Senin, 16 November 2009

Tentang kamu, seorang "Serambi Mekah"

Angkuhmu adalah tanda tanya yg tak pernah ada habisnya.
Diammu adalah seloroh nakal pada tiap dinding hati yg lapuk.
Sinismu adalah isyarat terjelaskan yang akan selalu memunculkan semburat senyum.
Tawamu adalah oase yang dingin dan begitu menyejukkan.
Karna kau adalah kausa.
dan aku bahagia memilikimu.

Rabu, 11 November 2009

Special gift for mamah gajah’s birthday

Mah, aku masih ingat benar. Dulu, ketika aku belum sekolah, aku selalu menungguimu tiap pagi hanya untuk melihatmu berganti seragam kerja, menata penampilan, memakai lipstick, memulaskan bedak, menyisir rambut, dan mengikuti kemanapun engkau berjalan. Yang berat, ketika aku harus melepasmu pergi bekerja, lalu aku harus tetap di rumah dan bermain dengan mbak yang membantu di rumah, sambil menunggu kepulanganmu. Suasana hatiku selalu buruk setelahnya. Rasanya tidak ingin terpisah darimu. Yah.. begitulah anak kecil kan mah? Hehehehe

Dan ketika aku mulai menjadi remaja. Aku tahu persis bahwa kau tak pernah lepas tangan dalam pembentukan pribadiku. Walau kita mulai sering mengalami gesekan dan perang dingin. Tak ada yang kusembunyikan di depanmu mah. Kita adalah ibu dan anak yang berkawan baik, bersahabat karib, soulmate. Yang sering jalan-jalan bareng, shopping baju dan kesukaan wanita di mall, nonton konser musik berdua, hunting mie jowo dan bakso. Ahh.. semuanya sangat menyenangkan. Aku selalu cerita semua kisah cintaku padamu mah. Semua cowok yang dekat denganku, yang sedang kudekati [hahah], dan yang sedang mendekatiku. Dan kau selalu memberiku beribu wejangan, nasehat, pelajaran lewat semua cerita dan pengalamanmu. Mamah gajahku adalah psikiater terbaik!

Sekarang, ketika mungkin hanya 2x sebulan (paling banyak), dan seringkali hanya sekali sebulan kita bertemu. Kau tetap menempati posisi teratas dalam urutan orang terpenting dalam hidupku. Sempat aku takut bahwa aku mengalami mother complex. Hahahah. Bego. Yang lucu, pada suatu malam mas mok bicara gini padaku mah,” Ibuku adalah tuhan Mez, hahaha. Slama Ibuku masih hidup, berarti Tuhan masih ada.” Lalu kami tertawa lepas bersama. Aku tahu dia bercanda. Itu hanya karma dia terlampau cinta pada ibunya. Begitu juga aku mah. Terlepas dari kecuekanku selama ini, terutama semenjak kuliah di Jogja.

Mamah gajahku, maafkan aku jika seringkali membuat hatimu berduka, mengecewakanmu, atau mungkin [yang parah] merasa menyesal melahirkanku. Aku tahu anak gadismu ini tidak bisa selalu sesuai inginmu. Tapi aku pernah berjanji kan mah?? Akan kubawa mamah keliling dunia, akan kubuatkan satu rumah impian untukmu, dan aku akan terus berusaha untuk membuatmu bangga mah. Dan doakan ya mah, mimpiku bisa segera kupenuhi.

Mamah gajahku, tetaplah menjadi sahabat terbaik sedunia, ibu terbaik sedunia [walaupun menurutku, sedikit sisi keibuan dalammu, hhaa!], psikiaterku yang paling oke, feminis, wanita independent, seorang yang cerdas dan selalu haus ilmu, wanita pemberani, tong sampahku yang setia, ibu tergaul dan terseksi sedunia [hha!], penulis dan penyair yang berbakat, guru terbaik untuk murid-muridmu, koki terhandal bagiku, konsultanku, ahli asmaraku, dan mamah gajahku yang penuh cinta dan kasih sayang.

Mamah gajahku, selamat berhari jadi ya. Selamat menjadi manusia yang diperbaharui lagi oleh Tuhan. Aku mencintaimu dalam setiap kerjap mataku, kegelisahanku, peluh rinduku, tawa lebaiku, raut wajahku. Pokoknya, aku mencintaimu mamah gajahku!!!!

Senin, 19 Oktober 2009

DITELAN MALAM [9 oktober ‘09]

Dalam sekumpulan nafas yang tersengal

Dalam rentetan gurau dan racau

Bahkan kantuk tak sanggup menghilang

Berjalan, lurus, lalu memutar. Begitu terus.

Mengoceh kesana kemari ditemani asap rokok yang berlarian

Apa intinya? Hanya ditelan malam yang siap menjelma siang

Sial!

Senin, 05 Oktober 2009

nama lapanganmu: Kemolo

[bukan karena kau meminta, lalu kutulis ini]

antara bingung, aneh, waktu kau berkali-kali meminta izinku untuk memandangi wajahku sebentar, hanya sebentar,
"setengah menit aja yov..", katamu.
"oke", kataku.
toh hanya 30 detik. ahh, tak terlalu kuhiraukan.

tak pernah takut menelanjangi diri sendiri, itu kau.
selalu menjadi diri sendiri yang seringkali menyebalkan dan 'parah', hahaha. itu pun kau.
yang belakangan ini sedang teringat akan Penciptamu dan mulai mempertanyakan banyak hal tentang-Nya. meracau hal yang itu-itu saja.
mana aku tau kem.. aku bukan Dia yang penuh kesempurnaan. aku mengetahui-Nya hanya sebatas pengetahuanku saja.

kenapa denganmu? kenapa dengan tawamu yang sering muncul tak terkendali? kenapa denganmu? dengan pertanyaan-pertanyaan aneh yang seringkali membuatku merasa 'kau menarik'?

kau berbeda, dan berani untuk itu.
percayalah kem, aku bangga padamu, dengan semua yang ada dalam dirimu; anehmu, kecutmu [hha!], pemikiranmu, hampir semuanya.
selamat mencari-Nya!!!

berbagilah atau, menangislah...

jika tak ada lagi yang bisa mendengarkanmu, mengerti segala gundah dan hampamu, menangislah...
air matamu bukan pecahan-pecahan kristal yang akan disayangkan jika jatuh terbuang.
menangislah karna itu yang akan menciptakan dengkuran lembut dalam tidurmu, melepaskan tawamu, meringankan langkahmu..
hanya menangislah,
berbagilah,
menangislah,
berbagilah..

Dalam pelarian bersama bus ekonomi

Pada sebuah akhir pekan, aku melakukan perjalanan yang kulakukan untuk menghindari ketakutanku. Ketakutanku akan sebuah situasi bernama kesepian. Ini tidak biasa. Hanya belakangan ini kurasakan. Dan aku tahu persis alasannya.

Dan kali ini, seperti minggu lalu, tentu saja karena masalah ekonomiku yang sedang buruk-buruknya, aku menggunakan jasa sebuah bus ekonomi untuk mengantarkanku pada sebuah pelarian. Dan biasanya, ketika aku menggunakan jasa bus patas [eksekutif], jarang sekali kutemukan, bahkan hampir tak pernah, sebuah percakapan yang berkesan terhadap penumpang di sampingku. Penumpang bus patas adalah tipikal penumpang yang menengah ke atas, high middle. Penumpang dengan penampilan rapi, beberapa beraroma sedap, pembawaan kalem, tujuan kota, berbicara seperlunya, dan tentu saja wajah yang jarang ada semburat garis ‘susah’nya. Lain bus patas, lain pula bus ekonomi yang sumpek, bertebaran asap rokok, angin nyelonong lewat jendela yang terbuka lebar-lebar, rentetan pengamen dan penjual asongan yang rame dan banyaknya ngalah-ngalahin penumpang, dan tentu saja dengan tipikal penumpang sebagai berikut: kucel-kucel, bau kecut keringat, baju ala kadarnya [bagi ibu-ibu: biasanya kebaya atau baju dengan warna nyeter dan motif kembang-kembang yang rame dengan parfum murahan yang bau wanginya sengak nyaingin kemenyan], berisik banget seperti di pasar [apalagi kalau bawa anak-anak], dan tentu saja dengan semburat garis ‘susah’ yang menghiasi setiap wajah. Ahhh.. inilah potret masyarakat marginal bangsa kita. Tak bisa dipungkiri lagi.

Mungkin saja, kini, karena aku menggunakan jasa bus ekonomi, seketika aku masuk menjadi golongan dengan semburat garis ‘susah’ nya. Hahaha. Yaah, begitulah, keadaan selalu bisa merubah seseorang. Seringkali aku mengeluhkan kondisi yang kupilih-pilih sendiri. Kondisi bus yang berisik, penuh asap rokok, dan menyilaukan mata [karena tak ada gorden]. Betapa anehnya manusia. Tapi lalu aku sadar, ini bukan hal terburuk dalam hidupku. Ini bukan situasi yang menjengkelkan sedunia. Ini hanya hal yang berada di luar dari kebiasaan. Itu saja, lalu aku menikmatinya, menikmati setiap menit perjalanan pelarianku, dengan setiap detail yang sebenarnya sangat mengasyikkan jika diperhatikan.

Pertama, aku duduk sendiri. Satu bangku kosong di sebelah kananku. Kuletakkan tasku yang berisi payung dan buku-buku di situ. Awalnya suasana di luar tidak terlalu panas karena sedikit mendung. Tiba- tiba seorang bapak duduk di sebelahku. Kuambil tasku yang tadi dan kupangku. Lalu aku tertidur. Cukup pulas sampai seorang pengamen, entah pengamen yang keberapa datang dan membuyarkan kosentrasi tidurku. [sejak kapan ya, tidur butuh konsentrasi?]. Tak lama kemudian, penumpang di sebelahku pindah, dan duduk di bangku baris depan dekat sopir. Aku sendiri lagi.

Bus berhenti, dan serombongan perwira TNI angkatan tua [karena aku tak tahu mereka itu TNI AU, AL, atau AD, dan karena umurnya sudah bisa dibilang tua]berbondong-bondong masuk ke bus yang kunaiki. Bus mendadak penuh. Bangku di sebelahku pun jadi terisi. Tak kuacuhkan, aku kembali tidur dibawa oleh semilir angin jendela yang tak henti-hentinya nyelonong masuk. Tiba-tiba situasi menjadi terik, dan suasana hatiku menjadi buruk. Aku memang paling tidak tahan panas. Kuambil tas tanganku, kuikatkan tali pegangannya di sebuah pipa pegangan tangan di jendela agar aku tak terkena teriknya sinar matahari siang itu. Seorang bapak-bapak TNI di sebelahku memerhatikan.

“Mau ke semarang ya mbak?”

“iya pak.”

“ asli semarang?”

“iya pak.”

Awalnya hanya pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang singkat. Yang hanya berkisar tentang daerah asal, tujuan perjalanan, dan asal-usul masing-masing. Sampai pada sebuah pertanyaan yang sering terlontar oleh kebanyakan orang yang kutemui di tempat-tempat umum : “kuliah jurusan apa mbak?” Dan tentu saja kujawab, “jurusan filsafat, Pak.” Dan selalu saja dengan ekspresi yang sama [baca: bingung] ketika kusebutkan jurusan perkuliahan yang kuambil itu.

“Palsafah itu tentang islam-islam gitu ya?”

“Filsafat, Pak” , aku membenarkan pengucapannya, walaupun bukan hal yang penting juga.

“iya, palsafah, pilsapat.” Ahh, terserahlah bagaimana mau diucapkan.

“hmm.. bukan pak. Filsafat bukan ilmu tentang Islam.” Dan aku mulai bingung harus memulai menjelaskan darimana dan bagaimana. Mulailah kujelaskan bahwa filsafat adalah ilmu pertama yang muncul sebelum ilmu-ilmu yang lain. Dimana, filsafat dikenal sebagai induk dari segala ilmu dan tentang betapa luasnya cakupan yang bisa dipelajari di filsafat. Tentang berbagai pemikiran para filsuf dan berbagai ideology. Ahh, yang jelas, kubuat si bapak TNI itu sedikitnya punya bayangan tentang jurusan kuliahku itu.

Lalu, setelah kujelaskan panjang lebar, pertanyaan berikut yang klise yang selalu kupadapat sesudahnya adalah, “ kalau sudah lulus nanti, kerjaan buat sarjana filsafat itu apa mbak?” dan lagi-lagi, aku menjelaskan bahwa setiap bidang pekerjaan dapat diambil sarjana filsafat, sesuai dengan minat dan bakat maing-masing personnya, dan bla bla bla.. begitulah intinya. Semua anak filsafat pastinya tahu persis sikon seperti ini.

