Sabtu, 25 Februari 2017

Lelaki yang Kuat dan Gagah Berani



Anakku, Kaka, waktu ibu menulis ini, esoknya kamu berusia genap 3 bulan. Kelak, ketika sudah bisa membaca, sudah mengerti bagaimana bayi bisa muncul dan terlahir, ibu akan membiarkanmu membaca cerita ini. Cerita tentang kamu. Cerita tentang bagaimana kamu hadir dan mewarnai hidup bapak dan ibu.

Nak, sebenarnya, kalau boleh jujur, bapak dan ibu tidak pernah menyangka akan memilikimu secepat ini. Khususnya ibu. Hehe. Dulu, ketika masih SMA, ibu berniat menikah di usia 28. Ibu juga tak punya bayangan akan memiliki anak. Sebab setahu ibu, berkat cerita omamu, melahirkan itu sakit sekali. Memiliki anak itu menyusahkan sekali. Selepas SMA pun, ibu merasa dunia dan bumi sudah cukup padat, semrawut, dan gila untuk ditambahi lagi populasinya. Sepertinya cukuplah sudah biar ibu dan bapak dan semua orang di sini saja sekarang yang semrawut dan merasakan kegilaan ini. Tapi ternyata jalan ceritanya berbeda. Lagi-lagi ibu cuman bisa mesem dan mbatin, Gaya banget lu Yop dulu, sok idealis.

Nyatanya, ketika ibu bertemu bapakmu dan jatuh cinta, ibu ingin cepat-cepat menikahi beliau. Hehe. Jangankan umur 28, kuliah saja belum lulus. Masih bau kencur, labil, dan embuh. Tenang Nak, pada saatnya nanti kamu akan merasakan perasaan macam ini. Agak gak logis, impulsif, tapi asyik. Jadi kamu bisa memahami posisi dan kondisi ibu waktu itu. Meski pasti sedikit berbeda, karena kamu laki-laki.

Benar saja Nak, setelah ibu dan bapak pacaran cukup lama, 5 tahun waktu itu, akhirnya kami menikah. Seperti yang ibu bilang di paragraf kedua tadi, semoga kamu masih ingat, sejujurnya kamu muncul di luar rencana, Sayang. Bukan tidak diharapkan lho ya, cuman di luar rencana. Tidak diharapkan dan di luar rencana itu sangat berbeda, jadi jangan salah paham ya. Sebagai wanita yang suka anak kecil, kadang ibu ingiiiiiin sekalii langsung bet bet bet punya anak. Tapi kan punya anak tidak segampang itu. Jadi ibu kan tidak semudah itu. Apalagi ibu masih suka haha hehe, main ke sana kemari, masih pengen mengembangkan potensi. Maaf ya, Ka, kalau alasan yang terakhir ini terdengar agak sok yes. Tapi memang begitulah adanya. Mental ibu jujur saja waktu itu masih mental krupuk, yang dicemplungin ke kuah bakso. Ting plekenyik.

Program untuk menunda memilikimu akhirnya jebol, Nak. Metode penanggalan untuk menunda kehamilan, apalagi buat tipe orang yang suka teledor macam ibu sangat tidak dianjurkan. Belajarlah dari pengalaman ibu dan bapak ya. Hehe. Akhirnya ibu positif hamil. Perasaan ibu waktu tahu akan punya kamu itu agak random. Ya sedih, ya takut, ya seneng, ya excited. Kayaknya bapakmu sih sama aja. Coba nanti kroscek sendiri ke bapak. Ibu merasa masa muda ibu sudah benar-benar usai. Oiya, ibu lupa ngasi tahu ya, waktu ibu hamil kamu, ibu berusia 26 tahun. Sebenernya gak muda-muda banget sih, tapi buat ibu itu masih kecepetan. Please jangan tersinggung lho ya, Sayang. Mengertilah.. Tapi kemudian ibu ikhlas Nak. Ibu bersyukur dan senang sekali akan memilikimu. Ibu, yang suka sekali anak kecil ini akhirnya akan punya sendiri. Rasa penasaran bagaimana rasanya punya anak, atau nanti kalau punya anak akan mirip siapa, akhirnya akan terjawab sudah. Lagi pula bapakmu kan emang sudah wayahnya punya anak. Maaf ya, Pak. Sudah diperhalus kok bahasanya. Hehe.

Awal hamil kamu? Sebentar Nak, sabar Sayang. Akan ibu ceritakan.

Lagi-lagi ibu bersyukur karena awal hamil kamu ibu gak merasakan susah yang teramat sangat. Mual iya, lemes, pusing, dan mood swing. Muntah sekali dua kali saja. Itu pun cuman di trimester awal. Dari situ ibu yakin bahwa ibu mengandung janin yang kelak mirip bapaknya. Sebab semasa hamil bapak, simbahmu sama ngebo-nya seperti ibu. Beda dengan oma yang selama hamil 3 anak (ibu, pakdhe, dan tantemu) banyak banget keluhannya.

Setelah 3 bulan hamil kamu, akhirnya ibu dan bapak pergi ke dokter kandungan yang sudah kami sepakati. Lho, kenapa baru ke dokter setelah usia kandungannya 3 bulan, Bu? Nanti ibu ceritakan langsung saja ke kamu, ya. Soalnya alasannya sedikit personal, malu kalau dibaca orang banyak. Di momen itulah ibu dan bapak pertama kalinya melihatmu, Sayang. Kamu yang bentuknya belum jelas, tapi sudah bisa diliat gerakannya. Sepulang dari periksa, ibu sempat menangkap ekspresi bapakmu yang bersinar. Tentu karna tahu bahwa kamu memang nyata ada, hidup, dan bertumbuh. Bisa dikatakan itu momen magis kita bertiga.

Anakku, Bhadrika. Ibu tidak nyidam aneh-aneh ketika mengandungmu. Pengen makan ini itu sih iya, tapi gak susah. Sebelum hamil kamu pun ibu sudah suka pengen makan ini itu. Beruntungnya bapakmu. Ibu juga masih bekerja, menggambar, jalan-jalan, pergi ke sana kemari sendiri, naik motor, nyetir mobil, bahkan sampai usia kandungan 40 minggu. Ibu tahu kamu kuat, seperti arti namamu. Oh iya, ngomong-ngomong soal nama. Lupa waktu kamu usia berapa bulan di perut, ibu dan bapak dengan mudah dan cepatnya menyiapkan dua nama. Dua nama karena kami waktu itu belum tahu jenis kelaminmu. Sebab kamu baru menunjukkan jenis kelamin di usia 7 bulan.

Ibu bilang pada bapakmu kalau ingin memberimu nama dari Bahasa Sansekerta. Dan mungkin hanya sekitar 15 menitan berselancar di internet, kami sudah dapat saja nama yang cocok untukmu. Bhadrika Nagendra. Lelaki yang kuat dan gagah berani. Karena nama itu kami rasa cukup sulit dihafal dan dieja, jadi kami panggil saja kamu dengan nama pendek: Kaka. Terdengar pendek dan cute, kan? Eh, tapi kan waktu itu ibu dan bapak bapak belum tahu kamu laki-laki ya? Jadi opsi kedua, untuk nama perempuan kami memilih nama Dira Ekanta, gadis yang tekun dan bijaksana. Meski pada akhirnya terbukti feeling kami berdua benar karena sudah memanggilmu “Kaka” bahkan jauh sebelum jenis kelaminmu ketahuan.

Sekitar setelah 40 minggu, akhirnya kamu lahir juga, Nak. Jadi jangan salah ya. Sebenarnya, para ibu normalnya mengandung selama 39-41 minggu. Jadi lebih dari 9 bulan, atau malah 10 bulan. Tapi sampai sekarang banyak sekali orang yang bikin lagu, nyebut, ngungkit bahwa wanita mengandung selama 9 bulan. Padahal lebih, dan mengandung selama itu tidaklah mudah.

Begini cerita proses kelahiranmu, Nak..

Hari Kamis, 24 November 2016 dini hari ibu mulai mengalami kontraksi yang durasinya tidak lama, dan interval satu kontraksi dengan yang lain belum terlalu dekat. Itu pun masih terasa seperti kram kram menstruasi hari pertama. Tentu kamu tidak tahu rasanya kram menstruasi hari pertama ya, kamu kan laki-laki. Intinya, kontraksi yang ibu rasakan waktu itu belum terlalu hebat. Masih biasa lah. Ibu sebenarnya sudah berharap bahwa hari itu kamu akan lahir. Sudah gak sabar pengen lihat kamu dan sudah engap dengan perut yang segede semangka. Tapi ternyata setelah beberapa lama, kontraksinya hilang.

Jumat, 25 November dini hari. Kontraksi itu muncul lagi. Seingat ibu sih waktu itu jam 1 pagi. Ibu masih sempat watsapan dengan teman ibu di grup GKI (Gunjing Klub Indonesia) yang cuman berisi 6 orang (nanti ibu kasih tahu kamu siapa saja yang ada di grup itu, hehe) sambil meringis meringis nahan sakit. Sakitnya masih sama, belum banget. Kali ini kontraksinya timbul tenggelam lebih intens, dan durasi sedikit lebih lama. Menurut beberapa instruktur yoga hamil yang ibu tonton di Youtube, ada baiknya waktu kontraksi datang lebih intens dan kuat, si ibu bisa melakukan beberapa kegiatan seperti jalan kaki, mandi air hangat, nungging nungging, atau duduk di gym ball sambil menggoyang-goyangkan panggul. Ibu melakukan yang terakhir. Dari dini hari, subuh, sampai matahari terbit kontraksi itu terus muncul dengan intens. Aduh jangan ditanya berapa menit sekali ya, ibu lupa. Yang inget cuman nyerinya. Bapakmu sudah siaga. Nunggu komando dari ibu doang untuk berangkat ke rumah sakit.

Paginya, pukul setengah 6 pagi, ibu sempat ke kamar mandi untuk memakai pembalut karena sudah mulai muncul flek. Perasaan ibu waktu itu super excited dan agak nervous. Pas balik dari kamar mandi dan mau tidur di kasur, mak pyurrr air ketuban ibu pecah begitu saja. Lumayan banyak, Nak. Segeralah ibu, bapak, dan simbahmu ke rumah sakit. Sampai di UGD dicek oleh bidan sudah sampai bukaan berapa. Pas ibu dengar ternyata belum bukaan sama sekali, mayan dongkol juga sih. Karena air ketuban ibu sudah pecah sebelum waktunya, maka ibu sudah harus berada di ruang bersalin. Kontraksi terus berjalan dan semakin hebat. Bukaan demi bukaan terjadi dengan sangaaaat lambat. Katanya sih memang begitu kalau anak pertama, walau ada juga ibu baru yang mengalami prosesnya dengan cepat.

Di minggu-minggu terakhir ibu sempat berpesan kepada bapakmu untuk melakukan beberapa hal ketika nanti ibu mengalami kontraksi hampir lahiran, seperti mengelus kepala, memijat-mijat halus punggung, mengingatkan untuk mengatur napas, dan memberikan kata-kata penyemangat. Ternyata Nak, pada praktiknya ibu justru tidak ingin disentuh sama sekali. Ibu dengan juteknya menepis tangan bapakmu yang menyentuh-nyentuh atau disodorkan untuk ibu pegangi ketika kontraksi datang dengan hebatnya. Rasanya badan sakit semua, tulang-tulang terasa ngilu hebat. Ibu tidak ingin disentuh dan tidak ingin mendengar suara apa pun. Kalau bisa malah tidak usah ada yang menjaga. Tapi tentu itu tidak mungkin, karena bagaimanapun, ibu tetap butuh pendamping untuk memberi semangat, mengingatkan ibu untuk mengatur napas, nyuapin ibu yang sama sekali gak napsu makan selama kurang lebih 18 jam kontraksi (iya, diisi makanan, yang ada malah muntah), serta ngipasin dan ngelapin keringet ibu yang sejagung-jagung. Dan itu semua bapakmu lakukan dengan telatennya (gantian dengan simbahmu juga btw). Kalau ada wanita yang lihat bapakmu di momen itu, sudah pasti akan termehek-mehek. Beberapa kali ibu bahkan dicium oleh bapakmu di depan para bidan dan dokter. Sayangnya momen romantis itu terjadi di saat genting yang semuanya terasa sama di diri ibu, sakit. Hehehe. Namanya juga lagi proses lahiran.

Memang sudah sepantasnya seorang ibu kesakitan selama proses melahirkan, karena begitulah proses alami persalinan normal. Jadi sebisa mungkin ibu bersabar, menarik napas lewat hidung dan mengembuskan lewat mulut, mendesis, menahan semua itu sampai kamu lahir. Tidak ada kata keluhan, apalagi marah-marah. Ibu berusaha untuk tetap tenang meski suasana jiwa raga tak keruan. Dicoblos 4 kali karena si bidan gak nemu pembuluh darah untuk infus pun ibu pasrah. Sekitar satu dua jam setelah bukaan 8, pukul 19.10 tepatnya akhirnya kamu lahir dengan indahnya. Rasanya nikmat sekali bisa mengeluarkanmu dari rahim ibu. Lega sekali. Awalnya tangisanmu tidak begitu lantang, tapi setelah dibersihkan oleh para bidan, kamu menangis keras sekali. Ibu harus akui, kamu bayi paling tampan yang pernah ibu lihat. Persis bapak, kata simbahmu. Tentu ibu percaya itu. Mungkin ini terdengar aneh, tapi tidak ada keharuan yang muncul ketika kamu lahir. Ibu apalagi bapakmu tidak menangis haru sama sekali. Kami malah senyam senyum girang kayak anak kecil dapat mainan baru. Sungguh momen yang jauh dari suasana melo dan mengharu biru. Apalagi ibu masih harus dapat jahitan cukup banyak usai melahirkanmu. Yes, the struggling isn’t over yet.

Ternyata menjadi orangtua baru tidaklah mudah, Nak. Banyak yang belum ibu apalagi bapakmu tahu tentang seluk beluk perbayian. Kami terlalu menyepelekan dan santai. Benar saja, bulan pertama adalah bulan pontang panting. Langsung searching tiap panik atau ada masalah baru muncul (untung sudah ada internet) dan tanya sana sini. Pontang panting deh. Dari sini kamu bisa belajar, Ka. Sebisa mungkin kamu sudah punya basic pengetahuan tentang bayi, sebelum kamu punya anak. Jangan dong dong blong kayak bapak dan ibu. Pelajari apa yang harus dan tidak boleh dilakukan usai bayi lahir. Pelajari tentang per-ASI-an (jangan salah, laki-laki juga wajib sekali tahu tentang ini). Bagaimana seharusnya merawat bayi dan menjadi suami siaga. Suami siaga berarti suami yang berpengetahuan luas, selalu ada saat dibutuhkan, rela membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, penuh pengertian dan kasih sayang.

Anakku, Bhadrika, dulu, mungkin di masa kakek kakekmu ke atas, kaum pria memang sangat jauh dari urusan ini. Maksud ibu urusan rumah tangga dan anak. Yang mereka tahu cuman terima beres. Kalau ada apa-apa perihal urusan domestik dan anak bisanya cuman nyalahin istri. Yah, seharusnya ibu tak menyamaratakan, karena bisa saja ada beberapa pria yang tidak begitu. Tapi semakin ke sini, ibu rasa, sudah banyak pria yang punya kesadaran akan kesetaraan gender. Bapakmu contohnya. Mereka tidak ragu untuk turun mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Mereka juga membiarkan istri mereka bekerja dan berkarya. Beberapa pria bahkan memilih profesi sebagai bapak rumah tangga. Ibu pikir pada masamu nanti sudah tidak ada lagi isu tentang kesetaraan gender. Yah, semoga saja.

Kaka, terima kasih sudah membaca cerita ibu yang panjang ini ya. Jadi 4 halaman kalau dalam format A4, 9 halaman format A5. Semoga cerita ibu bisa jadi bukti sejarah bahwa kehadiranmu sangat berarti buat bapak dan ibu. Ibu sangat menyukai kenangan, maka ibu mengabadikan ini.  
Anakku sayang, Bhadrika Nagendra, selamat ulang bulan yang ketiga. Ibu percaya, sesuai namamu, kamu akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan pemberani yang semoga bisa berguna untuk sesama makhluk hidup dan alam sekitar. Peluk dan cium.



