Kamis, 09 Februari 2012

Telpon

Semalam aku nelpon kamu. Bukan semalam sih tepatnya, sedini hari. Berharap kamu tidak sedang tidur dan hape kamu masih nyala. Kalau pun tidur, pengennya hape kamu mati. Tapi waktu muncul nada sambung, dan kamu lama ngangkat, aku tahu kamu sedang tidur, tapi aku tetap saja menunggu telpon diangkat, walau sedikit lama.

Trus kamu angkat telponnya. Kamu jawab dengan nada datar, layaknya orang yang terganggu. Tapi aku, seperti gak punya salah, nanya kamu apakah kamu sedang tidur dan kebangun gara-gara telponku. Kamu jawab iya. Aku sudah tahu sebenernya. Lalu aku bilang kangen, sambil mewek. (FYI, sekarang mewek lagi). Denger suaramu bikin seneng-seneng sedih. Mungkin aku mau datang bulan. Sensitiv gak jelas. Mungkin aku juga lagi krisis percaya diri. Mungkin karena belum minum vitamin. (Ah, apa hubungannya sama vitamin coba?!) Aku berharap bisa tenang setelah telpon kamu. Kamu ketawa waktu denger aku bilang kangen. Kamu bilang rinduku dahsyat. "Kan tadi abis ketemu, masak sekarang udah kangen?". Aku, masa bodoh.

Setelah bertemu dan pergi dengan temanku yang sedang patah hati karena putus, sepertinya perasaan temenku yang lagi kacau balau itu sedikit nular ke aku. Perasaan mungkin seperti flu yah? Mungkin aku gak cukup kuat untuk jadi pendengar dan tong sampah aja. Perasaan sedihnya jadi berpengaruh ke aku.Mungkin aku takut merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan temanku. Dia kehilangan pacarnya. Dan aku takut itu. Takut seperti itu. Takut kehilangan kamu. Sepertinya aku benar-benar mau datang bulan. Sensiii bangettt. Padahal gak ada masalah apa-apa. Wagu.

Kita masih ngobrol, sampai akhirnya peringatan telpon bakalan putus gara-gara pulsa abis muncul. Trus telpon mati, pulsaku abis. Lalu aku, entah deh, masih gak jelas sampai hampir jam 3.

Tidak ada komentar: