Selasa, 02 Oktober 2018

ZERO WASTE, Sebuah Aksi Heroik untuk Lingkungan dan Bisa Jadi Perekonomian dalam Negeri


Punya sedotan stainless yang lagi hits itu? Atau, sudah bawa tas belanja sendiri ke mana-mana? Jika kamu menjawab ‘sudah’ untuk kedua pertanyaan barusan, SELAMAT! Kamu resmi tergabung dalam geng ZERO WASTE milenial yang entah siapa yang membentuk dan sejak kapan dibentuk. Pokoknya SELAMAT. Sebab kamu—dan saya juga—sudah turut berperan serta dalam menyelamatkan planet ini secara umum, dan bisa jadi perekonomian Indonesia secara khusus. Asik.

Tapi tunggu, apa itu zero waste?

Secara harfiah, zero waste bisa diartikan tanpa limbah atau tanpa sampah. Tapi tentu realitasnya tidak benar-benar zero. Sebab hidup tanpa nyampah sama artinya seperti sop ayam tanpa ayam. Bukan sop ayam tapi sop aja. Errrr... Sebaik-baiknya kita hidup, sebijak-bijaknya kita berusaha untuk menolak nyampah, akan selalu ada sampah yang terlahir dari siklus kehidupan kita ini. Jadi enggak mungkin nol sampah. Zero waste sebenarnya adalah sebuah konsep yang kemudian menjadi sebuah gerakan untuk mengurangi dan mengelola sampah. Mereka yang menyebut diri sebagai pejuang zero waste selalu mengedepankan konsep reduce, reuse, dan recycle. Mengurangi membeli dan mengkonsumsi produk kemasan yang sulit didaur ulang, menggunakan atau memanfaatkan kembali produk atau kemasan bekas, dan mendaur ulang sampah menjadi produk baru yang bernilai ekonomi.

Ada beberapa konsep paling umum tentang pengelolaan sampah yang sudah dilakukan di beberapa negara dan daerah yang wajib kita tahu, geng.



Yang pertama adalah hierarki sampah. Hierarki sampah ini seperti konsep zero waste yaitu mengelola sampah dengan cara mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang. Tujuan hierarki ini adalah mengambil keuntungan secara maksimal produk-produk praktis dan meminimalisasi limbah.

Menurut saya pribadi sih, konsep ini paling efektif dalam menangani persoalan sampah yang seakan tiada akhir ini. Coba bayangkan kalau tiap orang punya kesadaran untuk mengurangi sampahnya dengan bawa tas belanja sendiri ke mana-mana. Jajan bawa tempat makan sendiri. Beli sayur mayur dan bahan makanan lokal. Kalau yang cewek ya pakai menstrual pad atau menstrual cup ketika datang bulan alih-alih menggunakan pembalut sekali pakai. Mulai memilah-milah sampah. Bagus lagi bisa memanfaatkan sampah di rumah menjadi something. Satu dikali sepuluh ribu orang aja dulu, pasti efeknya lumayan tuh buat lingkungan. Ingat geng, anak cucu kita kelak punya hak yang sama seperti kita untuk bebas berenang-renang gemes sama lumba-lumba di lautan, lihat terumbu karang yang cantik dan lihat nemo atau dori yang unyu-unyu. Masa iya, cuman dikasi lihat di film aja, kan sedih. Hiks.

Nah, konsep yang kedua ini merupakan tanggung jawab si produsen yang menghasilkan sampah. Konsep ini disebut sebagai perpanjangan tanggung jawab penghasil sampah (Extended Producer Responsibility). Jadi konsep ini adalah suatu strategi yang dirancang agar produsen memiliki tanggung jawab terhadap seluruh siklus produk dan kemasan yang dibawa ke pasar, sebab harga produk yang sudah ditetapkan di pasar—yang kemudian kita bayarkan untuk membeli sebuah produk—sudah mencakup seluruh siklus hidup produk tersebut. Artinya, perusahaan juga bertanggung jawab terhadap produk di akhir masa penggunaannya alias mereka sebenarnya punya tanggung jawab terhadap sampah hasil produk mereka. Nahlo, baru tahu ya?  

Ketiga, konsep pengotor yang membayar. Maksud dari konsep ini adalah pencemar membayar dampak dari aktivitasnya yang mencemari lingkungan. Konsep ini merujuk kepada para penghasil sampah untuk membayar sesuai dengan jenis dan volume sampah yang dibuang.
Tiga konsep pengelolaan sampah di atas ini ternyata kalau dilakukan enggak cuma punya efek besar untuk menyelamatkan lingkungan lho geng, tapi juga perekonomian kita. Lha kok enggak percaya. Coba semisal kita mulai mengurangi konsumsi produk dari perusahaan besar A, B, dan C yang dari luar sono noh dan beralih menggunakan produk lokal, pakai sabun mandi produksi ibu-ibu PKK kampung Z misalnya. Atau mulai memilah sampah, terus mengumpulkannya dan dikirim ke bank sampah terdekat untuk didaur ulang menjadi produk baru apa enggak tav sovl? Yang jelas, gerakan atau perilaku mengelola sampah sekecil apa pun yang sudah kalian dan saya lakukan pasti akan punya dampak positif untuk kita semua. Mbok percaya to.. Anggap saja ini gotong royong untuk menyediakan tempat terbaik untuk anak cucu kita kelak. Ciee..

Tidak ada komentar: