa musti ini itu, kalau sudah bisa makan teratur, menuntut ilmu, tidur nyenyak, menyayangi, disayangi?

Mungkin saya belum siap jadi dewasa. Atau belum cukup dewasa. Atau bisa jadi saya sama ngehe dan soknya dengan bapak-bapak muda tadi. Bisa jadi juga saya stress dan gila. Ya bisa jadi. Tapi jujur, saya sudah bahagia dengan hidup saya sekarang, yang sederhana. Meski harus jual gitar untuk ikut kursus TOEFL, sebab skor yang gak berkembang. Meski sudah dua bulan kerja geje tanpa dibayar. Meski Minthi minta diserpis mulu. Meski, pada akhirnya masih saja duit orang tua yang turun tangan, di usia segini (hiks). Meskipun, meski-nya banyak. Tapi saya bahagia. Karena itu berarti, Tuhan masih memberikan kesehatan dan rejeki pada orang tua saya. Saya juga masih punya kamu yang begitu baik, setia, dan tulus hati (saya sangat bersyukur untuk yang satu ini), saya juga punya adik yang kuliah di Jogja, sehingga dengan begitu saya bisa rutin ke gereja. Saya juga punya kakak, teman, mantan, yang baik dan perhatian. Saja juga masih punya banyak waktu untuk menggambar, dan masih diberi kesempatan untuk memberi untuk orang di sekitar.

Jadi, bersyukurlah, berbahagialah! Untuk hal-hal kecil yang sudah kita miliki, yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Dan jagalah itu baik-baik.
Hehehe. Ngomong apa, Yop?
Ngomong tuwo!
Lagi PMS. Sensi! :)) 

Selasa, 01 Oktober 2013

Pagi yang ada Kamunya

Kamu tahu, tidak ada pagi yang lebih manis dari pagi yang ditemani suara dengkur lembut, peluk hangat, dan belai tanganmu. Seringkali malah bonus cium.
Meskipun hanya sekali seminggu, rasanya cukup untuk membuatku semangat menjalani 5 hari padat merayap. 5 hari yang melelahkan.
Kalau biasanya aku doyan menggombal, percayalah, kali ini aku serius. Aku cinta pagiku yang ada kamunya. :')

Sabtu, 21 September 2013

Tanpa Jejaring

Besok genap seminggu aku mengurangi keaktifan di media social networking. Rasanya lumayan. Hidup terasa lebih tenang. Jarang galau. Jarang bete. Kesepian? Masih sih kadang-kadang. Hahahaha. Tapi gak sesering dulu pas aktif di jejaring kok. Meskipun belum total deactive semuanya. Karena emang niat utamanya mau menahan diri dari godaan nyetatus geje, galau, curhat, pamer, caper, dan sebagainya doang sih. Dan aku cukup berhasil. Ntah deh mau lanjut sampai kapan.

Meskipun demikian, aku tetap butuh pelarian agar perasaan atau pikiranku tidak bisa sewaktu-waktu meledak. Nulis diary atau nulis di sini misalnya. Maka dari itu, blog ini mungkin sewaktu-waktu akan kuupdate. Yah meskipun gak bisa sering2 juga sih. Oiya, instagramku juga masih aktif. Karena gambar2 dan foto2 di sana terlalu berharga untuk tidak ditengok. :))

Kalau mau ketemu, sms aja, telpon, atau main ke kontrakan juga boleh. Salam damai selalu! hehehe