Kamis, 22 Mei 2014

CATATAN UNTUK SI MANTAN PLAYBOY

Kemarin lusa, di siang yang cukup panas di kantor IBC, saya bertemu Tri Em. Akhirnya kami bertemu, setelah sebelumnya hanya berkirim email dan saling mention atau DM di Twitter. Pertemuan kami terbilang nyentrik. Begini. Ketika saya keluar dari ruang kerja hendak mengambil minum, saya baru sadar kalau anak yang naskah bukunya sempat  saya edit ini sedang duduk di depan rak buku IBC. Kalau ingatan saya tidak salah, saat itu ia sedang duduk bersila ditemani rokok dan tumpukan buku karyanya, Catatan Mantan Playboy. Ternyata malamnya ia menginap di kantor IBC setelah pulang dari acara Booklovers di Sewon Bantul.

Awalnya saya canggung. Tapi untunglah, kegiatan mengambil air di dispenser dapat mengobati kecanggungan saya dengan cepat. Hehe. Lalu saya menyapanya dengan sok akrab dan sok asik.

 “Hei Tri Em! Akhirnya ketemu juga. Gimana bukumu? Laris?”

Maafkan saya sungguh. Entah karena canggung atau apa, saya bahkan lupa apa jawaban Tri Em atas sapaan saya waktu itu. Hahaha! Memalukan sekali.

Pada hari itu, yang jelas saya dan Em tak sempat ngobrol banyak. Sikonnya sedang tidak enak. Kantor sedang padat, saya sedang mengerjakan naskah yang memusingkan kepala, dan jam satu saya harus ke USD mrican untuk sekolah.

Hari berikutnya, kami bertemu lagi. Di tempat yang sama, dan di cuaca yang sama pula. Panas. Kali ini kami sempat ngobrol lama dan lumayan seru. Saya baru sadar bahwa bayangan saya tentang Em sebelum dan sesudah kami bertemu sungguh berbeda. Dulu saya mengira bahwa Em adalah anak laki-laki yang tinggi, kurus, berhidung mancung, dan cool. Penggambaran macam itu jelas cocok sekali untuk seorang playboy. Tapi ternyata, setelah kami bertemu 50% gambaran saya runtuh. Hahaha! Tunggu, jangan salah paham dulu. Menurut saya dia manis, meski kurang cocok untuk image seorang playboy.

Siang itu kami asyik ngobrol berempat. Saya, Em, Mbak Yayas (kepala editor IBC), ditemani celetukan-celetukan Mas Bajang yang sedang sibuk memasak di dapur IBC. Em bercerita bagaimana perasaannya ketika naskah Catatan Mantan Playboy-nya saya corat coret tanpa ampun. Ia sempet mengatai saya galak, tentu saja dengan gaya bicaranya yang lucu dan cadel. Saya berulang kali tertawa mendengar ceritanya dan mengorek lebih dalam tentang pengalamannya menerbitkan buku di IBC. Em siang itu, sungguh mirip dengan tokoh Candra Gunawan di Catatan Mantan Playboy. Jujur dan apa adanya.

Mungkin saya tak sempat cerita banyak padanya siang itu. Bagaimana proses editorial bukunya dari sudut pandang saya. Jadi, untuk Em, simak ini baik-baik ya. Hehehe.

Halaman pertama naskah buku Em sejujurnya telah berhasil menarik perhatian saya. Bagi yang pernah sekolah, tentu akan tertarik dengan adegan-adegan awal di buku Em. Sambil mengingat masa sekolah yang menyenangkan, saya kemudian mulai mengedit naskahnya. Awalnya, tak banyak kesalahan saya temukan di naskahnya. Kalau pun ada kesalahan, biasanya hanya typo atau pilihan kata yang kurang tepat. Tapi semakin banyak halaman yang saya baca, semakin pening kepala saya dibuatnya. Ada begitu banyak kalimat yang struktur, maksud, dan logikanya tak jelas. Kadang dalam satu paragraf, ada beberapa kalimat yang entah dari mana asal-usulnya bisa menyempil tanpa rasa berdosa. Sebagai editor yang baik, tentu saja saya tak tinggal diam. Saya memberinya begitu banyak catatan, coretan, dan caci maki.  (*eum, yang terakhir sepertinya agak lebay) Kadang saya menyarankan kalimat-kalimat di naskahnya diganti seperti ini saja, atau seperti itu saja. Karena terlampau banyak catatan dari saya dan revisi yang harus dibuat Em, kami jadi sering berkorespondensi.

Meskipun saya sering uring-uringan ketika mengedit naskahnya, saya bersyukur Tri Em merupakan salah satu penulis muda yang ber-attitude baik. Ia tak pernah keberatan dengan catatan merah, kritik pedas, dan saran editornya. Ia selalu menerimanya, dan belajar memperbaikinya. Semua kerja keras dan ketekunan Em dalam proses penerbitan bukunya terbayar sudah. Kini Catatan Mantan Playboy tidak saja menjadi buku yang menarik untuk dibaca tetapi juga memiliki pesan mendalam untuk para pembacanya, khususnya anak muda.

Pada akhirnya, meskipun penutup saya akan terdengar klise. Tapi sungguh, percayalah, tak ada karya hebat tanpa proses yang panjang nan berliku. Jadi kawan, alih-alih terburu nafsu mengejar hasil yang maksimal, nikmatilah dan hargai setiap prosesnya. Bertekun dan bekerja keraslah untuk dapat memperoleh hasil yang terbaik. Mungkin kalian bisa mencontoh Em. J

Saya sudah cocok jadi motivator belum? Hahaha! Salam sukses selalu.



1 komentar:

Armadilo mengatakan...

haha bagus,tengok blog sebelah yah http://kata-gw.blogspot.com/