Minggu, 14 Juni 2015

Mamah Gajah

Aku masih ingat benar ketika masa-masa awal kuliah aku sering homesick, selalu rindu rumah dan mamah gajah. Sering mewek dan melankolis kalau ingat rumah. Jogja masih sangat asing. Teman masih satu, atau mungkin dua. Belum ada yang bikin betah di Jogja. Aku bahkan punya blog pribadi dan seorang gebetan yang bisa aku temui di dunia maya sebagai pelarian. Ketika teman-teman yang lain akan nongkrong berkelompok, entah makan atau ngobrol bersama ketika istirahat usai kuliah, aku justru menyendiri di ruang multimedia. Berselancar di dunia internet. Menghabiskan waktu di sana. Biasanya nulis blog, nulis email bertukar kabar dengan gebetan, dan main sosial media. Begitu setiap hari. Lha gimana mau dapet teman?

Beberapa tahun kemudian, banyak perubahan mulai muncul. Aku mulai punya beberapa teman segeng. Aku mungkin masih rutin berkunjung ke ruang multimedia, tapi tidak lama, tidak menghabiskan waktu istirahat di situ. Seperlunya saja. Aku juga mulai ikut kegiatan kampus: band-band-an dan pecinta alam. Penyakit homesick masih muncul tapi tidak sesering dulu. Mamah Gajah mulai kehilangan aku.

Aku mulai jatuh cinta, pacaran dengan si ini dan si anu, dan aktif di kampus. Menjelajah tempat-tempat keren dalam acara pecinta alam. Melakukan banyak hal yang seru, tak terlupakan, berbahaya, dan luar biasa yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Sekarang aku bahkan rindu sekali melakukan hal memacu adrenalin atau sekadar tracking di alam terbuka. Sungguh, rindunya membayang-bayang.
Aku juga aktif band-band-an. Aku belajar nyanyi, belajar main beberapa instrument: drum, gitar, dan mencoba berbagai lagu. Manggung di kampus sendiri, di kampus orang, dan di panggung lumayan besar di mana anak-anak kampus lain nonton juga. Selalu nervous dan sakit perut ketika mau manggung, tapi aku menikmatinya.

Aku mulai jarang pulang, mamah gajah semakin jauh. Kami mulai jarang komunikasi, jarang ketemu, sering berantem. Mamah gajah mulai sering sekali bilang “Kamu berubah”. Yang tentu saja menurutku, kalimat itu punya arti yang tak enak. Aku mulai malas membalas smsnya. Hubungan kami jadi berjarak.
Tentu saja posisi mamah gajah sudah tidak lagi seperti dulu. Mamah gajah bukan lagi pelarian pertamaku, atau orang pertama yang aku tuju ketika sedang senang atau sedih. Aku merasa sudah cukup dewasa untuk bisa lepas dari bayang-bayang seorang ibu. Aku merasa sudah saatnya dilepas untuk segala pilihan yang kuambil. Terutama ketika aku sudah lulus, mulai bekerja, dan menjalin hubungan serius dengan seseorang.
Hampir semua kucurahkan untuk kehidupan di Jogja. Untuk pekerjaan, untuk teman, untuk kekasih yang sangat aku sayangi. Aku sangat keras kepala untuk banyak hal, termasuk soal asmara. Mamah Gajah kehilangan aku.

Sampai suatu hari aku mengambil keputusan besar. Beberapa kali kami adu argumen karenanya. Sebagai seorang ibu yang telah membesarkanku, tentu mamah gajah merasa sangat berat untuk merestui dan menghargai keputusan yang aku ambil. Waktu berlalu, aku menunggu, mamah gajah menunggu. Kami melunak. Hubungan kami mulai membaik. Mamah gajah merestui dan menerima keputusan yang aku ambil. Dia bahkan mendukungku penuh, bertanya apa rencanaku ke depan, dan mendengarkan dengan tekun mimpi-mimpi yang sudah aku bangun, dan perasaan-perasaanku.

Aku tahu persis cintanya tidak pernah berubah. Cinta seorang ibu kepada anaknya. Pagi ini, ketika bangun tidur dan menyalakan hp, aku mendapat sms darinya. Mamah gajah bercerita kalau dia baru saja dilecehkan orang ketika sedang gowes (bersepeda) jam lima pagi ini. Mungkin aku tidak cukup kaget mendengar ceritanya karena terlalu banyak cerita ngeri yang sekarang beredar. Tapi aku marah, sangat marah karena orang yang aku sayangi dan selalu mendukungku disakiti. Aku hanya bisa mengetik kalimat, “Astaga, ati-ati mah, besok lagi jangan gowes jam segitu. Bahaya!” yang mungkin saja belum mampu menenangkan perasaannya yang pastinya shock dan emosi berat.

Pagi ini aku menulis, setelah begitu lama tidak menulis. Aku berdoa agar setiap orang yang aku sayangi selalu dilindungi Tuhan. Untuk mamah gajah, untuk kakakku, adikku, papahku, ndoro, dan teman-temanku. Aku akan melindungi mereka yang aku sayangi. Aku akan berusaha meluangkan waktu lebih banyak untuk mereka dan berjanji akan selalu ada ketika mereka butuh.  

Untuk mamah gajah, terima kasih mah sudah menjadi ibu yang luar biasa. Mamah adalah satu dari satu juta. Seorang ibu yang memiliki jiwa yang begitu besar. Suatu hari ketika aku punya anak, aku ingin jadi ibu seperti mamah. Yang kuatnya melebihi logam paling kuat, dan yang cintanya besar melebihi alam semesta. You know I always love you, Mom.



5 komentar:

Wildan Namora mengatakan...

selalu suka sama sebutan buat orang-orang yang dikasihi. Mamah Gajah, Ndoro, etc ...

Wildan Namora mengatakan...

Selalu suka sama sebutan sebutan buat orang yang dikasihi. Mamah Gajah, Ndoro, etc. I think, aku kenal sama Mamah Gajah. hehe ...

salam
namorawildan.blogspot.com

Heru Notodirjo mengatakan...

sayangi ibumu dalam setiap kesempatan perlakukan beliau dengan seluruh kemampuanmu yg terbaik!

Gundala Wejasena mengatakan...

Luar biasa tulisanmu ini Dik, bikin trenyuh, bikin orang setua aku menitikkan air mata. Aku jadi ingat almarhumah ibuku, namanya Sutidjah, sama jahnya. Aku igat anakku yang kuliah di Jogja dan sedang merampungkan skripsinya. Bagus bagus bagus.

Rini Ganefa mengatakan...

waow...surprise....lup yu so much