Kamu usia 3 bulan kurang 1 hari

Senin, 25 Januari 2016

2016 dan 26

Terakhir kali menulis di blog ini tahun kemarin, 2015, bulan September (yah gak lama-lama amat), usia masih 25. Sekarang sudah 2016, sudah 26 tahun, dan sudah menikah! Halah pake tanda seru segala.

Jadi begini, saya sebenarnya mau cerita banyak. Tapi sayangnya kemampuan menulis dan bercerita panjang lebar yang pernah saya miliki dahulu kala, kini berangsur-angsur menghilang. Yah kita lihat aja nanti apakah tulisan ini akan berakhir singkat atau panjang. hehehe

Dimulai dari usai lebaran tahun 2015, saya lupa tanggal persisnya, pada akhirnya Ndoro datang ke rumah untuk melamar saya. Jangan bayangkan acara lamaran yang gegap gempita. Hehe. Ini mungkin model lamaran satu-satunya yang ada di dunia: dia datang hanya berdua (bersama temannya), sebenernya tujuan utama sih menjemput saya balik ke Jogja tapi yah mungkin sekalian aja ngelamar ke ortu (mungkin begitu maksud Ndoro), hanya ada mamah dan adik saya di rumah (kami masak ala kadarnya, tapi tentu tetap maknyus), lamaran berlangsung santai (kayak ketemu temen yang lama gak ketemu), usai ngobrol tentang rencana pernikahan, saya langsung menuju ke Jogja (gila kan?). Hahahaha.

Mempersiapkan segala sesuatu menjelang pernikahan tidaklah mudah. Apalagi kami dari keyakinan dan latar belakang keluarga yang berbeda. Tapi terpujilah Tuhan semesta alam, semuanya berjalan dengan lancar meski berat dan terseok-seok. Tanggal 11-12-15 akhirnya kami resmi menjadi suami istri. yihaaaa! 

Acara pernikahan kami sangat sederhana. Ijab di KUA, syukuran kecil-kecilan di rumah Ndoro di Sidoarum. Hanya ada beberapa teman dekat dan keluarga yang datang. Kami memang berniat tidak mengundang banyak orang dengan alasan males ribet. Rencana foya-foya atau pesta anak muda yang kami rancang pun tidak terlaksana karena suatu hal. Tapi yasudahlah, kami ikhlas dan legawa. Itung-itung hemat untuk kebutuhan usai pernikahan. Cie bijak banget. Hehe. Usai menikah saya sedikit pontang-panting untuk menyesuaikan diri dengan keluarga besar suami. Maklum, selama pacaran saya hanya dikenalkan Ndoro ke Ibuk dan dua adiknya saja. Selebihnya tak ado. Padahal keluarga suami dari Ibuk saja jumlahnya banyak bukan main. Itu belum yang dari almarhum ayah mertua di Lampung sana. Bisa gila kalau ketemu semua. Hmmm.. Ditambah tamu-tamu yang tak kunjung selesai berdatangan sampai beberapa hari usai pernikahan. Niatnya mau nikah dengan tenang, tetep aja enggak tenang. Hehe tapi gak papa, semuanya bisa dilalui dengan lumayan mulus. 

Kini saya tinggal bertiga dengan Ibuk dan suami tentu saja. Rumah Sidoarum ini nyaman sekali: asri, luas, rapi, dan bersih. Saya bahkan diijinkan Ibuk untuk menjadikan bangunan kecil di halaman belakang, di bawah pohon rambutan,  menjadi bengkel saya. Saya dibuatkan rak, dibuatkan penutup jendela juga oleh Ibuk. Seru deh! Bengkel saya di rumah adalah ruang kerja dan bermain saya. Di sana ada koleksi buku saya dan suami, TV, ampli, meja kerja, perkakas menggambar, dan sebagainya. Mirip kos-kosan lah pokoknya, minus kasur aja. Hehe. Saya suka menghabiskan waktu di sana untuk menggambar, bekerja, atau hanya nongkrong. 