Tapi bukan itu yang menjadi inti percakapan kami. Ketika beliau tahu bahwa aku ngekos dan lain-lain, beliau, seperti layaknya orang tua yang lebih banyak pengalaman mulai memberi wejangan-wejangan. Dan begitu banyak pelajaran yang bisa kuambil dari percakapan kami itu. Dari pelarianku, yang kusyukuri, karena kulakukan dengan bus ekonomi. Akan sangat sulit, bahkan sepertinya tak mungkin kutemui pelajaran itu jika kugunakan bus patas dalam setiap pelarianku.

Hidup adalah perjuangan. Konvensional memang, tapi memang begitulah adanya, selalu ada yang harus diperjuangkan ketika ada sebuah asa dan keinginan.

Hidup adalah bersaing. Tidak beda jauh dengan pernyataan di awal tadi. Kita dituntut untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Begitulah dunia, penuh dengan tuntutan untuk menjadi ‘yang paling..’

Tak ada salahnya wanita menikah di usia 27. asalkan dia memiliki karir dan aktivitas yang berarti. [aku sangat setuju!]

Jangan terburu-buru menikah. Menikahlah jika kau sudah siap menikah. Menikahlah ketika kau sudah mapan [pekerjaan tetap dan usia kedewasaan yag pas]. Menikah bukan karena dipaksa orang dan dikejar-kejar usia. Menikahlah dengan orang yang kau cintai dan yang mencintaimu. Menikahlah saat kau merasa hidupmu akan lengkap jika ada seseorang di sampingmu untuk berbagi suka duka sampai mati. Menikahlah di saat yang tepat dan orang yang tepat. Semua akan indah pada waktunya kan?

Carilah ilmu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya.

Jadilah orang yang berani dalam segala hal.

dan begitu banyak pelajaran tentang hidup, yang tentu saja belum kualami sebelumnya. inilah hidup, dimana ada hitam, putih, dan abu-abu. dan tentu saja dengan semua warna yang ada.

Selasa, 29 September 2009

ahh... lagi-lagi...

aku melepas-nya dengan ledakan-ledakan yang bahkan tak dapat kukendalikan, dengan buncahan-buncahan dan kegaduhan yang tanpa aturan. [sejak kapan kegaduhan memakai aturan? haha!]
lega dan rela.
mana ucapan selamatnya?? hha.
tak ada emosi apalagi birahi
sudah cukup sepertinya permainan hati kami
hanya beberapa kata canda yang terselip sedikit rindu.
rindu yang dulu..
ahh, lagi-lagi...

sukses besar menaklukkan malam

bersama orang-orang terkasih. terhitung dari pukul 20.00 sampai 05.00. ya! itulah rekor yang bisa kupecahkan, yaaah, walaupun dulu, aku sempat lebih hebat daripada itu. karna sampai jam 6 pagi aku tidak tidur, [tapi setelah itu tidur sampai mampus kayaknya, hakakaka]. tapi yang hebat kali ini, aku hanya tidur satu setengah jam kurang, dan paginya bisa ke kampus dalam keadaan [cukup] fresh. bahkan ada yang bilang aku terlihat cantik hari ini. wahahaha, gak tahu aja dia badanku udah remuk redam gini. aku bangga pada diriku yang sekarang. karena sekarang aku bisa mengandalikan diriku sendiri dengan mind set yang kubuat, dan baru-baru ini saja muncul. fyi, aku sering sangat mengantuk dan tidak memerhatikan dosen waktu kuliah, aku sering susah berkonsentrasi dan tidak fokus, aku sering susah mengendalikan diri dan emosi.

oke, kembali ke tema awal. kemarin 3 orang gadis mahapena [gadis?], sebuah mapala dari jember main ke jogja. dan begitulah mapala, memiliki tali persaudaraan yang erat. kami menjadi tuan rumah dan menjamu mereka ketika tiba di jogja. kira-kira pukul delapanan malam kami berdelapanbelas seingatku, termasuk 3 gadis mahapena, pergi keliling jogja. gak keliling-keliling banget sebenaranya. cuman ke beberapa tempat asik di jogja. semata-mata untuk menemani tamu kami itu berjalan-jalan. ke malioboro, ke alkid, ke tugu, baru setelah itu ke kampus.