Lalu bagaimana rasanya menikah? Hihi, untuk ukuran pengantin baru yang sudah berpacaran 5 tahun dan satu bulanan menikah, kehidupan pernikahan awal-awal bulan ini lumayan menyenangkan. Kenapa? Ya menyenangkan lah, karena akhirnya saya bisa ketemu orang yang saya sayang tiap hari. Dulu waktu pacaran (setelah saya lulus dan kerja terutama) ketemu cuman seminggu sekali dua kali karena kami sama-sama sibuk kerja. Sebagai seorang perindu jelas saya sering tersiksa. Uda kerja capek, gak dapet asupan nutrisi di luar makanan lagi. Heheu. Tapi sekarang saya puas banget bisa ketemu si doi tiap hari, selalu ada orang yang bisa diajak ngobrol bareng langsung (enggak lewat hp), bisa ndusel-ndusel, seru deh. Duh maaf ya geng, namanya juga pengantin baru. :p

Saya bersyukur banget punya suami yang ternyata setelah menikah jadi tambah super lagi. Lebih perhatian, lebih penyayang, lebih sabar, suka menolong yang lemah. :D Saya juga bersyukur punya ibu mertua yang baik dan santai banget kayak di pantai. Bahagia deh. Semoga yang baik-baik ini terus berlangsung tak terbatas dan tak terhingga di kehidupan pernikahan kami dan kita semua. Katakan 'amen', AMEEENN.


Kamis, 03 September 2015

Bisa Aja Ah

Iop: Ayo ah, makan enak
Ndoro: waiki. sabtu biasanya aku dah makan enak og.
Iop: cieee. prikitiw
Ndoro: ekekeke


fyi: Weekend adalah quality time kami berdua. Kegiatan yang biasanya kami lakukan selama weekend : Guling-gulingan, nonton film, dengerin musik, belajar bareng, bahkan malah ngerjain kerjaan masing-masing di rumah. Maklum pasangan sibuk. Hualah!
Memasak juga jadi salah satu aktivitas favorit yang kami lakukan bersama. Makanya, ya gitu deh waktu doi bilang biasa makan enak di hari Sabtu, hihiu, bisa aja ah~~~~ slepret juga ni! :>

Minggu, 14 Juni 2015

Mamah Gajah

Aku masih ingat benar ketika masa-masa awal kuliah aku sering homesick, selalu rindu rumah dan mamah gajah. Sering mewek dan melankolis kalau ingat rumah. Jogja masih sangat asing. Teman masih satu, atau mungkin dua. Belum ada yang bikin betah di Jogja. Aku bahkan punya blog pribadi dan seorang gebetan yang bisa aku temui di dunia maya sebagai pelarian. Ketika teman-teman yang lain akan nongkrong berkelompok, entah makan atau ngobrol bersama ketika istirahat usai kuliah, aku justru menyendiri di ruang multimedia. Berselancar di dunia internet. Menghabiskan waktu di sana. Biasanya nulis blog, nulis email bertukar kabar dengan gebetan, dan main sosial media. Begitu setiap hari. Lha gimana mau dapet teman?

Beberapa tahun kemudian, banyak perubahan mulai muncul. Aku mulai punya beberapa teman segeng. Aku mungkin masih rutin berkunjung ke ruang multimedia, tapi tidak lama, tidak menghabiskan waktu istirahat di situ. Seperlunya saja. Aku juga mulai ikut kegiatan kampus: band-band-an dan pecinta alam. Penyakit homesick masih muncul tapi tidak sesering dulu. Mamah Gajah mulai kehilangan aku.

Aku mulai jatuh cinta, pacaran dengan si ini dan si anu, dan aktif di kampus. Menjelajah tempat-tempat keren dalam acara pecinta alam. Melakukan banyak hal yang seru, tak terlupakan, berbahaya, dan luar biasa yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Sekarang aku bahkan rindu sekali melakukan hal memacu adrenalin atau sekadar tracking di alam terbuka. Sungguh, rindunya membayang-bayang.
Aku juga aktif band-band-an. Aku belajar nyanyi, belajar main beberapa instrument: drum, gitar, dan mencoba berbagai lagu. Manggung di kampus sendiri, di kampus orang, dan di panggung lumayan besar di mana anak-anak kampus lain nonton juga. Selalu nervous dan sakit perut ketika mau manggung, tapi aku menikmatinya.

Aku mulai jarang pulang, mamah gajah semakin jauh. Kami mulai jarang komunikasi, jarang ketemu, sering berantem. Mamah gajah mulai sering sekali bilang “Kamu berubah”. Yang tentu saja menurutku, kalimat itu punya arti yang tak enak. Aku mulai malas membalas smsnya. Hubungan kami jadi berjarak.
Tentu saja posisi mamah gajah sudah tidak lagi seperti dulu. Mamah gajah bukan lagi pelarian pertamaku, atau orang pertama yang aku tuju ketika sedang senang atau sedih. Aku merasa sudah cukup dewasa untuk bisa lepas dari bayang-bayang seorang ibu. Aku merasa sudah saatnya dilepas untuk segala pilihan yang kuambil. Terutama ketika aku sudah lulus, mulai bekerja, dan menjalin hubungan serius dengan seseorang.
Hampir semua kucurahkan untuk kehidupan di Jogja. Untuk pekerjaan, untuk teman, untuk kekasih yang sangat aku sayangi. Aku sangat keras kepala untuk banyak hal, termasuk soal asmara. Mamah Gajah kehilangan aku.

Sampai suatu hari aku mengambil keputusan besar. Beberapa kali kami adu argumen karenanya. Sebagai seorang ibu yang telah membesarkanku, tentu mamah gajah merasa sangat berat untuk merestui dan menghargai keputusan yang aku ambil. Waktu berlalu, aku menunggu, mamah gajah menunggu. Kami melunak. Hubungan kami mulai membaik. Mamah gajah merestui dan menerima keputusan yang aku ambil. Dia bahkan mendukungku penuh, bertanya apa rencanaku ke depan, dan mendengarkan dengan tekun mimpi-mimpi yang sudah aku bangun, dan perasaan-perasaanku.

Aku tahu persis cintanya tidak pernah berubah. Cinta seorang ibu kepada anaknya. Pagi ini, ketika bangun tidur dan menyalakan hp, aku mendapat sms darinya. Mamah gajah bercerita kalau dia baru saja dilecehkan orang ketika sedang gowes (bersepeda) jam lima pagi ini. Mungkin aku tidak cukup kaget mendengar ceritanya karena terlalu banyak cerita ngeri yang sekarang beredar. Tapi aku marah, sangat marah karena orang yang aku sayangi dan selalu mendukungku disakiti. Aku hanya bisa mengetik kalimat, “Astaga, ati-ati mah, besok lagi jangan gowes jam segitu. Bahaya!” yang mungkin saja belum mampu menenangkan perasaannya yang pastinya shock dan emosi berat.

Pagi ini aku menulis, setelah begitu lama tidak menulis. Aku berdoa agar setiap orang yang aku sayangi selalu dilindungi Tuhan. Untuk mamah gajah, untuk kakakku, adikku, papahku, ndoro, dan teman-temanku. Aku akan melindungi mereka yang aku sayangi. Aku akan berusaha meluangkan waktu lebih banyak untuk mereka dan berjanji akan selalu ada ketika mereka butuh.  

Untuk mamah gajah, terima kasih mah sudah menjadi ibu yang luar biasa. Mamah adalah satu dari satu juta. Seorang ibu yang memiliki jiwa yang begitu besar. Suatu hari ketika aku punya anak, aku ingin jadi ibu seperti mamah. Yang kuatnya melebihi logam paling kuat, dan yang cintanya besar melebihi alam semesta. You know I always love you, Mom.