yang menarik, justru dalam kesempatan itu, kami yang tergabung dalam pantarhei menjadi lebih dekat dan akrab. hehehe, bagus juga ada tamu dari mahapena. dan kesempatan seperti itu mungkin jarang kutemukan. mungkin yang lain sudah sering menemukannya, eheheh.

yang paling berkesan, justru, menurutku, adalah saat dimana aku bisa menaklukkan malam, mungkin untuk kesekian kalinya, walaupun masih bisa dihitung dengan jari juga. yang paling berkesan lagi, adalah, setiap usaha dan kegiatan apa saja yang kulakukan tiap menit dalam rangka menaklukkan malam tadi. dan yang paling paling berkesan! [gamau kalah banget] lagi! adalah! bersama siapa aku berhasil[ untuk kesekian kalinya] menaklukkan malam?

oke! malam itu kuhabiskan dengan ngobrol ngalor ngidul dengan orang-orang yang sekarang bisa disebut 'tersayang'. karna aku menyayangi mereka. tertawa, bergurau, mengejek, mengartikan setiap simbol, tatapan, sindiran, tawa nyinyir, dan intonasi yang sedikit nyeleneh menurutku. hahaha. lalu bernyanyi-nyanyi dalam ruang sande monink yang direnovasi ulang. dan mulai membunuh kantuk dengan berburu buah matoa dan berbincang sampai pagi. ambooyyy, kusarankan, jangan sering-sering kalian melakukan kebiasaan yang kulakukan ini. kenapa? karena, menurutku, kenikmatan akan sesuatu akan semakin berkurang jika selalu kita penuhi. ya! itu sesuai dengan salah satu hukum ekonomi tentang pencapaian kepuasaan dalam pemenuhan kebutuhan. seingatku, kalau tidak salah. hehehe

dan aku mencintai beberapa bagian, sketsa, cuplikan kejadian semalam. bersama orang-orang tersayang. yang membuat jogjaku seringkali berhati [sangat] nyaman. love them so damn much!

Minggu, 13 September 2009

hidup adalah

hidup adalah sekiumpulan peristiwa, yang sudah, yang sedang, dan yang akan terjadi.

hidup adalah kenangan. kenangan indah yang harus terus diingat dan kenangan pahit yang tidak harus dilupakan, namun sebaiknya dijadikan pelajaran.

hidup adalah hidup. sesuatu yang bertumbuh, bernafas, terus bergerak, dan berkembang biak.

hidup adalah perjalanan indah. maka, jalanilah.. dengan segenap jiwa tentu saja!

Kamis, 10 September 2009

mendadak sup buah

sudah kira-kira dua minggu umat muslim di dunia menunaikan ibadah puasa. aihh, ternyata nikmat sekali bisa ikut merasakan berpuasa bersama teman-teman dan orang terkasih. FYI, aku adalah seorang nasrani. dari kecil aku tak pernah erasakan yang namanya puasa. jangankan puasa, telat makan bentar aja sudah pusing, dan nyeri di perut, dan maag kambuh. baru, sekitar setahun yang lalu, semenjak aku kuliah di jogja dan ngekos, aku ikut berpuasa. awalnya aku hanya mau memraktekkan pelajaran PPKn zaman SD BAB "Toleransi Umat Beragama" hahaha. karna teman sekamarku seorang muslim, dan sangatlah tidak menyenangkan jika dia harus sahur dan berbuka sendiri. jadi, begitulah awal mula aku mulai belajar dan mampu berpuasa.