Selasa, 10 Maret 2015

Tentang Apa Saja

Kali ini aku mau menulis tentang apa saja. Apa saja yang terlintas, apa saja yang sudah kualami, apa saja yang ingin aku lakukan, dan apa saja yang kurasakan. Pokoknya apa saja. Random ya? Iya, biarin. Mungkin dibuat poin aja kali ya biar kesannya lebih rapi (padahal tetep random). :p

1. Hampir sebulan sejak aku pindah kantor. Hanya pindah bangunan saja sebenarnya, masih di perusahaan yang sama. Masih mengedit dan berkutat dengan tulisan-tulisan orang. Senang? Jujur saja lebih senang. Lokasi lebih dekat, tinggal berjalan kaki untuk menuju kantor. Selain go green dan hemat, badanku rasanya sehat sekali. Setiap hari berkeringat. Bukan hanya berkeringat karena terik matahari dan karena kadang udaranya gerah, tapi karena aku rajin bergerak. Berjalan pulang pergi kerja, mengangkut beberapa kardus buku naik turun tangga, dan lain-lain. Baru kusadari banyak gerak bikin aku lebih bahagia. Aku juga bisa ngantor dengan celana pendek atau rok tanpa takut betisku terbakar. Hahaha! Oya, selain itu, aku juga jadi kenal lebih banyak orang baru karena kantor kami berdampingan dengan Dongeng Kopi. Rame dan lebih seru.

2. Aku belum cerita di sini ya, kalau meja belajar sekaligus meja kerjaku baru? (Baru 3 bulan) Hehehe. Fyi, aku cinta sekali dengan meja kerjaku. Sungguh tepat keputusanku untuk membeli meja kerja itu setelah galau cukup lama. Meja kerjaku adalah segalanya setelah seperangkat gadget, buku, sepatu, dan alat gambarku. Dia cinta kesekianku. Aku bisa menghabiskan berjam-jam di meja kerjaku, mengedit, menggambar, belajar, nonton film, berselancar di dunia maya, membuat lagu, merindukanmu. Hehehe. Aku punya dunia sendiri dan tenggelam di sana. Rasanya bahagia saja punya kehidupan, aktivitas, dan pelarian sendiri di luar pekerjaan, pertemanan, dan asmara.

3. Sekarang, aku sedikit-sedikit belajar untuk tidak terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan atau bicarakan tentangku. Tentu saja yang negatif. Tidak mau terlalu sensitif dan takut jika dimusuhi, dikritik, atau diolok-olok. Aku berniat untuk memperlakukan orang seperti dia memperlakukanku. Sebab sudah terlalu sering sakit hati dan dongkol karena memperlakukan orang layaknya memperlakukan diri sendiri. Hahaha! sakke.

4. Sepertinya sejak aku kenal kamu, aku jadi males neko-neko. Rasanya ingin jadi orang yang biasa-biasa saja. Aku gak mau terlalu ngoyo untuk bisa kaya, sukses, atau dikenal banyak orang. Aku gak mau lelah mikirin bagaimana mencapai puncak karier atau masa depan yang gilang gemilang. Aku hanya mau terus melakukan apa yang aku senang, menjalani hari dengan penuh semangat, dan berusaha tidak menyusahkan orang lain. Syukur kalau dengan melakukan apa yang aku senang, itu bisa bikin orang lain senang pula. Syukur lagi bisa lebih banyak memberi.

5. Kalaupun kelak aku punya duit banyak dan bisa beli apa saja, aku harap kakiku masih selalu berpijak di tanah. Semoga aku bisa selalu rendah hati apa pun keadaannya dengan apa saja yang aku miliki.

6. Aku berharap aku bisa selalu menjaga ritme dan jadwal menggambarku. Aku ingin lebih sering menggambar, membaca, menyanyi. Eksplor lebih banyak lagi.

7. Oiya, Sabtu yang lalu akhirnya aku selesai membaca sebuah novel yang menurutku oke sekali. Judulnya AMBA karya Laksmi Pamuntjak. Rasanya sudah lama sekali tidak menghabiskan satu novel berkualitas karya penulis Indonesia. Menurutku, meski tempo ceritanya lambat dan agak datar di awal, novel ini keren kok. Bikin pembaca jadi emosional dan kebawa alur ceritanya. (Karang yo cah drama cinta-cintaan :p) Konon ada yang menandingi novel ini, kata seorang kawan. Dengan tema yang mirip-mirip, tapi katanya sih lebih realistis. Tidak sedrama "AMBA". Judulnya "Pulang" karya Leila S. Chudori. Belum baca nih, kudet banget. Mungkin kudu beli novelnya dulu kali ya. Beliin dong, hihi :p

8. Masih sering dan selalu kangenan. Yah begitulah. :')