setiap pagi aku ikut menemaninya sahur, kadang membangunkannya juga, kalau kawanku itu belum bangun juga. terkadang, jika sampai kampus gak kuat dan gak tahan godaan, aku membatalkan puasa. hahaha, dasar! tapi maklumlah,kan masih belajaaar. tapi akhirnya sempat beberapa kali aku berhasil puasa penuh, sampai lemes-lemes gitu. tapi benarlah, puasa memang nikmat.
Tapi itu dulu...
sekarang aku sudah mampu berpuasa penuh dengan sangat baik dan sukses besar. bahkan alasanku pun berubah. aku berpuasa karna aku ingin berpuasa. FYI, aku sudah tinggal sekamar sendiri sejak Mei kemarin. awalnya aku selalu bangun jam tiga pagi dan sahur sendiri. niat banget khan?? tapi sekarang aku punya teman untuk bersahur bersama, karna seminggu ini seorang sahabat menginap di kosanku. di kampus juga benar-benar tahan godaan, yaaah.. walaupun seringkali ngomong laper dan lemes banget. tapi hampir setiap hari aku puasa. hanya pas gak sahur aja aku gak puasa, itu pun cuman beberapa kali.

suatu hari, ketika kami [aku dan sahabatku yang menginap tadi] masih menjalankan ibadah puasa,kami membuat rencana untuk berbuka puasa bersama dengan menu kesukaan, sup buah pakai durian di dekat gerbang kampus. memang di bulan puasa ini, jika hari sudah mulai sore-sore gitu, jalanan, apalagi daerah sekitar kampus pasti ramai dipadati para penjual makanan dan es.

di kosan aku sudah menunggu waktu berbuka dan menunggu temanku yang sedang ada acara rapat di kampusnya. lumayan juga nungguinnya, sampai adzan dan sahabatku itu belum datang juga. sampai akhirnya dia datang, dan kami segera menuju ke target operandi. hash.
kami memilih tempat yang lighting dan suasananya oke. dan akhirnya kami memutuskan untuk membeli dan nongkrong di tempat sup buah di bawah sebuah baliho besar.
pertama, mengapa kami memutuskan membeli di tempat itu, karena ngeliat buah durian yang digantungin di gerobak. izh izh izh.. mantap banget kayaknya.
tapi setelah duduk di hamparan tikar, jiah, aku mendadak punya perasaan yang gak enak. kesannya gak meyakinkan gitu sup buahnya.
dan benar saja. pertama kali setelah disajikan, aku langsung mencari letak keberadaan si buah durian yang kuidam-idamkan. my gosh! masa gak ada dagingnya, cuman biji durian yang ada sisa-sisa dagingnya dikit n tipis banget. hurg! marmos!
potongan-potongan buahnya juga gak niat banget, besar-besar dan gak teratur. dan kuperkirakan, buah-buahnya juga gak terlalu segar. ya ampuuunn.. kesabaranku benar-benar sedang diuji sepertinya. yang lucu, sewaktu kami sedang bersantap, aku membaca tulisan "Es kunir dan Gulas" di balik grobak.ahahaha, begitulah para penjual yang pandai membaca peluang di saat-saat penuh rahmat ini.

waktu sudah selesai menikmati sup buah tadi dengan setengah hati, kami pergi membayar, dan ternyata,sup buah pakai durian yang biasa dijual dengan harga Rp 7000 ini dijual dengan harga Rp 8000. harrgghh! bukan masalah seribunya, tapi kekecewaan kami terhadap menu yang harus dibayar.
tapi biarlah, toh bulan ini bulan yang penuh berkat dan ampunan khan??
hehehe, bagi umat musim di seluruh dunia, selamat menunaikan ibadah puasa kawan!!! happy fast!!

sebuah siang di kantin fakultas [9 agustus'09]

empat gadis dalam satu meja. tak lama kemudian menjadi empat gadis dan satu pria dalam satu meja. Pria itu duduk di hadapan gadis berambut ikal yang sedang sibuk mengalihkan perhatiannya, namun gagal. mengaduk-aduk air teh yang tinggal sedikit pada sebuah gelas lalu menyendoki dan memindahkan air teh itu ke sebuah mangkuk bekas mie instant yang telah habis disantap.
sesekali si gadis berambut ikal memerhatikan pria yang duduk di hadapannya. pria dengan kerut-kerut dan garis-garis sekitar mata yang muncul prematur, mata sayu kurang tidur, bibir gelap terlalu banyak merokok, semua, dari bahu ke atas diperhatikannya.
tak beberapa lama gadis itu pergi, meninggalkan tiga gadis yang lain dan satu pria yang masih dalam satu meja.
ia pergi dengan satu kalimat, beberapa keprihatinan dan sepenggal kepedihan akan pemandangan di hadapannya tadi, di sebuah siang, di kantin fakultas